BERITASEMBILANCOM, Lhokseumawe| Salah satu pimpinan Pondok Pesantren berinisial AI (45) dan seorang guru berinisial MY (26) di Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, diringkus Polres Lhokseumawe lantaran telah melakukan pelecehan terhadap lima santrinya.

“Berdasarkan laporan orang tua santri pada 29 Juni 2019 dan 6 Juli 2019, dua laporan. Keduanya ditangkap karena melakukan pelecehan seksual terhadap lima santri di pesantren,” ungkap Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta, dalam konferensi pers di Lhokseumawe, Kamis 11 Juli 2019.

Menurutnya pelecehan itu berupa oral seks yang diminta pada santri oleh pimpinan dan guru pesantren tersebut. Mayoritas santri yang jadi korban adalah anak di bawah umur, berusia 13-14 tahun.

“Sejauh ini 15 santri yang teridentifikasi menjadi korban. Namun yang sudah diperiksa itu lima orang. Kita belum tau apa motifnya, tersangka sampai sekarang pun belum mengaku,” sebutnya.

Dia menjelaskan, pelecehan seksual itu terjadi sejak September 2018 hingga tersangka ditangkap tiga hari lalu. Dan kasus itu terungkap setelah seorang santri melapor peristiwa memalukan itu pada orangtuanya. Tidak terima atas tindakan pimpinan dan guru pesantren itu, orang tua langsung melapor ke Mapolres.

“Peristiwa itu terjadi di kamar pimpinan pesantren. Caranya, pimpinan meminta santri membersihkan kamar atau tidur di kamar pimpinan. Di sanalah peristiwa itu terjadi,” katanya.

Dia mengimbau seluruh orangtua santri melaporkan kasus itu jika anaknya menjadi korban.

“Kami imbau bagi keluarga santri, jika anaknya menjadi korban silakan lapor ke kita. Kasus ini terus kami dalami,” pungkasnya. [kom/red]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini