BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Ketua Program Studi Doktor (S3) Sosiologi Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM), Dr. Najamuddin, M.Hum menjadi salah satu pemakalah pada Simposium Internasional yang berlangsung di Wisma Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu-Kamis (3-4 Juni 2026).
Forum ilmiah antar bangs aini mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai negara tersebut, Najamuddin membawakan makalah berjudul “Kecerdasan Buatan, Agama Digital, dan Rekonfigurasi Religiusitas dalam Masyarakat Kontemporer”.
Makalah tersebut mengkaji transformasi religiusitas masyarakat di era digital yang ditandai oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), media sosial, serta sistem algoritmik yang semakin memengaruhi kehidupan sosial dan keagamaan.
Menurut Najamuddin, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola produksi dan distribusi pengetahuan keagamaan, termasuk pergeseran otoritas religius dari institusi formal menuju ruang digital yang lebih terbuka.
“Di Indonesia, fenomena ini dapat dilihat melalui meningkatnya penggunaan platform keagamaan digital serta aplikasi berbasis AI seperti ChatGPT dan Muslim Pro yang menjadi sumber rujukan masyarakat dalam memperoleh informasi dan panduan keagamaan,” ujarnya saat mempresentasikan makalahnya.
Dalam kajiannya, Najamuddin menjelaskan bahwa otoritas keagamaan saat ini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh lembaga atau tokoh agama formal. Otoritas tersebut semakin dipengaruhi oleh visibilitas media, interaksi daring, serta mediasi algoritmik yang mengatur distribusi informasi di ruang digital.
Meski demikian, ia menilai perkembangan teknologi digital juga menghadirkan sejumlah tantangan serius, mulai dari bias algoritmik, komodifikasi agama, fragmentasi otoritas keagamaan, hingga potensi melemahnya relasi sosial dan religius yang selama ini terbangun secara komunal.
“Perspektif sosiologi agama, perkembangan teknologi tidak membuat agama mengalami kemunduran. Yang terjadi adalah proses rekonfigurasi atau penyesuaian bentuk-bentuk keberagamaan melalui interaksi sosial yang semakin banyak dimediasi teknologi digital,” jelasnya.
Simposium internasional tersebut diselenggarakan melalui kerja sama sejumlah institusi, antara lain Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Perpustakaan Jakarta, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPUSIP), Institut Terjemahan dan Buku Malaysia (ITBM), serta berbagai lembaga akademik dan kebudayaan lainnya.
Forum ini menjadi wadah pertukaran gagasan dan hasil penelitian terkait perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, budaya, dan pendidikan dalam menghadapi dinamika masyarakat global di era digital.
Partisipasi Najamuddin dalam forum internasional tersebut sekaligus memperkuat kontribusi akademisi UNM dalam pengembangan kajian sosiologi kontemporer, khususnya terkait hubungan antara teknologi digital, kecerdasan buatan, dan transformasi kehidupan keagamaan masyarakat modern. ***


















