Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pendidikan

Kepala BRIN Prof Arif Satria Kuliah Tamu di Unismuh Makassar, Tekankan Inovasi Daerah dan Teori Pertumbuhan Endogen

×

Kepala BRIN Prof Arif Satria Kuliah Tamu di Unismuh Makassar, Tekankan Inovasi Daerah dan Teori Pertumbuhan Endogen

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Arif Satria, SP, M.Si  menegaskan pentingnya riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah saat menjadi pembicara pada kuliah tamu dan silaturahmi di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Senin pagi (8/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Senat Lantai 17 Gedung Iqra Unismuh Makassar itu mengangkat tema “Arah Kebijakan Riset Nasional dalam Mendukung Pembangunan Daerah yang Berdampak.”

Example 300x600

Hadir mendampingi Kepala BRIN, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Prof. Dr. Eng. Agus Haryono. Kuliah tamu dimoderatori oleh Wakil Rektor I, Prof Dr H Andi Syukri Syamsuri, M.Hum.

Turut hadir dalam kuliah tamu, Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sulsel, Prof Dr H Ambo Asse, M.Ag, Wakil Rektor II dan III dan IV, Dr. Hj Ihyani Malik, Sos, M.Si, Dr Mawardi Pewangi, M.Pd.I, Dr Burhanuddin, M.Si, para dekan dekan serta dosen penerima Hibah Bima Kemenristekdikti.

Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Kepala BRIN ke kampus yang dipimpinnya.

Dia juga melaporkan berbagai capaian internasional yang berhasil diraih Unismuh dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pengakuan dan pemeringkatan internasional yang menempatkan Unismuh sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Indonesia Timur.

Pada kuliah tamu tersebut, Prof Arif Satria menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi sedikitnya lima perubahan besar yang memengaruhi arah pembangunan global maupun nasional.

Perubahan pertama adalah perubahan iklim yang ditandai meningkatnya cuaca ekstrem, krisis lingkungan, serta kenaikan suhu bumi. Kedua, perubahan geopolitik yang ditandai meningkatnya ketegangan global, perubahan kebijakan antarnegara, hingga konflik regional.

Perubahan ketiga adalah krisis energi yang berkaitan dengan ketersediaan sumber daya, pasokan energi, serta tantangan transisi menuju energi baru dan terbarukan. Keempat adalah persoalan kemiskinan yang masih ditandai kesenjangan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan dasar, dan rendahnya tingkat kesejahteraan sebagian masyarakat.

Sementara perubahan kelima adalah percepatan perkembangan teknologi yang mencakup inovasi digital, otomatisasi industri, dan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

“Individu dapat berubah dengan cepat, tetapi perubahan dalam sebuah institusi tidak selalu mudah. Karena itu kemampuan beradaptasi terhadap perubahan menjadi kunci utama,” ujar Prof Arif Satria.

Dalam paparannya, ia juga mengulas Teori Pertumbuhan Endogen (Endogenous Growth Theory) yang dikembangkan oleh Paul Romer pada akhir 1980-an.

Menurutnya, teori tersebut menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh faktor eksternal, tetapi terutama oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam sistem ekonomi itu sendiri, seperti pengetahuan, inovasi, teknologi, pendidikan, dan investasi sumber daya manusia.

“Pengetahuan merupakan faktor produksi yang sangat penting karena dapat meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan,” jelasnya.

Prof Arif menjelaskan, berbeda dengan teori pertumbuhan neoklasik yang diperkenalkan oleh Robert Solow yang memandang kemajuan teknologi sebagai faktor eksternal, teori pertumbuhan endogen menempatkan teknologi sebagai hasil aktivitas ekonomi melalui riset, pendidikan, pengembangan, dan inovasi.

Ia menyebutkan terdapat empat asumsi utama dalam teori tersebut, yakni pengetahuan dan teknologi sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi, investasi pendidikan yang meningkatkan produktivitas tenaga kerja, inovasi yang menghasilkan pertumbuhan jangka panjang, serta kebijakan pemerintah yang mendukung pendidikan, riset, dan teknologi.

Pada kesempatan itu, Prof Arif Satria juga menyoroti tantangan bonus demografi Indonesia. Menurutnya, bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan pembangunan apabila didukung oleh inovasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ia mencontohkan keberhasilan sejumlah negara yang mampu melompat menjadi negara maju karena menjadikan inovasi sebagai fondasi pembangunan. Indonesia, kata dia, tidak dapat hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi harus membangun kekuatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Kalau hanya menjadi konsumen teknologi, kita akan tertinggal. Teknologi yang masuk harus dipelajari, dikembangkan, lalu melahirkan inovasi baru,” tegasnya.

Prof Arif juga mengingatkan pentingnya kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi dengan mencontohkan kegagalan sejumlah perusahaan besar dunia.

“Nokia pernah menjadi pemimpin pasar, tetapi gagal beradaptasi dengan perubahan inovasi. Kodak juga terjebak masa lalu. Jangan sampai demi mempertahankan masa lalu, kita mengorbankan masa depan,” ujarnya.

Ia menegaskan BRIN siap menjadi mitra strategis perguruan tinggi dalam membangun ekosistem riset dan inovasi nasional. Menurutnya, percepatan pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga riset.

Secara khusus, ia menilai perguruan tinggi di Sulawesi Selatan seperti Unismuh Makassar dan UMI, UNM dan Unhas  memiliki peran penting dalam mengorkestrasi inovasi daerah melalui penguatan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah daerah.

“BRIN ingin menjadi partner dalam membangun universitas berbasis inovasi. Perguruan tinggi harus menjadi pusat lahirnya solusi dan teknologi yang berdampak bagi pembangunan daerah,” tutup Prof Arif Satria, katanya. ***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *