BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Di tengah riuh Porsenijar PGRI Sulawesi Selatan 2026 di Kabupaten Sidrap, Nursalam, S.Pd., M.Si. terlihat sibuk dari satu arena ke arena lain. Wakil Ketua Panitia Porsenijar PGRI Sulsel 2026 itu tidak hanya mengurus jalannya lomba, tetapi juga ikut meredakan dinamika yang muncul di lapangan.
Porsenijar PGRI Sulsel berlangsung pada 2–6 Juli 2026. Kegiatan ini diawali defile yang dihadiri sekitar 75.000 guru dari seluruh Sulawesi Selatan. Selama beberapa hari, Sidrap menjadi titik temu para guru dari 24 kabupaten dan kota untuk mengikuti lomba olahraga, seni, dan pembelajaran.
Pada setiap kompetisi, Nursalam memahami, protes dan perbedaan pendapat kerap muncul. Ada peserta yang mengajukan keberatan kepada wasit. Ada pula yang menyampaikan komplain kepada panitia.
“Dinamika lapangan dalam pertandingan senantiasa hadir. Kadang ada peserta yang mengomplain wasit, panitia, dan sebagainya. Semua itu menjadi hal biasa dalam sebuah turnamen,” kata Nursalam di sela kegiatan Porsenijar, Sabtu 4 Juli 2026.
Namun, bagi pria yang akrab disapa “Abang Kumis” itu, setiap persoalan selalu bisa dicarikan jalan keluarnya. Kuncinya, kata dia, adalah dialog, kebersamaan, dan semangat persatuan sesama anggota PGRI.
“Walau dinamika kadang meninggi, dengan pendekatan dialog dan semangat kebersamaan, perbedaan itu dapat dicarikan solusi dan diterima oleh masing-masing pihak,” ujarnya.
Nursalam bukan sosok asing di dunia pendidikan Sulawesi Selatan, terutama di Kabupaten Luwu Timur. Ia lahir pada 6 Februari 1965 dari pasangan Abdul Halim B. dan Siti Haliah.
Berdarah Bugis-Toraja, Nursalam disebut sebagai generasi keenam dari We Guru Siduppa, ulama dari Pompanua, Kabupaten Bone, menyebarkan Islam di Tana Toraja pada 1826.
Masa kecil dihabiskan di Maramba, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu, yang kini masuk wilayah Luwu Timur. Ia tamat SD Maramba pada 1979, lalu melanjutkan pendidikan ke SMPN 1 Wotu sebelum pindah ke SMPN 1 Makale dan tamat pada 1982. Setelah itu, ia bersekolah di SMAN 276 Makale, kelas jauh Tondon Makale, dan tamat pada 1985.
Dari bangku sekolah, jiwa organisasinya sudah tampak. Ia pernah menjadi Wakil Ketua OSIS SMAN 276 Makale. Saat kuliah di IKIP Ujungpandang, ia aktif di Pramuka Dewan Racana, pers mahasiswa, dan bahkan menulis lepas di kolom opini Harian Fajar.
Ada sisi lain yang membuat cerita hidup Nursalam semakin berwarna. Pada 1985–1987, ia pernah menjadi atlet tinju amatir di sasana Kertago. Dari dunia tinju, ia belajar ketahanan mental dan sportivitas. Dua hal itu pula yang terasa dalam caranya mengelola dinamika organisasi.
Karier pendidikannya panjang. Nursalam pernah memimpin sejumlah sekolah di Luwu Timur, mulai dari SMPN 1 Kalaena Kiri, SMPN 1 Mangkutana, SMAN 8 Luwu Timur, SMAN 5 Luwu Timur, SMAN 4 Luwu Timur, hingga SMAN 9 Luwu Timur. Sejak 23 Agustus 2024, ia menjabat Kepala SMAN 2 Luwu Timur.
Lebih dari dua dekade menjadi kepala sekolah membuat Nursalam memahami kehidupan guru dari dekat. Ia tahu persoalan guru bukan hanya soal mengajar, tetapi juga perlindungan profesi, kesejahteraan, dan ruang konsolidasi organisasi.
Di PGRI, rekam jejaknya juga panjang. Ia pernah menjadi Ketua PGRI Cabang Mangkutana, kemudian Ketua PGRI Kabupaten Luwu Timur selama dua periode, 2009–2019. Setelah itu, ia masuk kepengurusan PGRI Sulsel pada Biro Organisasi dan Kaderisasi periode 2019–2024.
Kini, Nursalam mengemban amanah sebagai Wakil Ketua PGRI Provinsi Sulsel periode 2024–2029. Ia juga menjabat Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Luwu Timur periode 2018–2026 dan Bendahara Umum Forum Komunikasi Masyarakat Toraja di Luwu Timur.
Di antara jajaran pimpinan PGRI Sulsel, Nursalam disebut punya warna tersendiri. Ia menjadi satu-satunya guru aktif yang terpilih sebagai wakil ketua, di tengah pengurus lain yang banyak berlatar akademisi dan birokrasi.
Di tengah Porsenijar, Abang Kumis seperti memperlihatkan wajah lain dari organisasi guru. Bukan hanya lomba, medali, atau defile besar, melainkan juga kemampuan menjaga suasana agar tetap rukun.
Arena boleh riuh. Protes boleh datang. Namun, bagi Nursalam, semuanya harus kembali pada semangat yang sama: menjaga rumah besar guru.
“Hidup PGRI,” katanya.***


















