Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Sosok

Andi Husnaini, Guru Sastra dari Wajo yang Rebut Emas Lewat Ikrar Guru Indonesia

×

Andi Husnaini, Guru Sastra dari Wajo yang Rebut Emas Lewat Ikrar Guru Indonesia

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Sidrap. Bagi Andi Husnaini A. Patiroi, S.Pd., M.Pd., panggung bukanlah ruang yang asing. Sejak muda, ia telah akrab dengan dunia sastra, puisi, dan seni pertunjukan. Namun, panggung Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) PGRI Sulawesi Selatan 2026 di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) tetap memberi kesan tersendiri.

Di ajang tersebut, guru Bahasa Indonesia UPTD SMP Negeri 3 Sengkang, Kabupaten Wajo, ini berhasil meraih medali emas cabang lomba Pengucapan Ikrar Guru Indonesia. Prestasi itu sekaligus menjadi medali emas kedua bagi Kontingen PGRI Kabupaten Wajo.

Example 300x600

Andi Husnaini lahir di Sengkang, 6 Juli 1987. Ia menempuh pendidikan S1 pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Makassar, tahun 2005–2010. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan S2 pada Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar tahun 2014–2016.

Perjalanan seninya telah dimulai jauh sebelum ia berdiri sebagai guru di ruang kelas. Pada tahun 2007, Andi Husnaini pernah menjadi penyaji puisi pada Kongres Internasional Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan pertama.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2009, ia kembali menorehkan prestasi sebagai Penyaji Terbaik II pada ajang Festival Kala Monolog pertama. Kecintaannya pada sastra terus dirawat hingga pada tahun 2024 ia menerbitkan antologi puisi berjudul Pappaseng Sumange.

Di dunia pendidikan, Andi Husnaini mulai mengabdi sebagai guru Bahasa Indonesia pada tahun 2015 di Sulawesi Barat. Setelah beberapa tahun mengajar dan menimba pengalaman, ia kembali ke kampung halaman pada tahun 2023.

Kepulangannya ke Wajo bukan sekadar pulang secara geografis. Ia membawa semangat baru untuk terus berkontribusi dalam dunia pendidikan, bahasa, sastra, dan kebudayaan.

Bagi Andi Husnaini, menjadi guru Bahasa Indonesia bukan hanya mengajarkan tata bahasa, sastra, dan keterampilan berkomunikasi. Lebih dari itu, guru memiliki tanggung jawab menanamkan nilai, membangun karakter, serta menjaga warisan budaya melalui bahasa.

Karena itu, ketika tampil dalam lomba Pengucapan Ikrar Guru Indonesia, ia tidak sekadar menghafal naskah. Ia berusaha menghidupkan setiap kata, memberi jiwa pada setiap kalimat, dan menyampaikan pesan dengan penuh penghayatan.

“Alhamdulillah, saya mengucapkan syukur ke hadirat Allah SWT atas amanah dan prestasi ini. Meraih medali emas merupakan kebahagiaan sekaligus kebanggaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata,” ujar Andi Husnaini.

Ia meyakini keberhasilan itu bukan semata-mata karena usaha pribadi. Di balik medali emas tersebut, ada doa orang tua, dukungan keluarga, kepala sekolah, rekan-rekan guru, PGRI Kabupaten Wajo, serta pihak-pihak yang terus memberi semangat.

Ucapan terima kasih juga ia sampaikan kepada pelatih dan manajer ikrar guru PGRI Wajo, Hj. Rian Yulika, S.Pd.I, M.Pd yang dengan sabar membimbing, mengarahkan, dan memotivasi dirinya selama masa persiapan.

“Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga saya sampaikan kepada pelatih yang dengan penuh kesabaran membimbing, mengarahkan, dan memotivasi saya selama proses persiapan hingga mampu memberikan penampilan terbaik,” katanya.

Persiapan menuju lomba dilakukan secara rutin dan disiplin. Ia berlatih menguasai naskah, memperbaiki artikulasi, mengatur intonasi, menjaga tempo, memperkuat ekspresi, serta melatih penghayatan dan teknik pernapasan.

Setiap sesi latihan menjadi ruang evaluasi. Kekurangan diperbaiki sedikit demi sedikit. Baginya, tampil baik bukan hanya soal suara lantang, melainkan kemampuan menyampaikan pesan dengan utuh dan menyentuh.

“Dalam mempersiapkan lomba ini, saya menjalani latihan secara rutin dan disiplin bersama pelatih. Fokus latihan meliputi penguasaan naskah, artikulasi, intonasi, tempo, ekspresi, penghayatan, teknik pernapasan, serta penampilan di atas panggung,” jelasnya.

Selain persiapan teknis, Andi Husnaini juga menempatkan doa sebagai bagian penting dari perjuangan. Ia memohon restu orang tua dan keluarga agar diberi kesehatan, ketenangan, serta kelancaran saat tampil.

“Bagi saya, kerja keras, bimbingan pelatih, doa orang tua, dan tawakal kepada Allah SWT menjadi kunci utama dalam meraih hasil terbaik,” ujarnya.

Medali emas yang diraih Andi Husnaini menjadi bukti bahwa panggung guru tidak hanya berada di depan kelas. Guru juga dapat bersinar di ruang seni, budaya, dan kompetisi, membawa nama sekolah, daerah, serta organisasi profesi dengan penuh kebanggaan.

Dari Sengkang, Andi Husnaini menunjukkan bahwa kecintaan pada bahasa dan sastra dapat berjalan seiring dengan pengabdian sebagai pendidik. Melalui ikrar yang diucapkannya, ia tidak hanya meraih medali, tetapi juga menegaskan kembali martabat dan panggilan luhur seorang guru. (ernawati umar).

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *