Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Sosok

Muhajir Pagiling, Emas Catur untuk Bulukumba dan Persembahan Terakhir bagi Almarhum H. Mappasomba

×

Muhajir Pagiling, Emas Catur untuk Bulukumba dan Persembahan Terakhir bagi Almarhum H. Mappasomba

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Sidrap. Bagi Muhajir Pagiling, S.Pd., medali emas yang diraihnya pada Porsenijar PGRI Sulawesi Selatan 2026 di Sidrap 2-6 Juli 2026, bukan sekadar tanda kemenangan.

Kepada media Senin 6 Juli 2026, Muhajir katakan, di balik keping emas itu, ada rasa syukur, haru, kehilangan, dan penghormatan mendalam kepada sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan catur Bulukumba.

Example 300x600

Muhajir mempersembahkan medali emas tersebut untuk Kontingen PGRI Kabupaten Bulukumba.

Namun, secara khusus, kemenangan itu ia dedikasikan kepada Ketua Percasi Kabupaten Bulukumba, almarhum H. Mappasomba, yang berpulang ke rahmatullah tepat sehari sebelum pertandingan dimulai.

“Prestasi ini terasa sangat istimewa sekaligus mengharukan, karena menjadi persembahan khusus untuk Ketua Percasi Kabupaten Bulukumba yang tercinta, almarhum H. Mappasomba,” kata Muhajir.

Muhajir lahir di Ujung Pandang, 12 September 1982. Ia menempuh pendidikan Sarjana Pendidikan Agama Islam di STAI Al-Gazali Bulukumba.

Pengabdiannya di dunia pendidikan dimulai sejak tahun 2004. Pada 2004–2007, ia mengajar Pendidikan Agama Islam di TPA Al-Khatib. Sejak tahun 2008 hingga saat ini, Muhajir berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil dan mengajar di SD Negeri 11 Kalumeme.

Di sekolah, ia menjalani hari-harinya sebagai guru. Namun, di luar ruang kelas, Muhajir juga menekuni dunia catur, olahraga yang menuntut kesabaran, ketenangan, ketelitian, dan keberanian mengambil keputusan.

Pada Porsenijar PGRI Sulsel 2026 di Sidrap, Muhajir datang membawa nama PGRI Bulukumba. Lawan yang dihadapi bukan peserta biasa. Beberapa di antaranya merupakan pemain bergelar Master Nasional Catur, langganan peraih emas Porda, hingga peraih emas Porsenijar PGRI sebelumnya.

Muhajir sadar persaingan itu berat. Apalagi, ia mengaku tidak memiliki persiapan khusus menjelang kejuaraan. Sekitar satu bulan sebelum Porsenijar, waktunya banyak tersita oleh pekerjaan rumah yang bertepatan dengan jadwal latihan.

“Sebenarnya saya tidak memiliki persiapan yang matang atau latihan khusus menjelang kejuaraan ini. Waktu untuk berlatih sangat terbatas,” ujarnya.

Namun, keterbatasan latihan itu tidak membuatnya kehilangan semangat. Dukungan yang datang dari berbagai pihak menjadi energi tambahan baginya.

Muhajir menyebut kehadiran langsung Bupati Bulukumba dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bulukumba pada acara pembukaan bersama rombongan penggembira memberi dorongan moral yang besar bagi kontingen.

Dukungan juga datang dari Ketua PGRI Bulukumba dan rombongan yang hadir langsung ke arena pertandingan untuk menyemangati para peserta. Fasilitasi dan perhatian panitia Kabupaten Bulukumba turut menambah keyakinan para atlet untuk tampil maksimal.

“Dukungan dan doa yang kami terima membuat kami mampu berjuang hingga meraih kemenangan,” kata Muhajir.

Baginya, keberhasilan itu bukan hasil perjuangan pribadi semata. Ada doa keluarga, dukungan pengurus PGRI Bulukumba, pengurus Percasi Bulukumba, manajer, pelatih, serta rekan-rekan tim.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada kepala sekolah, rekan-rekan guru di SD Negeri 11 Kalumeme, serta guru umum dan guru Pendidikan Agama Islam se-Kabupaten Bulukumba yang terus memberi semangat.

“Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari dukungan tulus dan doa yang tak henti mengalir dari keluarga tercinta, jajaran pengurus PGRI Bulukumba, pengurus Percasi Bulukumba, manajer, pelatih, serta seluruh rekan tim,” ujarnya.

Namun, dari semua dukungan itu, ada satu pesan yang paling membekas di hati Muhajir. Hingga sehari sebelum wafat, almarhum H. Mappasomba masih sempat memberikan dukungan dan semangat kepada dirinya melalui pesan WhatsApp.

Pesan itu menjadi kenangan terakhir sekaligus penyulut semangat saat Muhajir duduk di papan catur, menghadapi lawan-lawan kuat, dan menjaga konsentrasi hingga akhir pertandingan.

“Emas ini adalah bukti rasa hormat dan kenang-kenangan abadi untuk almarhum H. Mappasomba. Hingga sehari sebelum berpulang, beliau masih sempat memberikan dukungan dan semangat kepada kami lewat pesan WhatsApp,” katanya.

Di arena catur, kemenangan sering ditentukan oleh kemampuan membaca langkah lawan. Namun bagi Muhajir, kemenangan di Sidrap juga lahir dari kekuatan doa, kebersamaan, dan rasa hormat kepada orang-orang yang telah memberi jalan.

Medali emas itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar prestasi olahraga. Ia menjadi persembahan seorang guru untuk daerahnya, untuk PGRI Bulukumba, untuk keluarga besar Percasi, dan untuk sosok yang tetap memberi semangat hingga akhir hayat.

“Semoga Allah SWT mengampuni segala kekurangan beliau, menerima segala amal ibadahnya, menganugerahkan husnul khatimah, serta menempatkan beliau di tempat yang paling mulia di sisi-Nya. Aamiin,” ujar Muhajir. (muhammad arif t). ***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *