BERITASEMBILAN.Com-Bandung. Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Ir. Tutun Juhana, S.T., M.T., IPU, menegaskan bahwa jaringan telekomunikasi bukan lagi sekadar media komunikasi, melainkan telah menjadi fondasi utama peradaban digital yang menopang hampir seluruh aktivitas masyarakat modern.
Hal tersebut disampaikan Prof. Tutun saat menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Orkestrasi Senyap Penopang Peradaban Digital” di Aula Barat ITB, Sabtu (11/7/2026).
Pada orasinya yang dikutip dari portal resmi itb.ac.id, Senin 13 Juli 2026, Prof. Tutun menjelaskan bahwa berbagai layanan digital yang kini dinikmati masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, industri, pemerintahan, riset, hiburan, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), bergantung pada kinerja jaringan telekomunikasi yang cepat, stabil, dan andal.
“Di balik transformasi digital yang membuat hidup kita lebih nyaman, terdapat fondasi yang bekerja nyaris tanpa terlihat, yaitu jaringan yang berkinerja sesuai harapan,” ujar Prof. Tutun.
Menurutnya, keberadaan jaringan telekomunikasi sering kali tidak disadari ketika berfungsi dengan baik. Namun, ketika terjadi gangguan, hampir seluruh aktivitas digital ikut terdampak.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan manusia untuk tetap terhubung telah mendorong perkembangan teknologi telekomunikasi selama berabad-abad, mulai dari penggunaan asap, kentongan, merpati pos, surat, telegraf, telepon, internet, Voice over Internet Protocol (VoIP), hingga jaringan seluler generasi kelima (5G) yang kini berkembang menuju teknologi 6G.
“Jaringan telah berevolusi dari media komunikasi menjadi fondasi kehidupan digital modern,” katanya.
Prof. Tutun mengatakan, rekayasa kinerja jaringan tidak lagi sekadar memastikan koneksi tersedia, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kapasitas jaringan, beban trafik, mutu layanan, dan efisiensi sumber daya.
Karena itu, seorang network engineer dituntut mampu menganalisis, merencanakan, dan mengoptimalkan jaringan agar layanan tetap cepat, stabil, andal, serta mampu memenuhi kebutuhan pengguna yang terus meningkat.
“Seorang network engineer tidak cukup hanya memantau jaringan. Ia harus menganalisis, merencanakan, dan mengoptimasi agar layanan tetap cepat, stabil, andal, dan siap melayani,” ujarnya.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi seperti Software Defined Networking (SDN), Network Function Virtualization (NFV), cloud native, 5G, hingga 6G membuat pengelolaan jaringan semakin kompleks.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pengelolaan jaringan kini memanfaatkan telemetri, analitik, observability, network slicing, dan kecerdasan buatan guna mendeteksi anomali, memprediksi gangguan, hingga melakukan optimasi secara otomatis.
“Operasi jaringan telah bergeser dari pendekatan reaktif menjadi prediktif,” katanya.
Meski demikian, Prof. Tutun menegaskan bahwa kecerdasan buatan tidak akan menggantikan peran insinyur jaringan.
“Keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. AI memperkuat rekayasa jaringan, bukan menggantikan engineering judgment,” tegasnya.
Menurut Prof. Tutun, jaringan telekomunikasi masa depan harus mampu memahami konteks layanan, beradaptasi terhadap kebutuhan pengguna, serta mengintegrasikan jaringan darat, satelit, dan platform udara sehingga menghadirkan konektivitas yang lebih luas.
“Jaringan masa depan harus cepat, cerdas, berkelanjutan, dan terpercaya sebagai fondasi peradaban digital berikutnya,” ujarnya.
Dalam konteks Indonesia, ia menilai telekomunikasi memiliki peran strategis sebagai kapabilitas nasional untuk menghubungkan wilayah perkotaan hingga daerah terpencil.
Tantangannya bukan hanya menghadirkan sinyal, tetapi memastikan masyarakat memperoleh layanan digital yang berkualitas.
“Telekomunikasi harus menjadi kapabilitas nasional, bukan hanya infrastruktur,” katanya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Indonesia perlu memperkuat standar pengukuran kualitas jaringan, optimasi jaringan, otomatisasi berbasis AI, tata kelola, pembiayaan, serta pengembangan talenta di bidang telekomunikasi.
“Menjaga digital Indonesia berarti memastikan jaringan bekerja untuk seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.
Profil Singkat
Prof. Dr. Ir. Tutun Juhana, S.T., M.T., IPU merupakan Guru Besar bidang Teknik Telekomunikasi di STEI ITB. Lahir di Sumedang pada 12 Februari 1969, ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Elektro (1995), Magister Teknik Elektro (1999), dan Doktor Teknik Elektro dan Informatika (2011) di ITB, serta Program Profesi Insinyur pada 2020.
Sebelum dikukuhkan sebagai Guru Besar pada 1 Juni 2025, Prof. Tutun pernah menjabat Ketua Program Studi Sarjana Teknik Telekomunikasi (2018–2020) dan sejak 2020 dipercaya sebagai Dekan STEI ITB.
Bidang penelitiannya meliputi jaringan telekomunikasi, kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), komunikasi kendaraan, jaringan LoRa, sistem tanggap bencana, keamanan jaringan, hingga pemantauan kesehatan berbasis teknologi digital.
Atas kontribusinya di bidang pendidikan dan penelitian, Prof. Tutun telah menerima sejumlah penghargaan, di antaranya Satyalancana Karya Satya 10 Tahun (2013), Satyalancana Karya Satya 20 Tahun (2019), Penghargaan 25 Tahun Pengabdian ITB (2022), serta Ganesa Wira Adiutama dari Rektor ITB pada 2025.***


















