Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pendidikan

Kuliah Umum di Unismuh, Ketua LPCR-PM Muhammadiyah Paparkan Strategi Penguatan Masjid

×

Kuliah Umum di Unismuh, Ketua LPCR-PM Muhammadiyah Paparkan Strategi Penguatan Masjid

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, K.H. Muhammad Jamaluddin Ahmad, menegaskan bahwa penguatan cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah merupakan jawaban strategis atas berbagai problem sosial dan moral yang kian mengemuka, termasuk di lingkungan kampus.

Penegasan itu disampaikan Jamaluddin saat memberikan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Jumat (19/12/2025), di Balai Sidang Kampus Unismuh Makassar.

Example 300x600

Menurut Jamaluddin, melemahnya basis cabang, ranting, dan masjid berbanding lurus dengan meningkatnya persoalan sosial, seperti perundungan, diskriminasi, hingga tindakan amoral di dunia pendidikan.

“Saya pernah diminta mengisi materi kampus bebas perundungan dan diskriminasi. Setelah saya buka data-datanya, kondisinya mengerikan, dan itu bukan hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga dosen dan pejabat,” ungkapnya di hadapan civitas akademika.

Ia menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui regulasi administratif atau pendekatan hukuman semata. Masjid, cabang, dan ranting harus dikembalikan pada fungsi utamanya sebagai ruang pembinaan nilai, etika, dan spiritualitas yang hidup serta berdaya.

“Karena itu, cabang, ranting, dan masjid harus menjadi solusi terhadap persoalan umat, termasuk problem moral di kampus,” tegas Jamaluddin.

Dalam paparannya, Jamaluddin juga mengingatkan warga persyarikatan agar tidak terjebak pada kebiasaan “mencari alasan” atau defense mechanism. Menurutnya, sikap tersebut hanya menguras energi organisasi dan menghambat upaya pembenahan kualitas cabang dan masjid.

Sebagai contoh praktik baik, ia menyebut Masjid Al-Jihad Pimpinan Cabang Muhammadiyah Banjarmasin 04 yang memiliki jamaah salat lima waktu berkisar 800 hingga 1.000 orang. Capaian itu, kata dia, bukan sesuatu yang mustahil direplikasi di Makassar selama masjid dikelola secara serius dan profesional.

Jamaluddin juga menekankan pentingnya pelibatan anak muda dalam penguatan masjid. Ia mencontohkan konsep “Real Masjid” yang dikelola sepenuhnya oleh anak muda, sekaligus memperluas makna marbot tidak hanya sebagai petugas kebersihan, tetapi juga sebagai direktur dan manajer masjid.

“Direktur masjid itu marbot,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, Real Masjid di Yogyakarta memiliki sekitar 90 marbot yang digaji, dengan capaian infak yang pernah menembus lebih dari Rp 1 miliar dalam sebulan. Hal itu, menurutnya, ditopang oleh pengelolaan profesional, digital marketing, dan sistem fundraising yang kuat.

Dalam konteks penguatan kapasitas, Jamaluddin menyinggung keberadaan Program Magister (S2) Manajemen Masjid di Unismuh Makassar sebagai langkah strategis menjawab kebutuhan tata kelola masjid yang berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya skema pembagian hak marbot dan amil dari infak sebagai bagian dari pengelolaan yang adil dan profesional.

Bagi Jamaluddin, persoalan utama penguatan masjid bukan terletak pada struktur kelembagaan, melainkan pada orientasi gerakan. Ia menegaskan bahwa tugas pokok warga persyarikatan adalah memakmurkan masjid.

“Profesi lain itu tambahan. Prioritasnya pengajian rutin dan masjid yang makmur,” katanya.

Ajakan tersebut ia sampaikan secara simbolik dengan menyatakan “malulah” jika tidak menjadi pengurus cabang, ranting, dan masjid. Sebaliknya, ia mengajak warga Muhammadiyah bersyukur jika diberi amanah menjadi pengurus cabang-ranting dan marbot masjid, dengan target cabang dan ranting unggul serta berkemajuan, serta masjid yang makmur dan memakmurkan.

Untuk menarik minat generasi muda, Jamaluddin juga mengungkap rencana peluncuran lagu bertema masjid pada awal hingga pertengahan Januari 2026. Kata “mahasiswa” sengaja dimasukkan agar mahasiswa merasa dekat dan bangga terlibat dalam pengelolaan masjid.

Pada kesempatan yang sama, ia memaparkan delapan prioritas program LPCR-PM, di antaranya target “60 kecamatan ada cabang” dan “40 persen desa ada ranting”, serta pengembangan masjid percontohan di berbagai level kepemimpinan Muhammadiyah.

Ia menutup kuliah umum tersebut dengan seruan yang berulang kali ia tekankan, “Masjid makmur, memakmurkan. Dari masjid, kita bangkit. Masjid, apa pun masalahnya, masjid solusinya.”

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *