BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Banyak artikel ilmiah gagal terbit dan kenaikan jabatan fungsional dosen tertunda, bukan karena kualitas riset yang lemah, melainkan akibat kesalahan menafsirkan angka similarity dari aplikasi pendeteksi kemiripan teks.
Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam webinar nasional yang digelar CEDDI Academy bertajuk “Memahami Similarity: Menggunakan Turnitin Secara Proporsional”, Kamis (23/1/2026), secara daring melalui Zoom Meeting, di bawah naungan Yayasan Cendekiawan Inovasi Digital Indonesia (CEDDI).
Webinar tersebut diinisiasi sebagai respons atas praktik evaluasi akademik yang dinilai kian bergeser dari penilaian berbasis substansi ilmiah menuju penilaian berbasis angka semata. Peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, mulai dari dosen, peneliti, operator kampus, hingga pimpinan dan pengambil kebijakan akademik.
President Founder Yayasan Cendekiawan Inovasi Digital Indonesia dalam sambutannya menegaskan bahwa penggunaan alat ukur tanpa nalar akademik berpotensi menghilangkan esensi keilmuan.
“Turnitin adalah alat bantu, bukan penentu kebenaran akademik. Ketika angka similarity dijadikan vonis tunggal, kita sedang menggantikan nalar akademik dengan algoritma,” tegasnya.
Similarity Bukan Penentu Plagiarisme
Webinar ini menghadirkan Dr. Dasapta Erwin Irawan, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus Wakil Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, sebagai narasumber utama.
Dalam paparannya, Dr. Dasapta menekankan bahwa plagiarisme merupakan persoalan etika, sedangkan similarity hanyalah indikator awal yang harus dibaca secara kritis dan kontekstual.
“Turnitin bukan satu-satunya aplikasi pendeteksi kemiripan teks, dan tentu bukan alat untuk memutuskan plagiarisme. Ia hanya memberikan sinyal, bukan kesimpulan,” ujarnya.
Menurutnya, kesalahan tafsir similarity, terutama di tingkat pengambil kebijakan, berdampak langsung pada keadilan akademik.
“Yang dirugikan bukan sistem, melainkan manusia—para penulis dan dosen. Artikel ditolak, jabatan tertunda, dan kepercayaan terhadap sistem akademik ikut tergerus,” ungkapnya.
Dari Kesalahan Teknis ke Ketidakadilan Sistemik
Dr. Dasapta juga menyoroti praktik penilaian yang terlalu mekanistik, termasuk perlakuan berlebihan terhadap bagian-bagian non-substansial karya ilmiah.
“Bagian seperti ucapan terima kasih pun bisa dianggap plagiarisme. Ini keliru. Ucapan terima kasih bukan bagian dari kebaruan ilmiah dan tidak mungkin setiap orang harus menciptakan redaksi baru hanya untuk menyampaikan apresiasi,” tegasnya.
Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan pergeseran berbahaya dalam tata kelola akademik, dari budaya berpikir kritis menuju kepatuhan algoritmik, di mana keputusan ilmiah lebih ditentukan oleh sistem dibandingkan pertimbangan akademik.
Pesan untuk Pimpinan Perguruan Tinggi
Menutup sesi, Dr. Dasapta menyampaikan pesan reflektif kepada pimpinan perguruan tinggi dan pengambil kebijakan.
“Jika suatu saat Bapak dan Ibu menjadi pimpinan, jangan mengulangi kesalahan yang sama. Jangan menyerahkan keputusan akademik sepenuhnya pada angka dan sistem,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa dosen dianugerahi kemampuan berpikir kritis yang tidak boleh dikalahkan oleh algoritma.
“Jika dosen berhenti berpikir kritis dan hanya tunduk pada angka, maka ruh akademik itu sendiri akan hilang,” pungkasnya.
Edukasi, Bukan Mengakali Sistem
CEDDI Academy menegaskan bahwa kegiatan ini tidak bertujuan mengakali Turnitin, melainkan mengembalikan nalar akademik sebagai dasar utama pengambilan keputusan ilmiah dan kebijakan pendidikan tinggi.
Webinar ini dirancang bagi anggota senat akademik, rektor dan wakil rektor, tim penilai jabatan fungsional dosen, dosen pengusul artikel ilmiah, serta operator dan administrator perguruan tinggi.
Melalui kegiatan ini, CEDDI Academy menegaskan perannya sebagai pusat pendidikan, pelatihan, dan research capacity building yang berkomitmen menjaga keadilan, integritas, dan martabat akademik dalam tata kelola pendidikan tinggi di Indonesia.


















