Oleh: Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin
BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Saya mendapat koreksian dari seorang pembaca, bahwa bona fide itu tumbuh bukan hanya dari internal, tapi karena pengaruh eksternal. Bona fide itu bukan murni dibentuk oleh kemauan diri, tetapi dari lingkungan yang mengitari atau sistem yang sudah terbentuk.
Menurutnya, orang sebenarnya memiliki fitrah untuk beritikad baik, berpikir positif, dan berprilaku terpuji. Namun, secara berproses mereka mengalami erosi moral bila lingkungan kehidupannya mengarahkannya pada pikiran-pikiran jahat.
Orang yang tumbuh pada praktek ketidakadilan akan berproses menjadi peragu pada setiap ikhitar untuk menegakkan sistem sosial yang adil. Bahkan menurutnya, orang bisa tumbuh menjadi penyokong praktek ketidakadilan itu. Jadi menurutnya, bona fide itu perlu pengkondisian. Kepercayaan itu muncul dari budaya yang saling mempercayai.
Jadi menurutnya, bona fide itu bukan fenomena jiwa yang berdiri sendiri. Ia dibentuk oleh proses sosial yang merasuk menjadi kesadaran bersama. Bila seseorang memiliki kecenderungan untuk beritikad baik pada setiap urusan kehidupan, hampir pasti orang itu tumbuh dalam didikan yang pro pada bona fide.
Jadi menurut teman pembaca, bona fide itu bukan fenomena hati yang bisa terbolak-balik, hari ini berniat baik namun besok berniat buruk. Bukan tergantung dari celah untuk mempraktekkan salah satu di antara keduanya. Sekali orang memiliki tradisi bona fide, maka dia akan meneropong berbagai masalah yang berada di depannya dengan perspektif yang selalu positif.
Saya cukup terpikat dari argumentasi teman pembaca tersebut. Saya akhirnya mencoba menggambar tentang anatomi itikad baik. Jiwa yang beritikad baik itu tidak tercipta dari ruang kosong. Ia dituntun oleh jiwa-jiwa yang selalu berangkat dari niat baik dalam berbuat.
Jiwanya bukan dikotakkan pada cara pandang untung rugi. Dia terlatih berbuat tanpa pamrih. Puncaknya, surga pun dia tidak berani targetkan sekiranya itu balasan atas kesalehannya. Takut rida Tuhan tercederai.
Keren yah! Yang tidak keren adalah saya. Selalu menagih janji Tuhan bahwa kalau meminta, pasti dikabulkan. Akhirnya minta melulu, komak kamik dengan doa-doa panjang. Padahal tugas penghambaan masih sangat elementer. Saya terkadang malu juga, bahkan cenderung malu-maluin.***
















