BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Unit Sustainable Waste Solution Center (SWSC) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar pelatihan pengelolaan limbah dapur menjadi kompos di Bank Sampah Unismuh Makassar. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk mendorong pengelolaan sampah organik sejak dari sumbernya.
Peserta pelatihan terdiri dari mahasiswa Unismuh Makassar yang dipersiapkan untuk menjadi Eco Ranger, agen perubahan lingkungan yang bertugas untuk mengedukasi, mengajak, mendampingi, dan mendorong warga kampus agar lebih peduli terhadap isu lingkungan.
Kepala Pusat SWSC Unismuh Makassar, Dr. Hj. Fatmawati Andi Mappasere, M.Si., menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan kontribusi kampus dalam memberikan solusi praktis terhadap persoalan sampah organik. Menurutnya, limbah dapur yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga maupun kantin kampus masih memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan jika dikelola dengan baik.
“Pengolahan limbah dapur menjadi kompos adalah langkah sederhana yang dapat mengurangi volume sampah organik. Ini juga merupakan bagian dari upaya membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah,” ujarnya.
Sebelum mengikuti materi pelatihan, peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal mereka mengenai pengelolaan limbah dapur dan proses pembuatan kompos.
Pelatihan dimulai dengan materi dari Prof. Dr. Syamsiah, M.Si., Guru Besar Fakultas Pertanian Unismuh Makassar sekaligus Penasehat SWSC. Prof. Syamsiah memberikan penjelasan mengenai cara pembuatan kompos dari limbah dapur, mulai dari pemilahan bahan organik, pencacahan, pencampuran bahan, pengaturan kelembapan, hingga proses fermentasi.
“Sisa sayuran, kulit buah, dan limbah dapur lainnya tidak perlu langsung dibuang. Jika dikelola dengan baik, limbah tersebut bisa diolah menjadi kompos yang bermanfaat untuk tanaman,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan limbah secara berkelanjutan, tidak hanya saat pelatihan, tetapi juga sebagai kebiasaan sehari-hari.
Materi selanjutnya disampaikan oleh Sahlan, S.Pd., M.Si., Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Unismuh Makassar, yang membahas analisis ekonomi pengolahan limbah dapur menjadi kompos. Sahlan, yang juga menjabat sebagai Divisi Operasional dan Tata Kelola Limbah SWSC, menyatakan bahwa limbah dapur harus dipandang sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan. Kompos yang dihasilkan dapat digunakan untuk penghijauan, tanaman pekarangan, hingga pertanian skala kecil.
“Pengolahan limbah dapur menjadi kompos tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat,” ujarnya.
Pada sesi terakhir, Wardah, S.Sos., M.A., Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unismuh Makassar, yang juga menjabat sebagai Divisi Edukasi dan Advokasi Lingkungan SWSC, memberikan penguatan dari sisi edukasi dan advokasi lingkungan. Wardah menekankan pentingnya komunikasi lingkungan dalam membangun perubahan perilaku, dan bahwa pengelolaan sampah harus dilakukan dengan lebih dari sekadar menyediakan fasilitas. Kesadaran untuk memilah sampah dan kemauan untuk mengajak orang lain juga perlu dibangun secara terus-menerus.
“Eco Ranger memiliki peran penting dalam gerakan lingkungan di kampus. Mereka tidak hanya dilatih membuat kompos, tetapi juga diarahkan untuk menjadi pendamping dan penggerak bagi warga kampus agar mulai memilah sampah dari sumbernya,” kata Wardah.
Kegiatan ini ditutup dengan post-test untuk melihat peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian materi. Melalui pelatihan ini, SWSC Unismuh Makassar berharap mahasiswa Eco Ranger dapat menjadi penggerak budaya memilah sampah dan mengolah limbah organik menjadi kompos di lingkungan kampus.


















