Oleh:
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin
Salah satu berkah Ramadan yang saya rasakan adalah menikmati sajian ceramah dari para Da’i inspiratif di Masjid kompleks saya. Yang paling saya nikmati adalah ceramah salah seorang kawan dokter spesialis tentang esensi stres dan peran puasa dalam mengelola stres.
Meskipun ceramahnya mengandung banyak istilah teknis, dan selayaknya saya harus membawa buku catatan, tetapi pesan ceramahnya tetap mudah untuk ditangkap.
Ternyata berbicara tentang stres bukan hanya mengarah pada hal negatif, tetapi ada yang stres positif. Yang kita pahami secara umum, bahwa stres itu selalu berdampak negatif. Ustad dokter ini betul menjelaskan bahwa stres negatif bisa merusak seluruh sendi tubuh dan bahkan mematikan.
Namun stres positif itu kalau terkelola bisa membawa perubahan dan kemajuan. Pak dokter contohkan bahwa dirinya saat diminta untuk ceramah, itu mengakibatkan dirinya stres karena itu bukan profesinya.
Tapi stres itulah yang mendorong dirinya melakukan aktifitas positif; membaca buku tentang stres, latihan ceramah, mencari referensi tentang ceramah yang baik, mencari dalil tentang stres. Termasuk mencari cerita lucu yang terkait dengan stres.
Ternyata menurut pak dokter, ekspresi berlebihan tentang pencapaian itu juga stres positif. Misalnya, seorang striker memasukkan bola, lalu melakukan gerakan atraktif itu juga karena efek stres positif.
Pak dokter mengaitkan bahwa fungsi puasa adalah untuk mengontrol laju stres negatif. Sumbangsi nyata puasa adalah amaliyah yang dilakukan berkontribusi langsung terhadap perenggangan saraf-saraf yang bisa mengontrol stres.
Pak dokter menutup dengan sebuah cerita yang dialaminya, bahwa ada temannya yang datang konsultasi karena stres berat. Pak dokter mengatakan bahwa dia bukan dokter yang tepat karena bukan ahli jiwa.
Ditunjuklah temannya yang ahli jiwa. Singkatnya, temannya diminta mengatakan dengan lantang setiap saat di depan cermin, tiga kalimat singkat: saya sehat, saya tenang, saya kuat. Setelah beberapa lama, temannya menemui kembali ahli jiwa, dan ditanya kondisinya. Dengan lantang dia jawab: saya sehat, saya tenang, saya kuat.
Dokter ahli jiwa mengatakan, syukurlah. Dan temannya itu menyela dokter bahwa ada masalah baru yang lebih besar terjadi. Isteri dan anak-anaknya semua stres berat sekarang di rumah karena bingung dengan perilakunya berbicara sendiri siang malam di depan cermin.
Pak Ustad dokter hentikan tiba-tiba ceramahnya, tanpa uraian tentang jalan keluar yang terjadi dengan keluarga temannya yang stres berat. Rupanya banyak jamaah yang jadi stres, mendengar ceramah yang diakhiri dan sengaja tidak dituntaskan. Anda juga ikut stres? Mungkin inilah yang disebut “stress cycle.”. ***














