Oleh:
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin
Kita sedikit bergeser menyoroti esensi sebuah predikat atau profesi. Kita mengugah mereka yang dilekatkan predikat mulia. Predikat yang disinyalir oleh kitab suci sebagai yang mendapatkan kemuliaan, ketinggian derat, mereka yang berilmu pengetahuan atau ilmuwan.
Mengapa ilmuwan itu disematkan derajat yang tinggi? Untuk menjadi agamawan yang baik terlebih dahulu menjadi ilmuwan. Orang yang mengilmui kehidupan itulah orang yang akan memaknai keberagamaannya. Kehidupannya akan bermanfaat, istilahnya sekarang, berdampak. Ilmuwan itulah yang akan menuai pahala berlipat, dan seterusnya menjadi amal jariyah tanpa henti.
Ilmuwan sejati itu ibarat penyala lampu di lorong-lorong kegelapan. Setiap penemuannya berarti satu lampu di lorong panjang itu dinyalakan. Kehidupan yang berada di persimpangan jalan, situasi yang berstatus ketidakpastian itu diatasi dengan kehadiran ilmuwan. Jadi sesungguhnya Ilmuwan itu menjadikan dirinya kompas kehidupan.
Ilmuwan menjaga bahwa kehidupan itu tidak dibangun dari ilusi. Ilmuwan-lah yang memastikan bahwa peradaban itu harus dibangun secara faktual bukan dengan angan-angan atau halusinasi. Oleh ilmuwan, peradaban itu harus bernilai, peradaban yang mencirikan supermasi akal.
Itulah sebabnya ilmuwan itu adalah juga penjaga akal sehat. Bagi ilmuwan, fanatisme berlebihan atau taklid buta, mematikan kreatifitas akal. Bagi ilmuwan, kepanikan atau ketakutan terhadap situasi memblok berfungsinya kreatifitas berpikir. Akal sehat adalah peralatan terpenting bagi ilmuwan untuk berselancar, menjelajah, atau bereksplorasi.
Berbeda dengan pendaki gunung atau nakhoda kapal, ilmuwan itu adalah penjelajah tanpa peta. Karena tugasnya adalah menggambar peta baru. Kita semua hadir sebagai penikmat peta jalan kehidupan yang telah dirintis para ilmuwan.
Bukan seperti cerita seorang guru yang mengajarkan peta dunia pada murid-muridnya. Guru itu meminta seorang murid bernama Ahmad untuk menunjuk benua Amerika. Dan tunjukan Ahmad betul adanya. Lalu guru melanjutkan pertanyannya. “Anak-anakku, siapa yang menemukan benua Amerika? Serempak, anak-anak menjawab: “Ahmad, Bu Guru.”
Ahmad sedang berproses panjang untuk menjadi ilmuwan. Dia sudah mulai menemukan benda yang sudah ada. Sementara Ilmuwan menemukan benda yang dianggap oleh kebanyakan manusia belum ada. Beda kalau yang suka menemukan uang di kantong-kantong atau di tempat penyimpanan rahasia yang dipunyai suami, itulah yang berpotensi disebut ilmuwan, karena mirip kerja-kerja Arkeolog. Ada yang merasa?.***














