Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini Buku

Bona Fide (25): Setiap Orang Berguna

×

Bona Fide (25): Setiap Orang Berguna

Share this article
Example 468x60

Oleh:

Hamdan Juhannis

Example 300x600

Rektor UIN Alauddin

Menteri Agama pada masanya, Kyai Lukman Hakim Saifuddin yang sering dipanggil Pak LHS, mengirimkan saya ramuan kalimat yang sangat menginspirasi. Deretan ungkapan beliau sekaligus menjadi respons tidak langsung dari coretan saya sebelumnya, “Adakah orang Jahat?” Ungkapan Pak LHS inilah yang saya coba ulas, tentu sependek pengetahuan atau selemah ingatan saya.

Pak LHS menulis, “agama tidak pernah mengajarkan kita untuk menghina seseorang.” Kalimat Pak LHS sejatinya menjadi keyakinan bersama karena didasari oleh pandangan faktual. Itulah Pak LHS melanjutkannya, “bahwa sesungguhnya tak ada satu orang-pun yang tak berguna.”

Bahasa Pak LHS itu tentu sangat menusuk karena terkadang kalimat di atas itu sering lepas dari pandangan setiap orang, bahkan sering tidak menjadi kesadaran bersama (collective awareness). Tonjokan pak LHS terasa sangat mengena karena bila itu menjadi kesadaran bersama, maka cara pandang orang terhadap lainnya cenderung konstruktif. Kalimat Pak LHS itu bisa disejajarkan dengan ungkapan lain, bahwa setiap orang adalah inspirasi.

Lalu Pak LHS melanjutkan kalimatnya dengan mem”break down” maksud dari belahan kalimat “setiap orang pasti berguna.” Pak LHS menulis  “orang mulia memberi kenangan dan teladan.”  Ungkapan ini sejalan dengan fakta pada sudut-sudut hati setiap orang bagaimana kemulian lakon itu menjadi kenangan yang tak pernah sirna. Itulah esensi kebermanfaatan kemanusiaan. Artinya bila ingin hidup ini berdampak, keteladanan adalah kuncinya.

Pak LHS melanjutkan lagi kalimat singkatnya yang mengena, “orang baik memberi kebahagiaan.” Rupanya pak LHS membedakan antara orang mulia dan orang baik. Perbedaan ini mungkin dari sisi level kebaikan. Mungkin orang mulia itu merujuk pada sosok seperti nabi atau orang-orang suci yang sudah selesai hidupnya yang sering disebut “the saints”. Mereka ini menjadi pembawa obor cahaya bagi manusia. Namun orang baik yang dimaksud adalah manusia kebanyakan yang bisa membahagiakan orang di sekitar.

Pak LHS lebih tajam lagi tusukannya, “orang buruk memberi pengalaman”. Betul, sisi keburukan seseorang itu bisa menjadi pengalaman berharga dalam hidup. Contohnya kalau ada kawan yang pernah menipu kita, itu sangat berguna sebagai pengalaman berharga untuk berhati-hati berinteraksi dengannya dan dengan orang yang sejenisnya.

Pak LHS menutup tautannya dengan kalimat yang lebih menembus, “orang buruk memberi kita pelajaran.” Pak LHS ingin mengatakan bahwa pelajaran adalah tingkatan berikut dari pengalaman. Karena pengalaman belum tentu memberi pelajaran. Pelajaran adalah pengalaman yang berdampak.

Pertanyaan kemudian, meskipun seseorang yang terkelompok pada perilaku keburukan tetap berguna,  lantas kita masih tetap perlu berteman? Menurut saya tidak perlu. Yang perlu adalah berinteraksi. Bagaimana keburukannya bisa berguna menjadi pelajaran tanpa interaksi dengan mereka?

Disinilah letaknya problema sosial masyarakat kita. Mereka yang distigma dalam keburukan, sering tercampakkan dari kesadaran bersama kita. Menurut anda, mereka yang menjadi penjahat karena pilihan atau keterpaksaan? Silakan memilih jawaban, asal jangan merasa terpaksa yah!

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *