Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini Buku

Bona Fide (7): Teori Niat Baik Pengemis

×

Bona Fide (7): Teori Niat Baik Pengemis

Share this article
Example 468x60

Oleh:

Hamdan Juhannis

Example 300x600

Rektor UIN Alauddin

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Ada cerita yang sering saya bagi  di berbagai tempat berkumpul. Seorang mahasiswa melintas di depan seorang pengemis. Pengemis itu dengan sangat mengharap, memelas kepada anak itu untuk diberikan uang, seberapa saja.

Mahasiswa itu terketuk hatinya. Dia cek dompetnya, uangnya tinggal 10 ribu rupiah. Sementara dia juga butuh. Dia putuskan memberikannya dan meminta kembalian 5000. Pengemis itu mengambil uang itu, tapi yang dikembalikan jumlahnya 7000. Mahasiswa itu kaget dan bertanya kenapa kembaliannya lebih 2000. Pengemis itu berkata, saya sedekahkan 2000 itu untuk kamu.

Saya suka mengambil cerita ini sebagai pembuka ulasan bahwa ternyata itikad baik itu bisa lahir dari siapa saja. Itikad baik itu adalah perangkat diri yang sudah menjadi bawaan (built-in) pada setiap orang. Itikad baik itu hanya butuh dibiasakan supaya tidak terselimuti oleh pengaruh buruk.

Mahasiswa itu dengan keterbatasannya bisa menderma karena kekuatan itikad baik. Dia tidak terpengaruh oleh himpitan ekonomi untuk berbuat baik. Dia melihat pemberian itu bukan dari kuantita uang tapi kualita hati.

Mahasiswa itu pasti tidak pelit. Sekiranya mahasiswa itu sudah menjadi orang berduit, pasti dirinya akan tumbuh menjadi pribadi dermawan. Dia pasti sudah menjadi sosok yang sudah terlatih untuk berbagi.

Bagaimana dengan pengemis? Saya menyebutnya pengemis fenomenal. Dia bisa menjadi pemberi saat profesinya adalah peminta. Dia suka meminta tapi dia juga paham arti memberi. Dia memahami realitas hidup si mahasiswa, karenanya meskipun dia meminta dia harus juga berbuat sesuatu.

Dia lebih dari sekadar memberikan uang kembalian. Tapi dia memberikan sesuatu yang sah menjadi miliknya. Jadi dia memaknai bahwa perilakunya adalah berbagi kepada seseorang yang juga mengalami kesulitan hidup, meskipun pemberian itu berasal dari orang yang mengalami kesulitan.

Pengemis itu juga mungkin sudah disadarkan oleh “umpatan” berulang dari orang-orang yang lewat, kalau ingin meminta, upayakan untuk selalu memberi, karena apa yang kau terima adalah hasil dari yang kamu bagi.

Saya menduga pengemis itu juga sudah berhenti meminta-minta, atau masih mengemis tapi intensitas memberinya tambah meningkat. Atau siapa tahu peristiwa dengan mahasiwa itu awal kebangkitan menata diri bahwa untuk memaksimalkan itikad baiknya, tidak mungkin dengan hanya menjadi pengemis.

Pertanyaannya, bagaimana kalau pengemis itu tetap menjadi pengemis, dan menjadikan dirinya sebagai pengemis bermartabat. Doktrinnya adalah, untuk menerima banyak dari aktifitas meminta-minta, sering-seringlah memberi. Kalau itu yang terjadi, kita sebut saja “the beggar’s  bona fide theory.”***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *