Oleh: Bahaking Rama
Dosen Unismuh Makassar
Allah berfirma dalam QS. Al-‘A’laq, 87: 14-15 yang gterjemahnya “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mebersihkan diri (dengan beriman) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.”
Supaya ajaran yang dikandung ayat tersebut di atas mudah dipahami oleh masyarakat muslim (etnis Makassar), maka ulama (tupanrita) mendakwahkannya dengan Bahasa komunikatif dalam bentuk kelong sebagai berikut.
ᨊᨔᨆᨗᨕ ᨆᨕᨘᨄᨊ /
ᨕᨈᨀᨔᨗᨕ ᨀᨒᨙᨊ /
ᨊᨊ ᨕᨙᨈᨙᨂ /
ᨔᨅᨐ ᨒᨗᨆ ᨓᨈᨘᨕ
– Nassa mia maupa’na, (sungguh beruntunglah seseorang)
– Antangkasia kalenna (yang mensucikan dirinya)
– Nana entengang (lalu ia dirikan salat)
– Sambayang lima wattua (yaitu salat wajib lima waktu)
Nilai pendidikan dalam kelong di atas Antara lain; 1) Membangun kesadaran untuk selalu membersihkan diri, baik jasmani maupun rohami. 2) Kewajiban mengingat Allah kapan dan di mana saja, 3) Kewajiban untuk mendirikan salat. 4) Memperkuat keyakinan bahwa dengan membersihkan diri, ingat Allah dan salat (wajib dan sunat) pastilah akan mendapatkan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.
Membersihkan diri, baik jasmani maupun rohani wijib dilakukan dalam berbagai aspek kehidupan. Baik dengan cara mandi, bercukur, istiqfar, berzakat, infaq, sedekah, salat, puasa, haji bagi yang mampu, dan semacamnya. Selalulah berzikir, ingat Allah, takarrub ilallah, mendekatkan diri kepada Allah, kapan dan dimana saja.
Allah menjelaskan dalam QS. Al-Baqarah,2: 152 yang retjemahnya. “Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” Insya Allah kebersihan diri akan terjaga dan keberuntungan akan diraih.
Jln. Bonto Tangnga no. 35 Pao-pao, Jum’at, 10 Ramadan 1447 H / 27 Pebruari 2026 M.














