Oleh: Bahaking Rama
Dosen Unismuh Makassar
Cinta dunia dan takut mati merupakan penyakit hati yang disebut wahn, yakni berlebihan mengejar materi, melupakan akhirat, serta takut kehilangan kenikmatan duniawy. Fenomena seperti ini terjadi di Indonesia (mungkin juga di Negara lain) dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
Sebagian manusia (kebanyakan pejabat negara) terbukti korupsi (sebagamana tayangan televisi) dan mengumpul harta dari berbagai jenis, baik melalui pertambangan, kehutanan, dan lainnya tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Akibatnya terjadilah bencana alam (banjir bandang, tanah longsor) pada bulan Desember tahun 2025 di daerah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan beberapa daerah lainnya.
Bencana tersebut memporak-porandakan daerah permukiman, pertanian, menghancurkan infrastruktur perhubungan (jalan dan jembatan), menghanyutkan banyak manusia (ribuan korban jiwa), binatang ternak, dan lainnya yang menimbulkan kerugian besar.
Penderitaan penduduk tidak bisa dihindari karena kehilangan tempat tinggal, ketiadaan bahan makanan dan pakaian. Dalam hubungan ini, dapat dibaca firman Allah dalam QS. Ali Imran, 3 : 14 yang terjemahnya “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah-ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” Hal ini diajarkan melalui kelong berikut.
ᨈᨙᨕᨀᨗ ᨂᨕᨗᨕᨗ ᨒᨗᨊᨚ /
ᨈᨂᨘᨑᨂᨗ ᨕᨖᨙᨑᨈ /
ᨀᨕᨈᨘ ᨒᨗᨊᨚ /
ᨒᨊᨗᨅᨚᨀᨚᨕᨗᨍᨗ ᨔᨒ
-Teaki ngai’i lino (janganlah cinta dunia)
-Tangngu’rangi akheratta (tidak ingat hari akhirat)
-Ka’anne lino (karena dunia ini)
-Lani bokoiji sallang (pasti kelak akan kita tinggalkan)
Nilai pendidikan dalam kelong di atas antara lain; 1) mengingatkan manusia agar tidak terperdaya dengan godaan kehidupan dunia, 2) hendaklah manusia mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat (tidak lupa akhirat), 3) Sadari bahwa dunia ini pasti akan ditinmggalkan.
Setiap manusia pasti akan mati meninggalkan dunia dan kembali kepada Allah. Hal ini sesuai firman Allah dalam QS.Al-Hadid, 57 :20 yang terjemahannya “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannnya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” Janganlah cinta dunia lupa akhirat, karena setiap manusia pastilah ke akhirat.
Bonto Tangnga Pao-pao, Rabu, 29 Ramadan 1447 H / 18 Maret 2026 M.***
















