BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Anggota DPR RI, Meity Rahmatia, menyoroti pentingnya kepemimpinan perempuan dalam merebut dan mengisi ruang publik pada kuliah umum yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Koordinator Komisariat Universitas Muhammadiyah Makassar, Ahad 15 Pebruari 2026.
Kegiatan berlangsung di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Lantai 8 Gedung Iqra Unismuh Makassar itu mengangkat tema “Kepemimpinan Perempuan, Strategi Merebut Ruang Publik.” Ratusan mahasiswa tampak antusias mengikuti diskusi yang berlangsung selama beberapa jam tersebut.
Dalam pemaparannya, Meity mengulas bagaimana perempuan di masa lalu kerap mengalami stereotipe dan diposisikan hanya pada ranah domestik. Kuatnya budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pihak superior, menurutnya, menjadi hambatan utama bagi perempuan untuk hadir dan berperan di ruang publik.
“Dahulu perempuan sering dianggap hanya mengurus rumah tangga. Padahal, perempuan bukan sekadar pelengkap,” ujar Meity di hadapan peserta.
Ia menjelaskan, seiring perkembangan zaman, isu-isu gender, perubahan politik, serta tafsir keagamaan yang lebih moderat mulai membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk berkiprah di ranah publik.
Menurut legislator DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan I itu, pembagian peran domestik semestinya tidak sepenuhnya dibebankan kepada perempuan. Laki-laki juga dapat mengambil bagian, sehingga beban ganda perempuan dapat berkurang dan kesempatan berkontribusi di ruang publik semakin terbuka.
Namun demikian, tantangan perempuan saat ini dinilai semakin kompleks, terutama di era digital. Selain stereotipe dan beban domestik, perempuan juga kerap menjadi korban kekerasan berbasis digital.
“Cyberbullying, pelecehan seksual digital, doxing, hingga penyebaran konten intim tanpa izin adalah realitas yang banyak dialami perempuan di ruang digital,” ungkapnya.
Meity menegaskan, kehadiran perempuan di ruang publik sangat penting untuk memastikan kebijakan yang dihasilkan tidak bias gender serta mampu mewakili kepentingan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.
“Mengapa perempuan harus hadir di ruang publik? Karena kehadiran perempuan akan mewarnai setiap kebijakan agar lebih adil dan inklusif,” jelasnya.
Ia juga membagikan sejumlah strategi bagi mahasiswa perempuan yang ingin terjun ke ruang publik, termasuk dunia politik. Di antaranya membangun pola pikir yang kuat, meningkatkan kapasitas dan kompetensi diri, menguasai isu-isu kebijakan publik, serta memiliki kemampuan public speaking dan analisis yang baik.
Selain itu, perempuan juga perlu membangun personal branding yang otentik, memperluas jejaring dan solidaritas, serta menghadirkan kepemimpinan yang humanis dan profesional.
“Jadilah diri sendiri. Fokus pada satu bidang, dan manfaatkan media digital sebagai ruang interaksi langsung dengan konstituen,” pesannya.
Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah kader IMM bahkan tampil di depan forum untuk menjawab tantangan Meity dalam menunjukkan kemampuan berbicara di depan publik.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Makassar, Dr Edi Jusriadi SE MM, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Kami sangat menyambut baik kehadiran Ibu Meity. Kegiatan ini bentuk komitmen lembaga untuk terus berkolaborasi dalam pengembangan kapasitas mahasiswa,” ujarnya saat memberikan sambutan.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata berupa buku Empat Pilar kepada para peserta. Meity pun berharap kerja sama dengan IMM dapat terus terjalin dalam penguatan kapasitas dan kepemimpinan mahasiswa di lingkungan akademik.***


















