BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Momen istimewa mewarnai Orasi Ilmiah dan Sidang Terbuka Penerimaan Profesor yang digelar Universitas Bosowa di Balai Sidang 45 UNIBOS, Rabu, 7 Januari 2026.
Agenda akademik tersebut tidak hanya menandai capaian tertinggi dalam dunia pendidikan tinggi, tetapi juga mencatat sejarah inspiratif: dua dosen Fakultas Pertanian Unibos, pasangan suami istri, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar secara bersamaan.
Mereka adalah Prof. Ir. Baharuddin, M.Si., Ph.D. dan Prof. Ir. Andi Tenri Fitriyah, M.Si., Ph.D. Keduanya dikukuhkan dalam rumpun keilmuan yang saling melengkapi dan strategis bagi pembangunan pertanian nasional.
Prof. Baharuddin dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, dengan kepakaran pada tataniaga pertanian dan keberlanjutan usahatani. Sementara Prof. Andi Tenri Fitriyah meraih gelar Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Pertanian, dengan fokus kajian ketahanan pangan serta pola konsumsi pangan alternatif.
Menariknya, perjalanan akademik keduanya berjalan seirama. Mereka menempuh pendidikan doktoral di Malaysia, menyelesaikannya hampir bersamaan, hingga akhirnya mencapai puncak karier akademik sebagai Guru Besar secara berdampingan.
Sidang terbuka tersebut dihadiri Ketua Yayasan Aksa Mahmud Melinda Aksa, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Ketua LLDIKTI Wilayah IX Dr. Andi Lukman, M.Si., Ketua Senat Universitas Bosowa Prof. Dr. Ir. Batara Surya, S.T., M.Si., Ketua Dewan Profesor Prof. Dr. Ir. A. Muhibuddin, M.P., Ketua BPH Yayasan Aksa Mahmud Asrul Hidayat, jajaran profesor, pimpinan fakultas, dosen, serta keluarga besar kedua Guru Besar.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Baharuddin mengulas pentingnya pembangunan usahatani berkelanjutan dari perspektif sosial ekonomi pertanian. Ia menegaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional, dengan lebih dari 41 juta penduduk Indonesia bergantung pada sektor tersebut.
Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan serius seperti alih fungsi lahan dan persoalan tataniaga hasil pertanian. Menurutnya, keberlanjutan usahatani harus dibangun melalui sistem tataniaga yang efisien, adil, terkoordinasi, serta berpihak pada kesejahteraan petani.
“Keberlanjutan pertanian tidak hanya soal produksi, tetapi keseimbangan antara keuntungan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan stabilitas sosial petani. Ini kunci agar pertanian tetap hidup lintas generasi,” tegasnya.
Sementara itu, Prof. Andi Tenri Fitriyah dalam orasi ilmiahnya menyoroti isu ketahanan pangan sebagai tantangan global yang semakin kompleks. Ia menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang ketersediaan, tetapi juga akses fisik, sosial, dan ekonomi terhadap pangan yang aman serta bergizi.
Di tengah keterbatasan lahan dan dampak perubahan iklim, ia melihat inovasi pangan alternatif sebagai peluang strategis menjaga kemandirian pangan nasional. Pemanfaatan teknologi modern seperti artificial intelligence, internet of things, hingga pertanian vertikal dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas pangan.
Selain itu, pengembangan pangan berbasis tanaman serta inovasi pengolahan pangan disebut sebagai solusi jangka panjang untuk menjawab tekanan global terhadap sistem pangan.
Pengukuhan Prof. Baharuddin dan Prof. Andi Tenri Fitriyah sebagai Guru Besar tidak hanya memperkuat kapasitas akademik Fakultas Pertanian Universitas Bosowa, tetapi juga menghadirkan kisah inspiratif tentang dedikasi, kebersamaan, dan komitmen dalam dunia pendidikan tinggi.***


















