BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Universitas Muslim Indonesia resmi menetapkan pelaksanaan perkuliahan Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dilaksanakan secara daring selama bulan suci Ramadan.
Padahal sebelumnya, berdasarkan Kalender Akademik yang ditetapkan melalui Keputusan Rektor, perkuliahan dijadwalkan mulai 2 Maret 2026 secara luring (offline).
Kebijakan ini diputuskan melalui mekanisme resmi Senat Akademik UMI dengan mempertimbangkan aspek akademik, kondisi sosial-ekonomi mahasiswa, serta dinamika masyarakat nasional.
Rektor UMI, Prof Dr H. Hambali Thalib, SH MH kepada media Kamis 19 Pebruari 2026 menegaskan keputusan tersebut bukan bentuk pelonggaran standar akademik.
“Kami tidak menurunkan mutu. Kami menjaga ilmu tetap optimal dan orang tua tetap tenang. Pendidikan tidak boleh menjadi beban ganda bagi keluarga,” tegasnya.
Pertimbangan Biaya dan Mobilitas Mahasiswa
UMI memahami mayoritas mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Jika perkuliahan tetap dilaksanakan luring sejak 2 Maret 2026, maka mahasiswa harus datang ke Makassar, mengikuti kuliah sekitar dua minggu, kemudian pulang untuk Lebaran, lalu kembali lagi setelahnya.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan beban finansial tambahan, mulai dari tiket perjalanan dua kali, biaya kos, hingga kebutuhan hidup lainnya.
Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil dan fluktuasi harga transportasi, UMI memilih menghadirkan solusi yang dinilai lebih kontekstual dan manusiawi.
Standar Akademik Tetap Dijaga
Meski perkuliahan dilaksanakan secara daring selama Ramadan, UMI memastikan seluruh standar akademik tetap berjalan.
Substansi pembelajaran dilaksanakan sesuai Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Beban SKS dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) tetap terpenuhi berbasis Outcome Based Education (OBE).
Sementara itu, praktikum, klinik, studio, dan kegiatan lapangan tetap akan dilaksanakan secara luring setelah Ramadan.
Pihak kampus menegaskan kebijakan ini merupakan penataan ulang (re-sequencing) metode pembelajaran, bukan pengurangan kualitas akademik.
Kampus Unggul yang Mengedepankan Empati
Sebagai perguruan tinggi terakreditasi Unggul pertama di luar Pulau Jawa, UMI menegaskan bahwa keunggulan akademik harus berjalan berdampingan dengan empati sosial.
UMI juga dikenal sebagai PTS dengan jumlah Guru Besar terbanyak di Indonesia, pelopor dan penyelenggara pertama Program Profesi Insinyur (PPI) yang meraih Rekor MURI, serta menjadi satu-satunya PTS di Indonesia Timur yang masuk 100 Besar Webometrics Indonesia 2026.
Rektor kembali menekankan bahwa standar akademik tetap kokoh.
“Standar akademik kami kuat. Tetapi kepekaan sosial adalah etika institusi. Transformasi digital tidak boleh menghilangkan nurani,” ujarnya.
Pendidikan Bermartabat di Bulan Suci
Bagi UMI, pendidikan tidak hanya berorientasi pada target kurikulum, tetapi juga menjaga harmoni keluarga, terlebih di bulan Ramadan yang menjadi momentum pembinaan karakter dan spiritualitas.
Kebijakan ini sekaligus meneguhkan identitas UMI sebagai kampus ilmu dan ibadah, kampus perjuangan dan pengabdian, serta kampus adaptif di tengah ketidakpastian.
Di UMI, mutu tetap terjaga.
Empati tetap hidup.
Ramadan tetap bermakna.
Dan keluarga tetap tenang.


















