BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali menggelar Wisuda ke-87 bagi lulusan jenjang D3, S1, S2, dan S3. Sebanyak 692 alumni dari puluhan program studi mengikuti prosesi akademik tersebut.
Dengan tambahan lulusan tahun ini, jumlah alumni Unismuh Makassar kini mencapai 126.013 orang yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia hingga mancanegara.
Dari ratusan lulusan tersebut, lima di antaranya merupakan alumni Program Studi Magister Ilmu Administrasi Publik (MIAP) Pascasarjana Unismuh Makassar yang turut mengikuti prosesi wisuda.
Ketua Prodi Magister Ilmu Administrasi Publik (MIAP) Pascasarjana Unismuh Makassar, Prof Dr Nuryanti Mustari, S.IP, M.Si, kepada media, Senin (16/2/2026) siang, menyebutkan lima lulusan MIAP tersebut yakni Siti Ratnasari, Gusti Maulana Arif, Andi Hasdawati, Nasriah Eka Putri, dan Ilham Hamzah.
Menurut Prof Nuryanti, meningkatnya kebutuhan tenaga profesional dengan kompetensi manajerial, analitis, dan kepemimpinan di sektor publik menjadi peluang besar bagi lulusan administrasi publik.
“Program Magister Ilmu Administrasi Publik dirancang untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu merumuskan kebijakan, mengelola organisasi, serta melakukan inovasi pelayanan publik berbasis prinsip good governance,” ujarnya.
Dia menjelaskan, lulusan MIAP memiliki peluang besar berkarier sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), baik pada jabatan struktural maupun fungsional di instansi pemerintah pusat dan daerah.
“Banyak alumni kami berkiprah sebagai analis kebijakan, perencana pembangunan, auditor internal pemerintah, hingga menduduki posisi kepala bidang dan sekretaris dinas. Gelar magister tentu menjadi nilai tambah dalam pengembangan karier birokrasi,” jelasnya.
Selain di birokrasi, peluang kerja juga terbuka sebagai perencana dan analis kebijakan publik di lembaga perencanaan seperti Bappeda, kementerian, maupun lembaga kajian (think tank).
Mahasiswa, kata dia, dibekali kemampuan metodologi penelitian kebijakan serta analisis data untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy).
“Kompetensi riset menjadi salah satu kekuatan utama kami. Alumni tidak hanya bekerja, tetapi juga mampu memberi rekomendasi kebijakan yang solutif dan terukur,” katanya.
Di bidang akademik, lulusan MIAP berpeluang menjadi dosen dan peneliti di perguruan tinggi maupun lembaga penelitian. Gelar magister menjadi syarat utama untuk mengajar di pendidikan tinggi sekaligus melanjutkan studi doktoral.
Tak hanya itu, dunia konsultansi tata kelola dan manajemen publik juga menjadi prospek menjanjikan. Alumni dapat terlibat dalam pendampingan reformasi birokrasi, penyusunan dokumen perencanaan strategis, hingga evaluasi program pemerintah.
“Banyak pemerintah daerah membutuhkan tenaga profesional untuk meningkatkan kualitas tata kelola. Ini peluang besar bagi lulusan kami,” tambahnya.
Prof Nuryanti juga menyebutkan sektor swasta dan BUMN membuka ruang bagi alumni administrasi publik, khususnya pada bidang corporate governance, public affairs, community development, dan corporate social responsibility (CSR).
Bahkan, tidak sedikit lulusan yang terjun ke dunia politik dan menjadi staf ahli legislatif dengan bekal kemampuan analisis kebijakan serta tata kelola pemerintahan.
“Secara keseluruhan, prospek kerja alumni sangat fleksibel dan strategis. Kami membekali mahasiswa dengan kombinasi kompetensi akademik, kepemimpinan, dan etika profesional agar mampu berkontribusi nyata dalam mewujudkan pemerintahan yang efektif, transparan, dan berorientasi pada pelayanan publik,” tutupnya.***


















