Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Ragam

Pengurus CIDES ICMI Sulsel Dilantik, Prof Dr Arif Satria Dorong Kolaborasi Akademisi dan Pemerintah Bangun Inovasi

×

Pengurus CIDES ICMI Sulsel Dilantik, Prof Dr Arif Satria Dorong Kolaborasi Akademisi dan Pemerintah Bangun Inovasi

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com.Makassar. Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., mengajak generasi muda Muslim untuk membangun tradisi riset dan inovasi sebagai jalan mengembalikan kejayaan peradaban Islam di masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Arif Satria saat memberikan kuliah kebangsaan dalam rangka Silaturahim Kerja Wilayah (Silakwil) ICMI Organisasi Wilayah Sulawesi Selatan yang digelar bekerja sama dengan Universitas Negeri Makassar (UNM), Ahad (7/6/2026), di Rumah Jabatan Rektor UNM.

Example 300x600

Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan pelantikan badan otonom Majelis Kajian Pembangunan Daerah (MKPD) dan Center for Information and Development Studies (CIDES) ICMI Orwil Sulsel 2026-2031.

Pada sambutannya, Arif Satria yang juga menjabat Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengawali pemaparannya dengan kisah inspiratif ilmuwan peraih Hadiah Nobel Kimia 2025, Omar Yaghi.

Menurutnya, Yaghi yang memiliki latar belakang sebagai anak pengungsi Palestina berhasil membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menghasilkan karya besar bagi kemanusiaan.

“Puluhan tahun beliau melakukan penelitian hingga menghasilkan inovasi yang mampu memanen air dari udara di wilayah gurun. Ini menunjukkan bahwa riset yang dilakukan dengan ketekunan dapat memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia,” ujar Arif.

Ia menjelaskan bahwa Omar Yaghi bersama Susumu Kitagawa dari Jepang dan Richard Robson dari Inggris meraih Nobel Kimia 2025 atas pengembangan kerangka logam-organik atau Metal-Organic Frameworks (MOF), sebuah material inovatif yang dapat dimanfaatkan untuk menangkap karbon dioksida serta menghasilkan air dari udara di kawasan kering.

Arif menilai kisah tersebut menjadi pelajaran penting bagi generasi muda Muslim untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi yang mampu menjawab berbagai persoalan global seperti krisis air, energi, lingkungan, dan kesehatan.

“Kita membutuhkan lebih banyak ilmuwan Muslim yang mampu menghasilkan karya-karya besar. Saat ini jumlah peraih Nobel dari kalangan Muslim masih sangat sedikit. Karena itu, momentum ini harus menjadi pemantik lahirnya inovator-inovator baru dari kalangan muda,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan riset tidak dapat dicapai secara instan. Dibutuhkan kesabaran, ketangguhan, kejelian, serta konsistensi dalam jangka panjang.

“Banyak ilmuwan meraih penghargaan tertinggi setelah puluhan tahun melakukan penelitian. Karena itu, perguruan tinggi harus membangun budaya riset yang kuat dan berkelanjutan,” tambahnya.

Arif juga menekankan bahwa kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan riset dan inovasi yang dimiliki perguruan tingginya. Semakin kuat ekosistem riset sebuah negara, semakin besar peluang negara tersebut menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan teknologi.

Menurutnya, ICMI memiliki posisi strategis sebagai katalisator kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, peneliti, dan organisasi masyarakat dalam mendorong pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan.

“ICMI harus menjadi ruang dialog yang mempertemukan akademisi, pemerintah daerah, pelaku bisnis, NGO, dan masyarakat untuk mencari solusi atas berbagai persoalan pembangunan,” ujarnya.

Ia mendorong pemerintah daerah agar lebih aktif memanfaatkan hasil riset perguruan tinggi dalam merumuskan kebijakan publik.

“Bupati dan kepala daerah harus datang ke kampus membawa persoalan yang dihadapi daerahnya, lalu meminta kajian dan inovasi dari para akademisi. Di situlah hasil penelitian dapat benar-benar dimanfaatkan untuk pembangunan,” jelasnya.

Arif juga mengusulkan lahirnya rumah-rumah inovasi di daerah sebagai wadah komunikasi dan pemanfaatan hasil riset antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.

Menurutnya, dunia saat ini sedang mengalami lompatan teknologi yang sangat cepat. Karena itu, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perkembangan teknologi global.

“Dunia kampus harus menjadi pusat riset masa depan. Kita harus mampu melompat menjadi negara maju melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,” tegasnya.

Ia berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dapat melakukan orkestrasi berbagai hasil riset dan kajian perguruan tinggi agar menjadi dasar pembangunan daerah yang berkelanjutan.

“Perguruan tinggi memiliki banyak hasil penelitian yang bisa menjadi solusi pembangunan. Tugas kita bersama adalah menghubungkan hasil riset tersebut dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah daerah,” pungkasnya.

Komposisi CIDES ICMI Sulsel

Pelantikan pengurus MKPD CIDES ICMI Orwil Sulsel dilakukan oleh Wakil Ketua Umum ICMI Bidang IPTEK, Agromaritim dan Lingkungan Hidup Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Jafar Hafsah, IPM.

Pada pelantikan turut dihadiri Ketua ICMI Sulsel, Prof. Dr. H. Arismunandar, M.Pd., dan Sekretaris ICMI Sulsel, Prof. Dr. Hj. Farida Patittingi, S.H., M.Hum dan pengurus ICMI lainnya.

Dewan pengurus harian yang dilantik tersebut ketua, Dr. H. Adi Suryadi Culla, M.A. sebagai ketua.

Ia didampingi delapan wakil ketua yang berasal dari berbagai latar belakang akademik dan profesional, antara lain Dr. Basti Tetteng, Dr. Rahmat Muhammad, Dr. Suardi Bakri, Dr. Alam Tauhid Syukur, Dr. Ihyani Malik, Dr. Nurussyariah, Dr. Nurjannah Abna, dan Dr. Andi Alfian Zainuddin.

Posisi sekretaris diemban oleh Dr. Andi Luhur Prianto, S.IP., M.Si., didukung enam wakil sekretaris, sementara bidang keuangan dipercayakan kepada Dr. Rosnaeni Daga, S.E., M.M. sebagai bendahara dan Dr. Dien Triana Abdullah, S.E., M.Si. sebagai wakil bendahara.

MKPD CIDES ICMI Sulsel membentuk enam divisi strategis.

Divisi Riset dan Pengembangan menjadi pusat produksi gagasan dan penelitian yang diperkuat oleh Yuhardin, Siswan Tiro, Setyawati Yani, Asratillah, Andi Nasri Abduh, dan Nursandy Syam.

Di bidang komunikasi publik, Divisi Media dan Publikasi dihuni oleh sejumlah figur yang aktif di dunia media dan komunikasi seperti Dr. Muhammad Yahya, Rusdin Tompo, Ahmad Sudirman Kambie, Ilham Husain, M. Nasrun Nur, dan Kamaruddin Azis.

Penguatan kolaborasi eksternal menjadi tanggung jawab Divisi Penguatan Jejaring dan Kemitraan yang diperkuat oleh Dr. Muhammad Natsir Mallawi, Andi Ahmad Yani, Dr. Ardiansyah S. Pawinru, Dr. Faisal Syam, Dr. Muhammad Yusuf Ali, dan Andi Ikram Rifqi.

Sementara itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi fokus Divisi Pendidikan dan Pelatihan yang beranggotakan Dr. Azwar Anwar, dr. Asriadi Ali, Ian Adrian Bustanuddin, Ilham Bakhtiar, dan Andi Sri Wulandani.

CIDES ICMI Sulsel juga membentuk Divisi Pengembangan Wilayah yang akan mengawal isu pembangunan daerah dan tata ruang, diperkuat oleh Muttaqin Azikin, Dr. Amruddin AE, Arief Wicaksono, Dr. Taufik Nur, dan Syamsul Alam.

Adapun Divisi Edukasi dan Advokasi yang beranggotakan Dr. Abdul Haris Hamid, Dr. Fadli Andi Natsif, Dr. Asis Nojeng, Masmulyadi, dan Nur Amelia akan fokus pada penguatan literasi publik, pendidikan masyarakat, serta advokasi berbagai isu strategis yang berkaitan dengan pembangunan dan keadilan sosial.

Adi Suryadi  menilai,  komposisi yang melibatkan puluhan profesor, doktor, akademisi, profesional, birokrat, dan tokoh masyarakat dari berbagai bidang keahlian,

Adi Suryadi Culla menegaskan, CIDES ICMI Sulawesi Selatan hadir bukan sekadar sebagai organisasi, melainkan sebagai pusat pemikiran strategis yang diharapkan mampu melahirkan rekomendasi kebijakan, penelitian, dan inovasi yang relevan bagi masa depan Sulawesi Selatan.

“Kehadiran para tokoh ini menjadi fondasi kuat bagi CIDES ICMI Sulsel untuk menjalankan perannya sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan kebutuhan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadaban,” kuncinya.

Jajaran Dewan Pembina, MKPD CIDES ICMI Sulsel dipimpin oleh Ketua MPW ICMI Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Arismunandar, M.Pd., didampingi Prof. Dr. Hj. Farida Patittingi, S.H., M.Hum. sebagai wakil ketua.

Dewan Pembina juga diperkuat sejumlah tokoh akademik dan profesional terkemuka, di antaranya Prof. Dr. Ir. H. Andi Tamsil, MS., IPM., Prof. Dr. H. Nurdin Noni, M.Hum., Prof. Dr. H. Sc. Agr. Ir. Baharuddin, Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag., Prof. Dr. H. Heri Tahir, SH., MH., Prof. Dr. H. Andi Syukri Syamsuri, M.Pd., Prof. Dr. Ir. Hj. Andi Majdah M. Zain, MS., hingga Dr. Ir. H. A.M. Yusran Paris, MM., MBA., IPU.

Sementara itu, Dewan Pakar menjadi kekuatan intelektual utama organisasi. Dewan ini dipimpin Prof. Dr. H. Abd. Hamid Paddu, M.A. dengan wakil ketua Prof. Drs. Wahyuddin Halim, M.A., M.A., Ph.D..

Di dalamnya berhimpun puluhan profesor dan doktor lintas disiplin ilmu, antara lain Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, S.E., M.Si., Prof. Dr. H. A. Muin Fahmal, S.H., M.H., Prof. Dr. H. M. Tahir Kasnawi, S.U., Prof. Sofyan Salam, M.A., Ph.D., Prof. Dr. Amran Razak, S.E., M.Sc., Prof. Dr. H. Abustani Ilyas, M.Ag., Prof. H. Marsuki, DEA., Ph.D., Prof. Dr. Ir. H. Ansar Suyuti, S.H., M.T., IPU., ASEAN Eng., hingga Prof. Dr. Nurhikmah H., S.Pd., M.Si. Kehadiran para pakar ini menjadi modal penting bagi CIDES untuk menghasilkan kajian yang kuat dan berbasis keilmuan. ***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *