BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Di tengah suasana ramah tamah Wisuda Ke-88 bagi 99 alumni Fisip Unismuh Makassar, sebuah pesan lama dari tanah Bugis kembali bergema. Bukan sekadar nasihat seremonial, melainkan petuah leluhur yang menautkan manusia pada kebenaran, keteguhan, kejujuran, dan semangat saling menopang.
Pesan itu disampaikan Ketua IKA Fisip Unismuh Makassar, Adnan Ma’ruf, S.Sos., M.Si., saat memberi sambutan pada ramah tamah alumni FISIP Unismuh Makassar dari tiga program studi, yakni Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Pemerintahan, dan Ilmu Komunikasi, di Hotel Swiss-Belinn Panakkukang Makassar, Jalan Boulevard Raya Nomor 55, Jumat, 19 Juni 2026.
Forum yang dihadiri para pimpinan universitas, alumni, dosen, dan calon wisudawan tersebut, Adnan tampil bukan hanya sebagai ketua alumni. Ia hadir sebagai sosok yang berusaha menjaga ingatan kolektif masyarakat Bugis, terutama nilai-nilai luhur yang perlahan mulai jarang terdengar di ruang publik modern.
Di hadapan para alumni muda, Adnan mengingatkan pentingnya berdiri di atas kebenaran. Ia menyebut petuah Bugis, “Tettangko ritongengenge”, yang berarti berdirilah pada kebenaran. Bagi Adnan, kebenaran adalah fondasi utama bagi siapa pun yang akan memasuki ruang pengabdian, baik di birokrasi, dunia akademik, politik, komunikasi publik, maupun kehidupan sosial masyarakat.
Petuah berikutnya adalah “Tudang rigettengenge”, duduklah dalam keteguhan. Pesan ini menekankan pentingnya konsistensi sikap dalam menghadapi perubahan zaman. Menurut Adnan, alumni FISIP tidak cukup hanya mengandalkan gelar akademik, tetapi juga harus memiliki keteguhan moral, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan menjaga integritas di tengah tekanan sosial maupun kepentingan praktis.
Ia juga menyampaikan pesan “Musanre rilempue”, bersandarlah pada kejujuran. Bagi masyarakat Bugis, kejujuran bukan sekadar sifat pribadi, melainkan harga diri yang menentukan martabat seseorang. Kejujuran menjadi nilai yang harus dibawa para alumni ketika bekerja, memimpin, melayani masyarakat, dan membangun jejaring sosial.
Dari kebenaran, keteguhan, dan kejujuran itulah, kata Adnan, seseorang akan sampai pada harapan dan cita-cita. Hal ini tergambar dalam petuah “Muenre mallongi-langi”, engkau akan mencapai harapan dan cita-cita. Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa keberhasilan tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi dibangun melalui jalan panjang yang berpijak pada nilai.
Adnan kemudian menekankan pentingnya membangun budaya saling memberi kabar baik dan saling menguatkan. Ia mengutip petuah “Musijikkireng berita madeceng”, saling memberi kabar gembira, serta “Padammu masiajing” atau “masumpu lolo”, yang mengingatkan agar seseorang tidak melupakan kerabat, keluarga, dan handai tolan.
Konteks alumni, pesan itu memiliki makna sosial yang kuat. Alumni, menurut Adnan, tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Mereka harus saling mengenal, saling mendukung, dan membangun jaringan kebaikan yang bermanfaat bagi sesama.
Karena itu, ia menutup rangkaian petuahnya dengan pesan yang relevan bagi kehidupan modern, yakni “Engkako sirui menre”, hendaklah engkau saling menopang dalam mencapai jenjang kesuksesan. Sebaliknya, ia mengingatkan agar tidak menjadi manusia yang “tesirui noo”, saling menarik turun dan menjatuhkan orang lain menuju kegagalan.
Pesan tersebut terasa kuat karena disampaikan oleh seseorang yang perjalanan hidupnya dekat dengan dunia pendidikan dan pengabdian. Adnan Ma’ruf lahir di Madining, Soppeng, 24 Juli 1972. Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di daerah kelahirannya, sebelum melanjutkan studi ke Universitas Muhammadiyah Makassar pada Jurusan Ilmu Administrasi Negara.
Adnan menyelesaikan pendidikan sarjana di Unismuh Makassar dalam waktu 3,5 tahun. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magister di Universitas Hasanuddin Makassar pada Jurusan Administrasi Pembangunan dan menyelesaikannya dalam 2,5 tahun. Dalam perjalanan akademiknya, ia dikenal sebagai lulusan dengan predikat cumlaude.
Kedekatannya dengan dunia organisasi juga terbentuk sejak muda. Pada 1994 hingga 1999, ia aktif sebagai anggota Kosgoro dan Fokusmaker. Pada 1996 hingga 2002, ia dipercaya sebagai Ketua Sekretariat AMPI. Ia juga pernah terlibat dalam kegiatan Bela Negara pada 2000 hingga 2010.
Namun, jejak paling panjang Adnan berada di dunia pendidikan. Sejak 1995 hingga kini, ia mengabdi sebagai dosen pengajar di Universitas Muhammadiyah Makassar. Ia juga pernah menjadi dosen pengajar di Poltekkes Gigi pada 2010 hingga 2014.
Ramah tamah alumni FISIP Unismuh Makassar tersebut turut dihadiri Ketua Umum IKA Unismuh Makassar, Prof. Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., Wakil Rektor II Unismuh Makassar, Dr. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si., serta Wakil Rektor IV Unismuh Makassar, Dr. Burhanuddin, M.Si. Dekan FISIP Unismuh Makassar, Dr Andi Luhur Prianto, S.IP., M.Si.
Walikota Makassar diwakili staf ahlinya, Wakil Dekan I Bidang Akademik, Nasrul Haq, S.Sos., M.PA.; Wakil Dekan II Bidang Keuangan dan Administrasi Umum, Nur Khaerah, S.IP., M.I.P.
Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Dr. Nur Wahid, S.Sos., M.Si.; Wakil Dekan IV Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Abdul Gafur, S.Sos., M.AP.; serta para ketua program studi di lingkungan FISIP Unismuh Makassar.
Hadir pula Wakil Dekan I Bidang Akademik Nasrul Haq, S.Sos., M.PA., Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum Nur Khaerah, S.IP., M.I.P., Wakil Dekan IV Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Abdul Gafur, S.Sos., M.AP.
Juga hadir Ketua Program Studi S1 Ilmu Administrasi Negara (Publik), Nurbiah Tahir, S.Sos, M.AP; Program Studi S1 Ilmu Pemerintahan: Nursaleh Hartaman, S.IP., M.IP. dan Program Studi S1 Ilmu Komunikasi: Dr. Syukri, S.Sos., M.Si. Sekretaris IKA Fisip Unismuh Makassar, Jusri Adi, S.IP, M.Si,
Hadir pula dai gaul dan populer, Dr. Das’ad Latif, S.Ag., S.Sos., M.Si., Ph.D., yang memberi motivasi dan semangat kepada para wisudawan. Kehadiran para tokoh tersebut membuat ramah tamah alumni tidak hanya menjadi acara pelepasan akademik, tetapi juga ruang pewarisan nilai, inspirasi, dan penguatan jejaring alumni.
Di tengah zaman yang bergerak cepat, pesan Adnan Ma’ruf tentang kearifan lokal Bugis menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak boleh memutus manusia dari akar budayanya.
Bagi alumni FISIP Unismuh Makassar, gelar akademik adalah awal perjalanan. Namun, kebenaran, keteguhan, kejujuran, dan semangat saling menopang adalah bekal yang akan menentukan kualitas pengabdian mereka di tengah masyarakat.
Adnan seolah ingin menegaskan bahwa menjadi sarjana bukan hanya soal memperoleh ijazah. Menjadi alumni berarti membawa nama baik almamater, merawat hubungan sosial, dan menjaga nilai yang diwariskan leluhur.
Petuah Bugis yang ia sampaikan, keberhasilan tidak dimaknai sebagai pencapaian pribadi semata. Keberhasilan adalah perjalanan bersama, tempat seseorang naik tanpa menjatuhkan orang lain, maju tanpa melupakan keluarga dan sahabat, serta berdiri tegak tanpa meninggalkan kebenaran. ***


















