BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Peserta PKM Nasional ADPERTISI 30 Juni 2026 di Desa Tompobulu, Maros, Nikolaus Beni, A.Md.Gz., S.Sos., M.I.Kom., mendorong Aliansi Dosen Perguruan Tinggi Swasta Indonesia atau ADPERTISI mulai merancang kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat atau PKM berskala internasional.
Dosen AIGI YPAG Makassar tersebut menilai, setelah beberapa kali sukses melaksanakan PKM Nasional di berbagai daerah, ADPERTISI sudah memiliki pengalaman, jejaring, dan kapasitas organisasi untuk melangkah ke tingkat internasional.
Menurut Nikolaus Beni, PKM internasional lintas negara dapat menjadi terobosan strategis ADPERTISI dalam memperluas dampak pengabdian dosen Indonesia.
“Setelah beberapa kali sukses melaksanakan PKM Nasional, menurut saya ADPERTISI sudah perlu merancang PKM skala internasional. Kegiatan PKM lintas negara akan menjadi langkah maju bagi ADPERTISI dalam memperluas jejaring akademik dan memperkenalkan kontribusi dosen Indonesia di tingkat global,” ujarnya kepada media Kamis 9 Juli 2026.
Ia mengatakan, pelaksanaan PKM Nasional ADPERTISI selama ini telah memberi manfaat besar, baik bagi dosen maupun masyarakat di lokasi pengabdian.
Bagi dosen, kegiatan tersebut menjadi wadah untuk memenuhi kewajiban akademik, memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta menyediakan dokumen pendukung pelaporan akademik setiap semester.
Sementara bagi masyarakat, PKM Nasional menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan baru, inovasi, dan pendampingan langsung dari kalangan akademisi.
“ADPERTISI sangat membantu para dosen, terutama dalam menyediakan dan melengkapi berbagai berkas pelaporan akademik setiap semester. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan ADPERTISI memberi manfaat besar bagi dosen dalam menjalankan kewajiban akademik,” kata, salah seoran penulis buku chapter berjudul, Sosiologi Kontemporer (Globalisasi, Teknologi, dan Identitas Sosia) ini.
Dia menjelaskan, melalui PKM Nasional, dosen tidak hanya hadir untuk memenuhi syarat administratif akademik.
Lebih dari itu, para dosen dapat turun langsung ke tengah masyarakat untuk melihat dinamika sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, serta berbagai problematika yang dihadapi warga desa.
“Lewat PKM, kami sebagai dosen dapat lebih mengenal dinamika dan problematika yang dihadapi masyarakat. Banyak hal yang tidak cukup dipahami hanya dari ruang kelas atau kampus, tetapi harus dilihat langsung di lapangan,” ujar Wakil Direktur AIGI YPAG Makassar.
Ia menyebutkan, pengalaman mengikuti PKM Nasional ADPERTISI di Desa Tompobulu, Kabupaten Maros, memberi gambaran bahwa masyarakat desa memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan.
Potensi tersebut, kata dia, membutuhkan pendampingan berkelanjutan, sentuhan inovasi, literasi, serta transfer pengetahuan dari dunia kampus.
Pola pengabdian seperti ini dapat diperluas dalam skala internasional melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, organisasi profesi, komunitas akademik, lembaga masyarakat, maupun pemerintah lokal di negara lain, tandas magister komunikasi Pascasarjana Unhas ini.
PKM internasional dapat diarahkan pada isu-isu strategis seperti literasi digital, kesehatan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kewirausahaan, lingkungan, penguatan koperasi, hingga pemanfaatan potensi lokal berbasis kearifan masyarakat.
“Pada satu sisi, ADPERTISI membantu para dosen memenuhi syarat akademik. Pada sisi lain, kegiatan PKM juga sangat membantu masyarakat di lokasi pengabdian karena mereka menerima inovasi, pengetahuan baru, dan pendampingan dari dunia kampus,” jelasnya.
Dia menilai, PKM internasional akan memberi nilai tambah bagi ADPERTISI dan para dosen perguruan tinggi swasta.
Selain memperluas jejaring akademik, kegiatan lintas negara juga dapat membuka ruang pertukaran pengalaman, praktik baik, dan kolaborasi antarperguruan tinggi.
Ia menambahkan, PKM internasional dapat menjadi bentuk diplomasi akademik dosen Indonesia di tingkat global.
Melalui kegiatan tersebut, dosen tidak hanya mengajar, meneliti, dan mengabdi di dalam negeri, tetapi juga dapat membawa gagasan, inovasi, dan pengalaman pengabdian masyarakat Indonesia ke forum internasional.
“PKM internasional akan memberi pengalaman baru bagi dosen. Selain menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dosen juga dapat memperluas wawasan, membangun kolaborasi, dan membawa nama baik perguruan tinggi serta ADPERTISI di forum internasional,” katanya.
Menurutnya, gagasan PKM internasional tersebut dapat dirancang secara bertahap dan terencana.
Langkah awal dapat dilakukan melalui penjajakan kerja sama dengan perguruan tinggi mitra di negara tetangga, penyusunan tema pengabdian bersama, pemetaan kebutuhan masyarakat sasaran, serta pelibatan dosen dari berbagai disiplin ilmu.
Mantan Direktur Umum Perusahaan Daerah Terminal Makassar Metro Makassar ini optimistis, dengan pengalaman ADPERTISI dalam mengorganisasi dosen lintas perguruan tinggi, lintas disiplin ilmu, dan lintas daerah, kegiatan PKM lintas negara sangat mungkin diwujudkan.
Apalagi, ADPERTISI selama ini telah menjadi wadah produktif bagi dosen perguruan tinggi swasta dalam memperkuat jejaring profesi dan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dia berharap gagasan PKM internasional dapat menjadi agenda strategis ADPERTISI ke depan.
Ia menilai, keberhasilan PKM Nasional menjadi modal penting untuk membawa ADPERTISI ke level yang lebih luas dan memberi kontribusi nyata tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat di negara lain.
“Kehadiran ADPERTISI sangat membantu dosen. Bukan hanya dalam aspek administrasi akademik, tetapi juga dalam membuka ruang pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, sudah saatnya ADPERTISI mulai memikirkan PKM internasional sebagai langkah maju pengabdian dosen Indonesia,” tandas pria kelahiran 1965 Aliurba NTT ini. ***


















