BERITASEMBILAN.Com-Makassar. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) membuka peluang kerja sama pembiayaan pendidikan doktor bagi ratusan dosen Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar yang masih berkualifikasi magister.
Peluang tersebut mengemuka dalam kuliah tamu dan silaturahmi Komisaris Utama BSI, Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.A.P., bersama jajaran pimpinan Unismuh Makassar di Ruang Rapat Senat, Lantai 17 Gedung Iqra Unismuh, Kamis (16/7/2026).
Seperti di kutip dari laman resmi kempus news.unismuh.ac.id, Jumat 17 Juli 2026 mengatakan, pertemuan itu dihadiri Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU., para wakil rektor, Badan Pembina Harian, direktur, dekan, pimpinan lembaga, kepala pusat, ketua program studi, serta jajaran BSI Wilayah Makassar.
Dalam pertemuan tersebut, Rakhim Nanda menyampaikan bahwa peningkatan kualifikasi akademik dosen menjadi salah satu prioritas utama Unismuh Makassar.
Saat ini, masih terdapat sekitar 442 dosen berkualifikasi magister atau S-2 yang perlu didorong melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor.
“Percepatan pembangunan sumber daya manusia menjadi prioritas kami. Untuk pembangunan fisik, kampus bisa memperoleh pembiayaan dalam jumlah besar. Kami berharap pembiayaan untuk pembangunan SDM juga dapat memperoleh perhatian,” ujar Rakhim Nanda.
Menurutnya, Unismuh selama ini telah membantu dosen yang melanjutkan studi, di antaranya dengan membiayai semester pertama.
Namun, pada semester berikutnya, sebagian dosen masih harus menyisihkan pendapatan pribadi untuk membayar biaya pendidikan.
Karena itu, Unismuh menawarkan penyusunan skema pembiayaan bersama agar dosen dapat melanjutkan studi tanpa harus menanggung seluruh biaya secara langsung.
BSI Siap Tindak Lanjuti
Menanggapi usulan tersebut, Prof. Muhadjir menyatakan pembiayaan pendidikan doktor bagi dosen memungkinkan untuk ditindaklanjuti melalui BSI.
Ia langsung meminta jajaran BSI Wilayah Makassar membicarakan skema pembiayaan yang paling tepat bersama pimpinan Unismuh Makassar.
“Untuk pembiayaan saya kira tidak ada masalah. Silakan ditindaklanjuti. BSI, insyaallah, setuju menyediakan pembiayaan untuk teman-teman,” kata Muhadjir yang juga menjabat Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Meski demikian, Muhadjir menyarankan agar pembiayaan studi tidak sepenuhnya dibebankan kepada universitas.
Menurutnya, dosen penerima pembiayaan tetap perlu memiliki bagian tanggung jawab agar studi lanjut dijalankan dengan disiplin dan diselesaikan tepat waktu.
“Saran saya jangan 100 persen ditanggung oleh perguruan tinggi. Harus ada juga beban kepada yang bersangkutan agar mereka bertanggung jawab,” ujarnya.
Skema pembiayaan tersebut, lanjut Muhadjir, dapat dihubungkan dengan sistem penggajian atau payroll BSI.
Dengan mekanisme tersebut, pembayaran dapat dikelola secara terukur tanpa menambah beban administrasi universitas.
Muhadjir juga meminta BSI menjajaki kemungkinan dukungan subsidi melalui BSI Maslahat maupun program tanggung jawab sosial perusahaan.
Namun, ia menegaskan bentuk dan besaran dukungan tersebut masih perlu dibahas pada tingkat teknis dan direksi.
“Saya tidak berjanji, tetapi akan menjadi catatan saya untuk diarahkan ke tingkat direksi. Yang penting, ekosistemnya bisa berjalan,” katanya.
Berpotensi Menjadi Model bagi PTMA
Muhadjir berharap kerja sama pembiayaan studi lanjut tersebut tidak hanya diterapkan di Unismuh Makassar.
Apabila skemanya berhasil, model serupa dapat diterapkan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) lainnya.
Menurutnya, banyak dosen PTMA ingin melanjutkan pendidikan doktor, tetapi masih menghadapi kendala pembiayaan.
Kerja sama antara perguruan tinggi dan lembaga keuangan syariah dinilai dapat menjadi salah satu jalan untuk mempercepat peningkatan kualitas akademik dosen.
“Mudah-mudahan ini bisa menjadi contoh yang baik. Kalau sistemnya bagus, bisa kita kloning untuk PTMA yang lain, terutama yang kemampuan pembiayaannya belum kuat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Unismuh Makassar memiliki tanggung jawab besar sebagai salah satu pusat pembinaan PTMA di kawasan Indonesia Timur.
Karena itu, penguatan Unismuh diharapkan turut memberikan dampak terhadap perkembangan kampus-kampus Muhammadiyah lainnya.
“Unismuh jangan hanya membesarkan diri sendiri, tetapi juga ikut membesarkan perguruan tinggi Muhammadiyah yang lain,” pesannya.
BSI Wilayah Makassar Siapkan Skema
Perwakilan BSI Wilayah Makassar yang hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan siap menindaklanjuti arahan Komisaris Utama BSI dan usulan Rektor Unismuh.
Pembiayaan studi lanjut bagi sekitar 400 dosen dicatat sebagai salah satu agenda prioritas yang akan dibicarakan lebih lanjut dengan pimpinan universitas.
“Insyaallah, skemanya akan kami matangkan dan kolaborasikan, termasuk kemungkinan pemberian subsidi yang dapat membantu meringankan dosen yang sedang menjalankan studi,” ujarnya.
Selain pembiayaan pendidikan, BSI dan Unismuh juga menjajaki pengembangan layanan perbankan di lingkungan kampus, integrasi sistem digital, pembiayaan rumah sakit pendidikan, pengadaan alat kesehatan, serta pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah.
Rakhim Nanda menyambut positif respons tersebut.
Menurutnya, dukungan pembiayaan studi doktor bukan hanya berkaitan dengan kesejahteraan dosen, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, dan pelayanan kepada mahasiswa.
“Kami bersyukur karena pernyataan Prof. Muhadjir membesarkan harapan kita. Setelah pertemuan ini, tugas kami adalah menindaklanjutinya menjadi skema yang jelas, bertanggung jawab, dan benar-benar memberikan manfaat bagi dosen serta institusi,” kata Rakhim Nanda.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi momentum mempererat hubungan kelembagaan antara Unismuh Makassar dan BSI.
Kedua pihak sepakat melanjutkan pembicaraan pada tingkat teknis agar berbagai peluang kerja sama dapat segera direalisasikan.***


















