BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Alumni Akademi Ilmu Gizi Indonesia (AIGI) YPAG Ujung Pandang angkatan 1985, Dr. Sultan Akbar Toruntju, SKM, M.Kes, mengaku perjalanan akademiknya di kampus tersebut menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya hingga berhasil menjadi dosen dan akademisi di bidang gizi.
Hal itu disampaikan Dr. Sultan Akbar Toruntju kepada media, Senin (20/7/2026), saat mengenang perjalanan pendidikannya di AIGI YPAG yang kini terus berkembang sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi bidang gizi terbaik di Sulawesi Selatan.
Menurut dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Kendari itu, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kampus AIGI YPAG di Jalan Andi Mappanyukki, Ujung Pandang, pada 23 Agustus 1985, ia tidak pernah membayangkan kelak akan mengabdikan diri sebagai dosen.
“Sedikit pun tidak pernah terlintas dalam benak saya bahwa suatu saat akan menjadi dosen. AIGI YPAG adalah kampus yang pertama kali memperkenalkan saya dengan dunia perguruan tinggi dan kehidupan akademik,” ujarnya.
Selama menempuh pendidikan, Sultan mengaku memperoleh fondasi ilmu gizi yang kuat melalui berbagai mata kuliah, mulai dari ilmu gizi dasar, biokimia gizi, teknologi pangan, mikrobiologi, dietetika klinik, penilaian status gizi, hingga masalah gizi masyarakat.
Bekal akademik tersebut, menurutnya, menjadi modal penting dalam membangun karier sebagai tenaga pendidik sekaligus praktisi di bidang gizi.
Momentum yang semakin menguatkan cita-citanya menjadi dosen terjadi ketika dipercaya menjadi asisten laboratorium dan asisten praktikum oleh para dosen yang menjadi tokoh penting dalam perkembangan ilmu gizi di Indonesia.
Saat masih berada di semester III, ia diminta almarhum Prof. Dr. Guntur Yusuf menjadi asisten di Laboratorium Mikrobiologi.
Selanjutnya, pada semester V dan VI, ia dipercaya Prof. Dr. dr. A. Razak Thaha, M.Sc. menjadi asisten praktikum Dietetika Klinik.
Kepercayaan itu berlanjut setelah lulus, ketika pada awal 1989 ia diminta menjadi asisten dosen di Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
“Sejak saat itu cita-cita saya berubah. Saya ingin menjadi dosen. Alhamdulillah, pada tahun 1998 saya diangkat menjadi dosen di Akademi Gizi Departemen Kesehatan Kendari dan hingga kini mengabdi sebagai dosen di Poltekkes Kemenkes Kendari,” katanya.
Selain aktif sebagai dosen, Sultan Akbar Toruntju juga dikenal sebagai pakar gizi yang banyak berkontribusi dalam program percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tenggara.
Ia tercatat pernah menjadi Konsultan Stunting BKKBN Provinsi Sulawesi Tenggara serta menjadi narasumber pada berbagai forum nasional terkait gizi masyarakat dan percepatan penurunan stunting.
Menurutnya, ilmu gizi memiliki peran yang sangat strategis karena tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga pencegahan penyakit melalui pola makan yang benar.
“Ilmu gizi memiliki keunggulan karena tidak hanya membantu menyembuhkan orang sakit, tetapi juga mencegah masyarakat agar tetap sehat. Kita sehat karena makanan, kita sakit karena makanan, dan kita juga bisa sembuh karena makanan,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak generasi muda yang ingin berkarier di bidang kesehatan untuk memilih AIGI YPAG Makassar sebagai tempat menimba ilmu.
Menurutnya, kampus tersebut telah melahirkan banyak alumni yang kini berkiprah sebagai dosen, peneliti, praktisi kesehatan, maupun pejabat di berbagai institusi.
“Saya mengajak adik-adik yang ingin mendalami ilmu gizi agar bergabung di AIGI YPAG Makassar. Kampus ini telah membuktikan mampu mencetak sumber daya manusia yang kompeten dan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kesehatan masyarakat,” katanya.
Sultan Akbar Toruntju mengaku akan selalu mengenang AIGI YPAG sebagai almamater yang membentuk karakter, kompetensi, dan cita-citanya.
“Bagi saya, AIGI YPAG bukan sekadar tempat kuliah, tetapi tempat yang mengubah perjalanan hidup saya hingga bisa menjadi dosen dan mengabdikan diri kepada masyarakat melalui ilmu gizi,” ujarnya.***


















