Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Ragam

90 Persen Siswa SMA Ki Hajar Dewantara Makassar Berasal dari Keluarga Miskin Ekstrem

×

90 Persen Siswa SMA Ki Hajar Dewantara Makassar Berasal dari Keluarga Miskin Ekstrem

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Sekitar 90 persen peserta didik SMA Ki Hajar Dewantara Makassar berasal dari keluarga miskin ekstrem yang tinggal di sejumlah kantong kemiskinan di Kota Makassar.

Kepala SMA Ki Hajar Dewantara Makassar, Drs Abdul Latif Hasan MM, mengatakan sekolah tersebut saat ini memiliki 109 peserta didik.

Example 300x600

Sebagian besar orang tua siswa bekerja dengan penghasilan tidak tetap dan menghadapi keterbatasan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka.

“Setiap saat ada orang tua yang menelepon ke sekolah dan menyampaikan bahwa anaknya tidak sempat masuk belajar karena tidak memiliki ongkos kendaraan,” kata Abdul Latif Hasan kepada media di Warkop Azzahra, Jl Abdullah Daeng Sirua, Makassar, Jumat (24/7/2026).

SMA Ki Hajar Dewantara Makassar beralamat di Jl Gunung Merapi No 96 B, Kota Makassar.

Siswa Patungan Ongkos Kendaraan

Menurut Abdul Latif, keterbatasan biaya transportasi menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi peserta didik untuk mengikuti pembelajaran di sekolah.

Para siswa biasanya berkumpul di tiga lokasi, yakni Sinassara, Sabutung, dan Jl Muhammad Hatta, Makassar.

Dari lokasi tersebut, mereka bersama-sama memesan kendaraan melalui aplikasi transportasi daring.

Biaya perjalanan kemudian dibayar secara patungan agar seluruh siswa dapat sampai ke sekolah.

“Mereka memiliki semangat yang sangat tinggi untuk tetap sekolah. Karena keterbatasan ekonomi, mereka berkumpul dan patungan membayar kendaraan menuju sekolah,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk memperoleh pendidikan.

Para orang tua juga tetap berupaya menyekolahkan anak-anak mereka meskipun harus menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi.

Tidak Memakai Seragam Sekolah

Kondisi ekonomi keluarga siswa juga terlihat dari pakaian yang digunakan saat mengikuti proses pembelajaran.

Abdul Latif mengungkapkan, hampir seluruh siswa tidak memiliki seragam sekolah yang lengkap.

Sebagian datang ke sekolah dengan mengenakan baju kaos, pakaian sehari-hari, bahkan memakai sandal.

Pihak sekolah tidak mempermasalahkan kondisi tersebut selama siswa tetap memiliki keinginan untuk belajar.

Menurutnya, keterbatasan pakaian dan perlengkapan sekolah tidak boleh menjadi alasan untuk menolak peserta didik memperoleh pendidikan.

“Semangat mereka untuk sekolah kami sambut dengan senang hati. Yang terpenting mereka tetap datang dan mengikuti pembelajaran,” katanya.

Sekolah Gratiskan Biaya Pendidikan

SMA Ki Hajar Dewantara Makassar memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengikuti proses pembelajaran secara gratis.

Kebijakan tersebut diambil agar siswa dari keluarga miskin ekstrem tidak berhenti sekolah hanya karena tidak mampu membayar biaya pendidikan.

Abdul Latif mengatakan para guru memahami kondisi sosial dan ekonomi keluarga peserta didik.

Karena itu, sekolah berupaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang ramah, terbuka, dan tidak membebani siswa.

Proses pembelajaran di sekolah tersebut didukung 17 guru tetap yang seluruhnya merupakan sarjana pendidikan.

Dari jumlah tersebut, lima guru telah memperoleh sertifikasi pendidik.

Satu Alumni Lulus di Unhas

Pada tahun ajaran 2025/2026, SMA Ki Hajar Dewantara Makassar meluluskan sebanyak 40 siswa.

Dari jumlah tersebut, satu siswa berhasil diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas).

Sejumlah alumni lainnya melanjutkan pendidikan ke Universitas Bosowa, Universitas Fajar, Universitas Pejuang Republik Indonesia, serta Universitas Indonesia Timur.

Keberhasilan tersebut dinilai membanggakan karena dicapai di tengah keterbatasan ekonomi yang dihadapi para siswa dan keluarganya.

Abdul Latif berharap pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat dapat memberikan perhatian lebih kepada siswa dari keluarga miskin ekstrem.

Bantuan transportasi, pakaian seragam, perlengkapan sekolah, serta beasiswa dinilai sangat dibutuhkan agar para siswa dapat mengikuti pembelajaran secara teratur.

Menurutnya, para siswa memiliki semangat belajar yang tinggi, tetapi masih membutuhkan dukungan agar tidak putus sekolah karena persoalan ekonomi.***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *