BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Koordinator Ketua Presidium Aliansi Dosen Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ADPERTISI), Dr. Buyung Romadhoni, S.E., M.Si., mengapresiasi pelaksanaan Workshop Optimalisasi Penggunaan Artificial Intelligence (AI) bagi Dosen di Lingkungan LLDIKTI Wilayah IX Angkatan III.
Workshop berlangsung di Aula Kantor LLDIKTI Wilayah IX Sultan Batara, Jalan Bung, Makassar, Jumat-Sabtu (7-8/8/2026).
Dr. Buyung Romadhoni, S.E., M.Si. hadir bersama sejumlah pengurus ADPERTISI. Di antaranya Dr. Fahrisal Husain, S.E., M.Si. dari Universitas Turatea Indonesia dan Arnida Idrus, S.E., M.Si., dosen Universitas Handayani Makassar.
Buyung mengatakan, pelatihan AI seperti ini sudah cukup lama dinantikan kalangan dosen. Perkembangan kecerdasan buatan yang sangat cepat membuat perguruan tinggi dan dosen tidak mempunyai pilihan selain terus meningkatkan kompetensi digital.
“Pelatihan seperti ini sudah cukup lama dinantikan oleh para dosen. Materi yang diberikan sangat aktual, disampaikan dengan bahasa yang sederhana, sistematis, dan mudah dipahami,” kata Dr. Buyung Romadhoni, S.E., M.Si.
Menurutnya, kemudahan memahami materi menjadi salah satu kekuatan workshop tersebut.
Peserta tidak hanya diperkenalkan pada AI secara konseptual, tetapi juga diarahkan memahami pemanfaatannya dalam menunjang aktivitas akademik.
AI Bisa Bantu Tridarma Perguruan Tinggi
Buyung menilai AI memiliki ruang pemanfaatan yang luas dalam pekerjaan dosen.
Teknologi tersebut dapat menjadi alat bantu dalam mempersiapkan pembelajaran, mengembangkan bahan ajar, mencari dan mengorganisasi gagasan penelitian, mendukung penulisan karya ilmiah, hingga membantu berbagai aktivitas pengabdian kepada masyarakat.
Karena itu, penguasaan AI menurut Buyung sudah menjadi salah satu kompetensi yang perlu dimiliki dosen di tengah transformasi pendidikan tinggi.
“Yang menarik, materi pelatihan tidak berhenti pada tataran teori, tetapi diarahkan pada penggunaan AI secara praktis sehingga mudah diikuti dan diterapkan oleh dosen,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan praktis diperlukan karena kemampuan digital dosen tidak seluruhnya berada pada tingkat yang sama.
Materi yang sederhana, mudah dipahami, dan langsung dipraktikkan membuat peserta dapat mengikuti perkembangan teknologi tanpa merasa AI sebagai sesuatu yang terlalu rumit.
“Model pelatihan seperti inilah yang dibutuhkan agar transformasi digital di perguruan tinggi benar-benar dapat dirasakan manfaatnya,” katanya.
Ingin Bagikan ke Ribuan Anggota dan Simpatisan ADPERTISI
Buyung tidak ingin pengetahuan yang diperoleh dalam workshop berhenti pada peserta yang hadir di Makassar.
Ia berharap materi dan pengalaman selama mengikuti workshop dapat dibagikan kepada jaringan ADPERTISI yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, ADPERTISI memiliki ribuan anggota dan simpatisan dari kalangan dosen yang tersebar di ratusan perguruan tinggi swasta.
Jaringan tersebut menjadi potensi besar untuk memperluas literasi AI di lingkungan pendidikan tinggi.
“ADPERTISI memiliki anggota dan simpatisan yang jumlahnya mencapai ribuan dosen dan tersebar di ratusan perguruan tinggi swasta di berbagai daerah di Indonesia. Pengetahuan dan keterampilan penggunaan AI seperti yang diperoleh dalam workshop ini sangat baik jika dapat ditransformasikan kepada jaringan ADPERTISI,” kata Buyung.
ADPERTISI, lanjutnya, dapat mengambil peran melalui pelaksanaan seminar, workshop, pelatihan, maupun forum berbagi praktik baik penggunaan AI.
Dengan pola tersebut, dosen yang telah mendapatkan pelatihan dapat menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan kepada dosen lainnya.
Pelatihan AI Jangan Hanya Sekali
Buyung berharap penguatan kompetensi AI bagi dosen dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, perkembangan teknologi AI berlangsung sangat cepat. Pengetahuan yang dianggap baru saat ini dapat mengalami perubahan dalam waktu relatif singkat.
Karena itu, dosen membutuhkan ruang pembelajaran dan pembaruan kompetensi secara terus-menerus.
Ia menilai kolaborasi antara LLDIKTI, perguruan tinggi, organisasi dosen, dan berbagai organisasi profesi dapat mempercepat proses peningkatan kompetensi tersebut.
ADPERTISI, katanya, siap menjadi bagian dari upaya memperluas pengetahuan dan keterampilan pemanfaatan AI, terutama kepada dosen perguruan tinggi swasta.
Ingatkan Etika dan Integritas Akademik
Meski mendorong pemanfaatan AI secara luas, Dr. Buyung Romadhoni, S.E., M.Si. mengingatkan dosen tidak boleh menyerahkan seluruh proses akademik kepada teknologi.
AI tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu.
Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, tanggung jawab ilmiah, validasi informasi, serta integritas akademik tetap berada pada dosen.
“Dosen tidak boleh tertinggal dari perkembangan teknologi. AI harus ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat kompetensi dan kreativitas dosen, bukan menggantikan peran intelektual, integritas akademik, dan tanggung jawab dosen sebagai pendidik,” tegas Buyung.
Ia berharap workshop LLDIKTI Wilayah IX tersebut menjadi pemicu semakin banyak dosen untuk mempelajari AI secara serius, sekaligus menggunakannya secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Bagi Buyung, penguasaan AI pada akhirnya bukan sekadar persoalan mengikuti tren teknologi. Kemampuan tersebut harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas dosen, memperkuat pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, serta menghasilkan pembelajaran dan karya akademik yang semakin berdampak.***


















