Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pendidikan

Prof Syamsidah, Guru Besar UNM yang Membaca Perubahan Keluarga di Era Digital

×

Prof Syamsidah, Guru Besar UNM yang Membaca Perubahan Keluarga di Era Digital

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Bagi Prof. Dr. Syamsidah, M.Pd., keluarga bukan sekadar tempat seseorang pulang. Di dalam keluarga berlangsung proses sosial paling awal: anak mengenal nilai, belajar menghargai orang lain, membentuk karakter, sekaligus memahami bagaimana dirinya hidup bersama masyarakat.

Namun, ruang keluarga itu kini berubah.

Example 300x600

Telepon pintar berada di meja makan. Percakapan tidak selalu berlangsung dengan saling menatap. Anak bisa mendapatkan jawaban dari Google lebih cepat daripada bertanya kepada orang tua. Kehadiran media sosial membuat ruang publik dan ruang privat keluarga semakin berkelindan.

Perubahan itulah yang menjadi kegelisahan akademik Syamsidah ketika memilih “Interaksi Sosial Keluarga Milenial” sebagai pidato ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam bidang Sosiologi Keluarga pada Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM).

Pidato itu disampaikan dalam Sidang Terbuka Luar Biasa Senat UNM di Makassar, Selasa (1/9/2026), dipimpin Plt Rektor UNM, Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum, di Ruang Teater Lantai 3 Menara Pinisi Kampus UNM Gunungsari Baru Makassar.

Bagi perempuan kelahiran Bulukumba, 5 Desember 1964, pencapaian sebagai profesor bukan semata-mata puncak karier akademik. Ia memandang jabatan Guru Besar sebagai amanah yang membawa konsekuensi tanggung jawab untuk ikut mengembangkan pendidikan di Indonesia.

Ketika Percakapan Keluarga Berpindah ke Layar

Perhatian Syamsidah terhadap keluarga berangkat dari kenyataan sederhana yang semakin mudah ditemui: teknologi telah mengubah cara anggota keluarga berhubungan.

Dalam orasi ilmiahnya, ia menempatkan keluarga sebagai unit sosial terkecil yang mempunyai posisi strategis dalam pembentukan karakter dan pewarisan nilai budaya. Namun, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola interaksi keluarga, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga menjadi fenomena global.

Perubahan itu terlihat nyata pada keluarga milenial.

Komunikasi yang sebelumnya didominasi perjumpaan langsung kini bergerak menuju komunikasi melalui perangkat dan media digital. Pada satu sisi, teknologi membuat komunikasi lebih mudah dan cepat. Pada sisi lain, berkurangnya tatap muka dapat memengaruhi hubungan orang tua dan anak.

Syamsidah bahkan menyoroti ancaman memudarnya komunikasi yang bersandar pada kearifan lokal.

Dalam konteks Sulawesi Selatan, ia menyebut nilai sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi sebagai nilai yang dapat berhadapan dengan kecenderungan individualisme ketika teknologi tidak digunakan secara bijak.

Kegelisahan tersebut tidak membuat Syamsidah menempatkan teknologi sebagai musuh keluarga.

Justru di titik itulah temuannya menjadi menarik.

Teknologi Tak Selalu Menjauhkan

Penelitian Syamsidah terhadap keluarga milenial di Kota Makassar menemukan perubahan interaksi dari komunikasi langsung menuju komunikasi digital dengan media sosial sebagai salah satu sarana utama.

Akan tetapi, perubahan tersebut tidak otomatis membuat hubungan keluarga menjadi renggang.

Ia menemukan keluarga melakukan adaptasi melalui akomodasi, asimilasi, dan kerja sama. Orang tua dan anak belajar saling menyesuaikan, nilai baru dipertemukan dengan tradisi, dan teknologi dimanfaatkan untuk mempertahankan harmoni keluarga.

Pada pandangan Syamsidah, kedekatan dengan demikian tidak harus selalu ditentukan oleh jarak fisik.

Keluarga dapat membangun kedekatan melalui pemahaman dan kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Strategi komunikasi lintas generasi yang ia tekankan meliputi keterbukaan, dukungan, sikap positif, dan kesetaraan.

Teknologi, dengan kata lain, tidak perlu menggantikan keluarga. Ia semestinya menjadi alat yang membantu keluarga mempertahankan hubungan.

Di balik gagasan tersebut tersimpan satu pesan yang lebih besar: transformasi digital pada akhirnya bukan hanya perkara perangkat, internet, atau media sosial. Ia juga menyentuh salah satu institusi sosial paling tua dalam kehidupan manusia—keluarga.

Jalan Panjang dari Bulukumba

Perhatian Syamsidah pada keluarga bukan tema yang tiba-tiba muncul menjelang pencapaian Guru Besar.

Jejak akademiknya menunjukkan tema sosial dan keluarga telah lama menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya.

Syamsidah lahir di Bulukumba, 5 Desember 1964. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Tanah Beru, Kecamatan Bontobahari, dan selesai 1977. Ia kemudian menyelesaikan SMPN Bontotiro pada 1980 dan pendidikan menengah atas di Bulukumba pada 1983.

Tahun yang sama, ia masuk IKIP Ujung Pandang, cikal bakal UNM, mengambil Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Pendidikan sarjananya diselesaikan pada 1987.

Perjalanan akademiknya kemudian bergerak semakin dekat dengan sosiologi.

Pada 1998, Syamsidah melanjutkan pendidikan magister di UNM dalam bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (Sosiologi) dan menyelesaikannya pada 2000. Ia kembali menempuh pendidikan doktoral bidang Sosiologi di UNM pada 2008 hingga 2012.

Topik karya ilmiahnya memperlihatkan pergeseran itu.

Tesisnya membahas pergeseran nilai anak dalam keluarga di Bulukumba, sedangkan disertasinya meneliti interaksi sosial pada keluarga pengguna jasa pembantu rumah tangga di Kota Makassar.

Keluarga akhirnya menjadi benang merah yang terus ia bawa dalam perjalanan akademiknya.

Dari Kaprodi hingga Wakil Dekan

Di kampus, Syamsidah tidak hanya menjalani kehidupan sebagai pengajar dan peneliti.

Ia pernah menjadi Ketua Program Studi S1 Pendidikan Kesejahteraan Keluarga pada 2003–2007. Kemudian menjadi Kepala Pusat PPK LPM UNM pada 2018–2020 dan Kepala Pusat PPM dan TTG LP2M UNM pada 2020–2024.

Sejak 2024, ia dipercaya sebagai Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Teknik UNM untuk periode 2024–2028.

Di ruang kuliah, bidang yang diampunya pun memperlihatkan keluasan perjumpaan antara keluarga, masyarakat, budaya, dan pendidikan. Di antaranya Sosiologi Keluarga, Sosiologi dan Psikologi Industri Boga, Antropologi Budaya Makanan, Metodologi Penelitian, Pelayanan Prima, dan Sistem Sosial.

Aktivitas risetnya juga bergerak di sekitar pendidikan, karakter, kearifan lokal, dan keluarga.

Pada 2023, misalnya, ia meneliti penguatan nilai kearifan lokal pada keluarga milenial di Kota Makassar. Setahun kemudian, penelitiannya mengangkat pengaruh pola asuh terhadap pembentukan karakter pada keluarga milenial di Kelurahan Karunrung, Makassar.

Salah satu karya ilmiahnya bersama kolega yang terbit pada 2021 secara khusus membahas dampak globalisasi terhadap generasi milenial dan interaksi sosial keluarga milenial di Kota Makassar.

Dari rangkaian itu terlihat bahwa pidato pengukuhan tentang keluarga milenial bukan tema yang dipilih sekadar untuk memenuhi seremoni akademik. Tema tersebut tumbuh dari perjalanan penelitian yang telah ia tekuni.

Guru Besar dan Ingatan tentang Orangtua

Di balik perjalanan panjang menuju jabatan akademik tertinggi, ada bagian personal yang mendapatkan tempat khusus dalam pidato Syamsidah.

Ia mempersembahkan keberhasilan itu kepada kedua orangtuanya, Puang Makkalalla dan Darwiyah, yang telah tiada.

Dalam ingatannya, kedua orangtuanya bukan hanya membesarkan dirinya. Mereka meletakkan dasar kehidupan yang religius dan sederhana serta memberikan perhatian, kasih sayang, dan doa.

Ia juga menyebut suaminya, Dr. H. Amir Muhiddin, M.Si., sebagai sosok yang setia mendampinginya dalam suka dan duka. Kepada anak-anak dan cucunya, Syamsidah menyimpan terima kasih karena memahami banyak waktu keluarga yang harus dibagi dengan perjalanan akademiknya.

Ada ironi kecil sekaligus makna di sana.

Seorang akademisi yang menghabiskan sebagian perjalanan intelektualnya mempelajari keluarga akhirnya berdiri sebagai Guru Besar dengan keluarga pula sebagai salah satu penyangga perjalanan hidupnya.

Keluarga Harmonis, Bangsa Kuat

Syamsidah berharap kajiannya tidak berhenti sebagai kumpulan teori dan publikasi akademik.

Penelitian tentang interaksi sosial keluarga milenial, menurut dia, harus memberikan kontribusi terhadap pengembangan Sosiologi Keluarga sekaligus membantu terciptanya keharmonisan keluarga.

Dari keluarga yang harmonis, ia meyakini dapat lahir bangsa yang kuat, sejahtera, dan bahagia.

Karena itu, setelah menjadi Guru Besar, jalan akademiknya tidak selesai. Ia justru membuka ruang untuk riset lanjutan, pengabdian kepada masyarakat, serta kolaborasi personal maupun kelembagaan.

Pada usia ketika teknologi semakin dalam memasuki ruang privat manusia, perhatian Syamsidah membawa kita kembali pada pertanyaan sederhana: ketika anggota keluarga semakin mudah terhubung secara digital, apakah mereka juga semakin dekat secara sosial dan emosional?

Bagi Syamsidah, jawabannya tidak harus pesimistis.

Teknologi boleh mengubah cara keluarga bercakap. Layar boleh mengambil sebagian ruang tatap muka. Namun, selama keluarga mampu menyesuaikan diri, menjaga komunikasi terbuka, merawat nilai, dan menjadikan teknologi sebagai pelengkap—bukan pengganti hubungan manusia—keluarga masih mempunyai peluang besar untuk tetap menjadi tempat pertama manusia belajar tentang kemanusiaan.***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *