Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pendidikan

Anggota DPR RI Eva Stevany Rataba di Wisuda UKIP: Perguruan Tinggi Harus Siapkan SDM Unggul Hadapi Era AI

×

Anggota DPR RI Eva Stevany Rataba di Wisuda UKIP: Perguruan Tinggi Harus Siapkan SDM Unggul Hadapi Era AI

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Anggota DPR RI sekaligus alumni Universitas Kristen Indonesia (UKI) Paulus Makassar, Eva Stevany Rataba, SH, MH, mengingatkan perguruan tinggi untuk bertransformasi menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Hal itu disampaikan Eva saat membawakan pidato ilmiah pada Dies Natalis ke-63 yang dirangkaikan dengan Wisuda UKI Paulus di Makassar, Rabu (2/9/2026).

Example 300x600

Pidato ilmiah tersebut mengangkat tema “Transformasi Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia Emas 2045: Menyiapkan SDM Unggul, Adaptif, Berkarakter, dan Berdaya Saing di Era Kecerdasan Artifisial.”

Eva mengatakan, usia 63 tahun bukan sekadar perjalanan waktu bagi UKI Paulus, melainkan perjalanan pengabdian, pembentukan manusia, pengembangan ilmu pengetahuan, serta kontribusi kepada masyarakat.

Momentum Dies Natalis, menurut dia, harus digunakan bukan hanya untuk melihat perjalanan masa lalu, tetapi juga memikirkan bentuk universitas yang dibutuhkan untuk menghadapi dua dekade mendatang.

Kampus Tak Cukup Hanya Transfer Pengetahuan

Eva menilai perkembangan AI, otomasi, komputasi awan, Internet of Things (IoT), hingga analitika data telah mengubah cara manusia belajar dan bekerja.

Teknologi kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi telah menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dan penciptaan nilai.

Kondisi tersebut, kata dia, membawa konsekuensi besar bagi dunia pendidikan tinggi.

“Universitas tidak cukup menjadi tempat transfer pengetahuan, sebab informasi kini tersedia hampir tanpa batas,” kata Eva.

Menurutnya, kampus harus menjadi ruang untuk membentuk kemampuan mahasiswa dalam berpikir, memecahkan masalah, berinovasi, berkolaborasi serta bertindak secara bertanggung jawab.

Ia menegaskan, tantangan perguruan tinggi bukan sekadar mengajarkan mahasiswa menggunakan AI.

Hal yang lebih penting adalah memastikan manusia tetap menjadi pengarah teknologi.

“AI harus memperkuat kapasitas manusia, bukan mengurangi integritas akademik, kreativitas dan tanggung jawab,” ujarnya.

Ijazah Saja Tidak Lagi Cukup

Eva mengatakan Indonesia Emas 2045 harus dimaknai sebagai cita-cita membangun bangsa maju yang ditopang sumber daya manusia berkualitas, produktif, inovatif dan berkarakter.

Bonus demografi, menurut dia, hanya akan menjadi kekuatan apabila didukung pendidikan yang relevan dan bermutu.

Perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena dari kampus lahir profesional, peneliti, wirausahawan hingga pemimpin.

Karena itu, kualitas pendidikan tinggi akan ikut menentukan kualitas pembangunan Indonesia.

“Ijazah saja tidak lagi cukup. Dunia kerja semakin menilai kompetensi nyata, kemampuan menyelesaikan masalah, berkomunikasi, bekerja sama, menggunakan teknologi dan terus belajar menghadapi perubahan,” katanya.

Lima Kompetensi SDM Masa Depan

Dalam pidatonya, Eva menyebut lima kompetensi utama yang perlu dimiliki sumber daya manusia masa depan.

Pertama, kompetensi keilmuan dan profesional. Fondasi ilmu yang kuat dibutuhkan agar lulusan mampu memilah informasi serta mengambil keputusan secara tepat.

Kedua, literasi digital, data dan kecerdasan artifisial. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menggunakan AI secara produktif, tetapi juga memahami keterbatasan, bias, etika, privasi serta tanggung jawab dalam penggunaannya.

Ketiga, kemampuan berpikir kritis, kreatif dan memecahkan masalah. Kemampuan tersebut semakin penting ketika berbagai pekerjaan rutin mulai dapat diotomatisasi.

Keempat, kompetensi sosial dan kepemimpinan, termasuk kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim multidisiplin, membangun jejaring dan memimpin perubahan.

Kelima, karakter, integritas dan tanggung jawab.

“Kecerdasan tanpa integritas dapat menjadi ancaman. Karena itu, pendidikan tinggi harus menghasilkan lulusan yang kompeten sekaligus dapat dipercaya,” kata Eva.

Peran Dosen Berubah di Era AI

Transformasi pendidikan tinggi, lanjut Eva, juga perlu dilakukan dalam proses pembelajaran.

Salah satunya melalui Outcome-Based Education (OBE) yang menempatkan capaian lulusan sebagai pusat proses pendidikan.

Perguruan tinggi juga harus memperkuat hubungan dengan industri, pemerintah, masyarakat, organisasi profesi dan jejaring global.

Pembelajaran berbasis proyek, riset terapan, magang, kewirausahaan serta pemecahan persoalan nyata perlu semakin diperluas.

Perkembangan AI juga mengubah peran dosen.

“Di era AI, dosen semakin penting sebagai perancang pengalaman belajar, mentor, peneliti, penjaga mutu akademik dan teladan integritas,” ujarnya.

UKI Paulus Perlu Perkuat Literasi AI

Memasuki usia 63 tahun, Eva menilai UKI Paulus memiliki modal sejarah yang kuat untuk memasuki fase baru sebagai universitas yang semakin adaptif, inovatif dan berdampak bagi masyarakat.

Ia mendorong UKI Paulus memperkuat kurikulum adaptif, pembelajaran berbasis capaian, literasi AI, riset dan inovasi, kolaborasi dengan dunia kerja hingga internasionalisasi.

Seluruh transformasi tersebut harus bermuara pada peningkatan mutu lulusan serta kontribusi terhadap pembangunan, khususnya di Indonesia Timur.

Namun, Eva mengingatkan transformasi teknologi tidak boleh membuat perguruan tinggi kehilangan identitas.

“Nilai kemanusiaan, integritas, pelayanan, tanggung jawab sosial dan kepedulian harus tetap menjadi kekuatan utama UKI Paulus,” katanya.

Jangan Takut dengan AI

Kepada para wisudawan, Eva berpesan agar tidak melihat kelulusan sebagai akhir dari proses belajar.

Gelar akademik justru menjadi awal tanggung jawab untuk menggunakan ilmu secara produktif, etis dan bermanfaat.

Ia meminta lulusan tidak takut menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial.

“Jangan takut terhadap kecerdasan artifisial. Pelajari dan gunakanlah secara cerdas sebagai pengungkit produktivitas dan kreativitas. Namun jangan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi,” pesannya.

Menurut Eva, manusia dan mesin tidak perlu dipertandingkan.

Mesin memiliki keunggulan dalam komputasi dan otomatisasi, sedangkan manusia mempunyai empati, nilai, pertimbangan moral, kreativitas serta kemampuan memberi makna.

Karena itu, karakter harus ditempatkan sejajar dengan kompetensi.

Indonesia Emas 2045, kata dia, membutuhkan manusia yang cerdas, berintegritas, bertanggung jawab serta mampu menggunakan teknologi untuk kepentingan bersama.

Ajak Masyarakat Kuliah di UKI Paulus

Sebagai alumni, Eva juga menilai UKI Paulus mengalami perkembangan dalam dua tahun terakhir.

Ia menyebut kampus tersebut telah menghasilkan sumber daya manusia unggul, termasuk sejumlah guru besar yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan.

Menurutnya, kampus ideal adalah tempat ilmu bertemu dengan karakter, teknologi bertemu kemanusiaan, penelitian bertemu kebutuhan masyarakat, serta pendidikan melahirkan solusi.

Eva pun mengajak masyarakat tidak ragu mempercayakan pendidikan anak-anak mereka di UKI Paulus.

“Saya mengajak kepada masyarakat untuk tidak ragu mengutus anak-anaknya belajar mempersiapkan masa depannya di UKI Paulus,” ujarnya.

Eva yang pada kesempatan tersebut juga menjadi bagian dari wisudawan menyampaikan terima kasih kepada rektor, pimpinan universitas, guru besar, fakultas, program studi, dosen dan tenaga kependidikan UKI Paulus.

Ia berharap UKI Paulus terus bertumbuh menjadi perguruan tinggi yang unggul, inovatif, berkarakter serta memberikan dampak nyata bagi Indonesia.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *