BERITASEMBILAN.Com-Badung. Pengelolaan sampah di Kabupaten Badung, Bali, menarik perhatian Wa Ode Hardiana Astri, S.IP., mahasiswa Magister Ilmu Administrasi Negara Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) Baubau.
Bagi Hardiana, pengelolaan sampah di daerah tujuan wisata tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak cukup ditangani pemerintah sendiri. Keterlibatan masyarakat, desa adat, dan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam tata kelolanya.
Hardiana merupakan satu dari 31 mahasiswa Program Magister Ilmu Administrasi Negara Unidayan yang mengikuti studi empiris di Pemerintah Kabupaten Badung pada 9–12 September 2026.
Rombongan dipimpin Direktur Program Pascasarjana Unidayan Prof Dr Drs Andi Tenri Machmud, M.Si.
“Sebagai mahasiswa S2 Ilmu Administrasi Negara Unidayan Baubau Angkatan 2025, saya melihat studi empiris di Pemda Badung Tahun 2026 ini sangat menarik,” kata Hardiana.
Menurut dia, kunjungan tersebut memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana prinsip tata kelola pemerintahan diterapkan.
“Kami melihat secara langsung bagaimana prinsip tata kelola pemerintahan diterapkan dalam praktik, khususnya dalam aspek pelayanan publik, transparansi, dan inovasi birokrasi,” ujarnya.
Good governance bukan sekadar teori
Hardiana mengatakan, pengalaman lapangan membuat mahasiswa dapat membandingkan materi yang dipelajari di ruang kuliah dengan praktik penyelenggaraan pemerintahan.
Menurut dia, good governance baru memiliki makna ketika prinsip-prinsipnya diterjemahkan menjadi pelayanan dan kebijakan yang menjawab kebutuhan masyarakat.
“Studi ini membantu kami memahami bahwa good governance bukan hanya konsep teoretis, tetapi harus diwujudkan melalui tata kelola yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” kata Hardiana.
Dalam studi empiris tersebut, mahasiswa mendalami lima tema.
Kelima tema itu adalah Perikanan Digital (Fish Go), Pengelolaan Lingkungan dan Sampah Badung, Tata Kelola Infrastruktur Kepariwisataan, Tata Kelola Mal Pelayanan Publik, serta Tata Kelola Keuangan melalui E-Hibah, E-Bansos, dan Badung Angelus Buana System.
Kelompok Hardiana secara khusus mempelajari pengelolaan sampah terpadu berbasis sumber.
Beberapa program yang menjadi bahan kajian kelompoknya antara lain BATIK, Rumah Hijau, Gelatik, Gotik, serta pengelolaan TPS3R.
Menurut Hardiana, hal penting yang mereka temukan bukan semata bagaimana sampah dikumpulkan dan diolah, tetapi bagaimana pengelolaannya ditempatkan sebagai bagian dari inovasi sektor publik.
“Bagi kami, ini bukan hanya soal pengelolaan sampah, tetapi juga bagaimana inovasi tata kelola sektor publik melibatkan pemerintah dan masyarakat secara bersama serta stakeholder terkait dan dapat memberi nilai tambah secara ekonomi kepada masyarakat,” ujarnya.
Peran desa adat
Hardiana juga mencatat peran desa adat dalam pengelolaan sampah di Badung.
Menurut dia, keterlibatan desa adat menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.
Pemilahan sampah telah dilakukan mulai dari sumbernya, termasuk sampah rumah tangga. Hal serupa juga dilakukan terhadap sampah dari perhotelan dan sektor usaha.
Bagi Hardiana, pendekatan tersebut menarik untuk dipelajari daerah lain. Namun, penerapannya tidak dapat sekadar disalin tanpa mempertimbangkan kondisi daerah masing-masing.
“Praktik seperti ini bisa menjadi referensi untuk diadopsi di daerah Kepulauan Buton dan Sultra secara umum, tentunya dengan menyesuaikan karakteristik, potensi, dan kebutuhan masing-masing daerah,” kata dia.
Dari dunia penyiaran ke birokrasi
Hardiana bukan hanya mahasiswa. Ia juga memiliki pengalaman panjang di bidang komunikasi dan pemerintahan.
Perempuan kelahiran Baubau, 28 Maret 1985, itu menyelesaikan pendidikan D3 Penyiaran Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung pada 2007.
Ia kemudian menyelesaikan S1 Ilmu Jurnalistik FISIP Universitas Halu Oleo Kendari pada 2012.
Kariernya bermula di dunia penyiaran. Pada 2008–2010, Hardiana bekerja sebagai reporter, penyiar berita, dan pengarah acara di TVRI Sulawesi Tenggara.
Sejak 2011, ia menjadi pegawai negeri sipil di Pemerintah Kabupaten Buton. Saat ini, Hardiana bertugas sebagai Pranata Humas Ahli Muda Sekretariat Daerah Kabupaten Buton.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan pada Program Magister Ilmu Administrasi Negara Unidayan dan menjadi Ketua Angkatan Studi Empiris 2026.
Dengan latar belakang sebagai aparatur pemerintah, Hardiana melihat studi empiris bukan semata kewajiban akademik. Pengalaman dari Badung dapat menjadi bahan untuk melihat kembali praktik pelayanan publik dan inovasi pemerintahan di daerah asal peserta.
Bagi Hardiana, pembelajaran paling penting dari Badung adalah bahwa inovasi tidak hanya berkaitan dengan program baru. Keberhasilannya juga bergantung pada kemampuan pemerintah membangun kolaborasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan, serta menyesuaikannya dengan karakter dan kebutuhan daerah. ***


















