Oleh: Prof. Dr. Dra. Munirah Muin, M.Pd
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Makassar
Seorang mahasiswa dapat menguasai bahasa asing, mengikuti perkuliahan internasional, dan berkomunikasi dengan orang dari berbagai negara.
Namun, kecakapan itu belum tentu membuatnya memahami mengapa orang lain berbicara, bersikap, atau mengambil keputusan dengan cara berbeda.
Kemampuan berkomunikasi perlu tumbuh bersama kesediaan memahami kebudayaan yang membentuk lawan bicara.
Di sinilah pendidikan tinggi menghadapi persoalan yang sering luput dari perhatian.
Kampus mendorong mahasiswa memasuki pergaulan global, sementara pembelajaran tentang kebudayaan kerap berhenti pada pengenalan pakaian tradisional, makanan, dan upacara adat.
Mahasiswa mengenal simbol, tetapi belum cukup terlatih membaca makna dan hubungan sosial di baliknya.
Literasi budaya menuntut kemampuan yang lebih mendalam. Mahasiswa perlu memahami konteks sebuah kebiasaan, menafsirkan nilai yang mendasarinya, serta memeriksa prasangka yang mungkin memengaruhi penilaiannya.
Kemampuan ini semakin dibutuhkan ketika ruang kuliah mempertemukan peserta didik dengan latar bahasa, agama, dan pengalaman sosial yang beragam.
Pertanyaannya, bagaimana kampus membawa kearifan lokal ke dalam pembelajaran yang membuka wawasan mahasiswa terhadap dunia?
Kearifan lokal dapat menjadi titik berangkat. Di dalamnya terdapat pengalaman masyarakat dalam membangun hubungan, menyelesaikan perselisihan, dan menjaga kehidupan bersama.
Kesantunan berbahasa, pengambilan keputusan bersama, serta kebiasaan saling membantu menyediakan bahan yang kaya untuk dipelajari.
Namun, nilai-nilai tersebut harus dibaca dalam konteks masyarakat yang menghidupinya. Istilah yang terasa akrab bagi masyarakat Indonesia belum tentu memiliki pengertian dan praktik yang sama di negara lain.
Kemiripan nilai merupakan pintu masuk percakapan, sedangkan perbedaannya menjadi kesempatan belajar.
Rancangan pendampingan integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran yang melibatkan Unismuh Makassar bersama University of Luzon dan Virgen Milagrosa University Foundation di Filipina membuka ruang untuk proses tersebut.
Kerja sama ini dapat mempertemukan pengalaman budaya mahasiswa kedua negara melalui pembelajaran bersama.
Nilai akademiknya akan semakin kuat apabila mahasiswa terlibat sebagai pembaca dan penafsir kebudayaan.
Mereka dapat membandingkan cara menyampaikan kritik, memahami hubungan antargenerasi, atau menelaah kebiasaan masyarakat dalam mengambil keputusan. Melalui kegiatan itu, kebudayaan hadir sebagai pengalaman manusia yang dapat dipahami dan didiskusikan.
Pembelajaran semacam ini membutuhkan perubahan cara mengajar. Dosen perlu memberi ruang bagi pertanyaan, perbedaan tafsir, dan pemeriksaan bukti.
Sebuah peribahasa, misalnya, dapat dibaca bersama cerita tentang kapan ungkapan tersebut digunakan, siapa yang mengucapkannya, serta bagaimana generasi muda memaknainya.
Dari sana, mahasiswa dapat menilai apakah suatu nilai masih relevan, mengalami perubahan, atau menimbulkan persoalan dalam situasi tertentu.
Sikap hormat kepada orang yang lebih tua dapat memperkuat hubungan sosial. Akan tetapi, mahasiswa juga perlu mendiskusikan bagaimana penghormatan itu berjalan bersama hak menyampaikan pendapat.
Demikian pula dengan kebersamaan. Mahasiswa perlu memahami kapan kebiasaan saling membantu memperkuat kehidupan masyarakat dan bagaimana memastikan kebersamaan tetap memberi ruang bagi pilihan individu.
Kemampuan mengajukan pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa pembelajaran budaya telah bergerak menuju pemahaman kritis.
Kampus perlu menyediakan perangkat yang mendukung proses tersebut. Modul pembelajaran sebaiknya memuat teks budaya beserta konteksnya, pertanyaan analitis, dan kegiatan refleksi.
Lembar kerja mahasiswa perlu mengarahkan mereka untuk membandingkan pengalaman, mencari penjelasan, serta menyusun kesimpulan berdasarkan bahan yang tersedia.
Penyusunan perangkat itu harus melibatkan mitra yang memahami kebudayaan setempat. Pelibatan mereka membantu menghindari penyederhanaan, terutama ketika suatu masyarakat digambarkan hanya melalui beberapa ciri yang dianggap mewakili seluruh warganya.
Teknologi digital memungkinkan dialog berlangsung melampaui kunjungan akademik. Kelas bersama secara daring dapat mempertemukan mahasiswa untuk membahas kasus yang sama.
Mereka dapat membaca bahan sebelum pertemuan, bertukar pandangan saat diskusi, lalu menulis refleksi setelah mendengar pengalaman peserta dari negara lain.
Keberadaan platform belum menjamin terjadinya pembelajaran. Dosen perlu memastikan setiap mahasiswa memperoleh kesempatan berbicara.
Perbedaan kemampuan bahasa, akses internet, dan kepercayaan diri harus diperhitungkan agar kelas internasional dapat diikuti secara bermakna.
Keberhasilan program juga perlu dinilai melalui perubahan kemampuan mahasiswa. Tes awal dan tes akhir dapat memberikan gambaran, tetapi penilaian perlu dilengkapi dengan pembacaan terhadap esai, diskusi, dan refleksi mereka.
Apakah mahasiswa mampu menjelaskan praktik budaya dengan mempertimbangkan konteksnya?
Apakah mereka dapat membedakan pengalaman pribadi dari generalisasi tentang suatu masyarakat? Apakah mereka bersedia memperbaiki pendapat setelah memperoleh informasi baru?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar penyusunan rubrik evaluasi.
Target peningkatan literasi budaya dalam rancangan program perlu diuji dengan ukuran yang jelas.
Kampus harus dapat menjelaskan kemampuan apa yang berkembang dan pengalaman belajar mana yang membantu perkembangan tersebut. Dengan begitu, evaluasi memberi masukan bagi perbaikan perkuliahan berikutnya.
Keberlanjutan menjadi pekerjaan lain yang menentukan. Modul, rekaman diskusi, dan hasil kerja mahasiswa perlu dikelola sebagai sumber belajar yang dapat digunakan kembali. Bahan-bahan itu juga harus terbuka untuk diperbarui karena kebudayaan terus berubah bersama masyarakatnya.
Pengabdian kepada masyarakat memperoleh makna yang lebih luas ketika menghasilkan kemampuan dan perangkat yang tetap digunakan setelah kegiatan berakhir. Kerja sama internasional pun akan memberi manfaat akademik apabila pengalaman perjumpaan diteruskan menjadi pembelajaran dalam kurikulum.
Pendidikan tinggi memiliki kesempatan untuk membentuk generasi yang mampu memasuki dunia dengan pemahaman terhadap akar budayanya sendiri.
Dari pemahaman itu, mahasiswa dapat belajar mendengarkan pengalaman orang lain tanpa tergesa-gesa menghakimi.
Ruang kuliah global yang kita perlukan adalah ruang tempat perbedaan dapat dibicarakan dengan pengetahuan dan rasa hormat.
Kearifan lokal menyediakan bahan untuk membangunnya. Tugas kampus adalah mengolah bahan tersebut menjadi pengalaman belajar yang membuat mahasiswa lebih cermat memahami manusia. ***
















