Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini Buku

Menghentikan “Teror” Pemakluman: Saat Orang Malas Menghukum yang Disiplin

×

Menghentikan “Teror” Pemakluman: Saat Orang Malas Menghukum yang Disiplin

Share this article
Example 468x60

​Oleh: Ahmad Firman

​Di banyak ruang rapat, ruang kuliah, hingga kantor-kantor di negeri ini, ada satu adegan familiar yang terus berulang tanpa pernah dikoreksi secara serius: puluhan orang duduk menunggu satu atau dua orang yang belum datang.

Example 300x600

​Rapat yang dijadwalkan pukul 09.00 baru dimulai pukul 09.45. Kuliah yang harusnya berlangsung tepat waktu terpotong karena dosen atau mahasiswa sibuk “memaklumi” keterlambatan kolega lainnya.

Lebih jauh lagi, dalam pekerjaan sehari-hari, pegawai yang kinerjanya buruk dan tidak mencapai target sering kali hanya dihadiahi senyuman, permakluman, dan beban kerjanya secara diam-diam dialihkan kepada mereka yang rajin.

​Fenomena ini bukan lagi sekadar persoalan “jam karet” atau dinamika sosial biasa. Ini adalah pergeseran nilai yang destruktif, di mana institusi tanpa sadar sedang memberikan reward bagi pelanggar aturan dan menjatuhkan punishment bagi mereka yang menghargai waktu.

​Perisai Semu “Ewuh Pakewuh”

​Mengapa budaya pemakluman ini begitu perkasa dan sulit dikikis? Akar utamanya sering dibungkus atas nama keharmonisan dan budaya ewuh pakewuh—rasa sungkan atau tidak enak hati.

Pemimpin atau atasan kerap enggan menegur secara tegas karena takut dituding “kejam”, kaku, atau merusak suasana kekeluargaan.

​Namun, memasukkan relasi sentimental ke dalam ruang akuntabilitas profesional adalah kekeliruan fatal.

Ketika ketidakdisiplinan dan kinerja yang buruk terus-menerus dimaklumi, organisasi sesungguhnya sedang menciptakan keharmonisan semu (pseudo-harmony).

​Di balik wajah manis “pemakluman” itu, ada ketidakadilan terselubung. Waktu dan dedikasi orang-orang yang datang tepat waktu dan berkinerja tinggi dianggap tidak berharga.

Mereka terpaksa membayar ketidakdisiplinan orang lain dengan waktu produktif yang terbuang sia-sia.

​Hukum Gresham dalam Budaya Kerja

​Dalam ilmu ekonomi dikenal Gresham’s Law: uang yang buruk akan menyingkirkan uang yang baik dari peredaran.

Logika ini berlaku presisi dalam budaya organisasi. Ketika standar yang buruk terus dimaklumi tanpa konsekuensi, standar yang baiklah yang akan tersingkir.

​Para pekerja kompeten (top performers) atau mahasiswa yang taat asas pada akhirnya akan mengalami demoralisasi.

Mereka dihadapkan pada dua pilihan pahit: ikut-ikutan melorot menyesuaikan diri dengan standar terendah, atau memilih keluar (resign) dari lingkungan yang tidak pernah menghargai integritas dan kerja keras.

​Jika kondisi ini dipelihara, jangan heran bila lembaga atau organisasi kita stagnan dan kalah bersaing. Mediokritas menjadi standar baru, sementara keunggulan (excellence) dianggap sebagai keanehan.

​Ketegasan Adalah Bentuk Penghormatan Tertinggi

​Sudah saatnya kita melakukan redefinisi atas konsep empati dan ketegasan.

Ketegasan dalam menegakkan aturan, seperti memulai rapat tepat waktu tanpa menunggu yang terlambat, serta memberlakukan evaluasi kinerja yang terukur bukanlah tindakan jahat.

Sebaliknya, ketegasan adalah bentuk rasa hormat (respect) tertinggi kepada mereka yang telah berkomitmen.

​Pemimpin di semua tingkatan, baik di perguruan tinggi, instansi pemerintah, maupun korporasi, harus berani memutus rantai pemakluman ini.

Ramah dan beretika itu wajib, namun menjadikan kearifan lokal atau asas kekeluargaan sebagai perisai untuk melanggengkan malas dan tidak disiplin adalah sebuah kemunduran.

​Menghargai manusia bukan dengan memanjakan ketidakmampuannya, melainkan dengan mendorong mereka untuk bertanggung jawab atas tugasnya.

Sebab pada akhirnya, kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh seberapa pandai kita memaklumi kekurangan, melainkan seberapa konsisten kita menegakkan standar kebaikan dan keadilan.***

 

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *