Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pendidikan

Prof Andis Hadirkan Tiga Akademisi Bahas Pappaseng di TVRI Sulsel, Kupas Nilai Silaturahim dari Sisi Kesehatan, Pendidikan dan Sastra

×

Prof Andis Hadirkan Tiga Akademisi Bahas Pappaseng di TVRI Sulsel, Kupas Nilai Silaturahim dari Sisi Kesehatan, Pendidikan dan Sastra

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Wakil Rektor I Unismuh Makassar, Prof. Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., kembali menghadirkan dialog budaya Pappaseng ri Elompugi di TVRI Sulawesi Selatan, Kamis (15/10/2026).

Memasuki episode ke-19, program yang digagas akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar yang akrab disapa Prof. Andis ini mengangkat tema “Pappaseng tentang Silaturahim, Merawat Ingatan dan Menjaga Hubungan”.

Example 300x600

Menariknya, pembahasan pesan-pesan leluhur masyarakat Bugis-Makassar tersebut menghadirkan tiga akademisi dari disiplin ilmu berbeda, yakni kedokteran dan kesehatan, pendidikan, serta sastra.

Ketiganya adalah Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unismuh Makassar, Prof. Dr. dr. Hj. Suryani As’ad, M.Sc., Sp.GK(K)., Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. H. Wahyuddin Hakim, M.Hum., serta Dekan Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd.

Prof. Andis tampil sebagai narasumber utama sekaligus penggagas program yang secara khusus mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Bugis-Makassar.

Dialog budaya tersebut dipandu Eric Alamsyah, sementara pelaksanaan program digerakkan oleh Dr. Muhammad Akhir, M.Pd., bersama tim.

Prof Andis Awali Dialog dengan Pesan Leluhur Bugis

Mengawali dialog, Prof. Andis menyampaikan salah satu pappaseng Bugis yang mengandung pesan mendalam mengenai pentingnya mengingat kebaikan orang lain dan menjaga hubungan antarsesama.

“Sengeka simata jarung kubali sengetokki sipupureng lino.”

Ungkapan tersebut memiliki makna, “Kenanglah daku seruncing mata jarum, maka akan kuingat dan kukenang sepanjang hidup.”

Pesan tersebut menjadi pengantar dialog mengenai silaturahim, merawat ingatan, dan memelihara hubungan baik dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, pappaseng merupakan pesan dan nasihat leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mencakup kejujuran, penghormatan, kesetiaan, tanggung jawab, serta pentingnya menjaga hubungan sosial.

Melalui ungkapan tersebut, Prof. Andis mengangkat kembali pesan bahwa perhatian dan kebaikan sekecil apa pun dapat menjadi kenangan yang bertahan sepanjang kehidupan.

Nilai silaturahim menjadi semakin relevan di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi komunikasi yang turut memengaruhi pola hubungan antarmanusia.

Prof Suryani As’ad Kaitkan Pappaseng dengan Karakter Calon Dokter

Dari perspektif kedokteran dan kesehatan, Prof. Suryani As’ad menekankan pentingnya nilai-nilai pappaseng Bugis sebagai bekal pembentukan karakter mahasiswa kedokteran.

Ia mengharapkan mahasiswa kedokteran tidak hanya menguasai pengetahuan medis dan keterampilan klinis, tetapi juga memiliki kepribadian yang baik dalam menjalankan profesinya kelak.

Prof. Suryani mengangkat empat nilai utama dalam kearifan lokal Bugis, yakni Mappaccing Ati, Mapaccing Lila, Mapaccing Watakkale, dan Mapaccing Pangkaukang.

Mappaccing Ati berarti memiliki hati yang bersih dan suci. Nilai ini mengajarkan ketulusan, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam dunia kedokteran, kebersihan hati menjadi landasan moral bagi calon dokter untuk melayani pasien dengan penuh tanggung jawab dan kemanusiaan.

Nilai kedua, Mapaccing Lila, berarti menjaga tutur kata agar tetap sopan dan dapat diterima dengan baik oleh orang lain.

Bagi mahasiswa kedokteran, nilai tersebut berkaitan dengan pentingnya komunikasi yang santun, terutama ketika berhadapan dengan pasien dan keluarganya.

Seorang dokter tidak hanya dituntut mampu memberikan pelayanan medis, tetapi juga harus dapat membangun hubungan yang baik melalui tutur kata yang menghargai martabat manusia.

Sementara itu, Mapaccing Watakkale mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan diri.

Nilai ini memiliki hubungan langsung dengan prinsip kesehatan, terutama dalam membangun kebiasaan hidup bersih dan menjaga kesehatan pribadi.

Adapun Mapaccing Pangkaukang berarti menjaga kebersihan sikap dan perilaku.

Nilai tersebut menekankan pentingnya integritas, etika, dan tanggung jawab dalam setiap tindakan.

Keempat nilai yang disampaikan Prof. Suryani memperlihatkan bahwa pesan leluhur Bugis dapat menjadi landasan pembentukan karakter calon dokter yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan perilaku yang baik.

Wahyuddin Hakim Tekankan Pendidikan Karakter dan Kurikulum Cinta

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Dr. H. Wahyuddin Hakim, M.Hum., mengulas pappaseng dari perspektif pendidikan.

Wahyuddin menekankan pentingnya membentuk generasi penerus yang memiliki karakter baik melalui proses pendidikan yang menanamkan nilai moral, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama.

Menurutnya, pendidik memiliki peran penting dalam membangun karakter siswa, tidak hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembahasannya, Wahyuddin turut menyinggung pentingnya Kurikulum Cinta sebagai pendekatan pendidikan yang menempatkan nilai kasih sayang dan kepedulian sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.

Nilai-nilai tersebut memiliki keterkaitan dengan pappaseng Bugis-Makassar yang mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik, menghormati orang lain, dan memelihara persaudaraan.

Melalui pendidikan karakter, pesan-pesan leluhur dapat diperkenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari pembelajaran etika dan kehidupan sosial.

Sekolah dan madrasah memiliki peran strategis dalam memastikan nilai-nilai kearifan lokal tetap dikenal dan dipraktikkan oleh peserta didik.

Dengan demikian, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.

Dekan Fakultas Sastra UMI Kupas Makna Pappaseng

Dari perspektif sastra, Dekan Fakultas Sastra UMI Makassar, Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd., membahas pappaseng sebagai bagian dari kekayaan sastra lisan masyarakat Bugis-Makassar.

Tradisi tersebut menyimpan nilai moral, filosofi kehidupan, dan pandangan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam kajian sastra, pappaseng memiliki kekuatan pada penggunaan bahasa simbolik, ungkapan, dan perumpamaan untuk menyampaikan pesan kehidupan.

Salah satu contohnya adalah ungkapan yang disampaikan Prof. Andis pada pembukaan dialog.

Perumpamaan tentang mata jarum menggambarkan bahwa perhatian yang sangat kecil sekalipun dapat memiliki makna besar dalam hubungan antarmanusia.

Pesan tersebut memperlihatkan bagaimana sastra daerah mampu menyampaikan nilai kesetiaan, penghargaan, dan ingatan sosial melalui ungkapan yang singkat.

Pembahasan dari perspektif sastra juga memperkuat pentingnya menjaga dan mendokumentasikan warisan budaya agar tetap dikenal oleh generasi muda.

Di tengah perkembangan zaman, pelestarian pappaseng menjadi bagian dari upaya mempertahankan identitas budaya Bugis-Makassar.

Episode 19 Jadi Ruang Pertemuan Tiga Disiplin Ilmu

Kehadiran tiga akademisi dari bidang kedokteran, pendidikan, dan sastra memberikan warna tersendiri dalam episode ke-19 Pappaseng ri Elompugi.

Dialog tersebut memperlihatkan bahwa pesan-pesan leluhur Bugis-Makassar dapat dikaji melalui berbagai perspektif keilmuan.

Dari sisi kesehatan, nilai pappaseng dapat menjadi sumber pembentukan etika dan karakter calon tenaga medis.

Dari sisi pendidikan, pesan leluhur memiliki hubungan dengan pembentukan karakter generasi muda melalui keteladanan pendidik dan pendekatan Kurikulum Cinta.

Sementara dari perspektif sastra, pappaseng merupakan warisan budaya yang mengandung makna filosofis dan nilai kehidupan yang perlu terus dilestarikan.

Sebagai penggagas program, Prof. Andis berupaya menghadirkan kembali pesan-pesan leluhur Bugis-Makassar melalui dialog yang melibatkan akademisi dari berbagai disiplin ilmu.

Program Pappaseng ri Elompugi di TVRI Sulawesi Selatan menjadi salah satu ruang literasi budaya yang mempertemukan kajian akademik dengan kehidupan masyarakat.

Melalui media penyiaran, nilai-nilai budaya yang selama ini diwariskan secara lisan memperoleh ruang untuk dibahas dan diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.

Episode ke-19 yang mengangkat tema silaturahim, merawat ingatan, dan menjaga hubungan sekaligus mengingatkan pentingnya mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan modern.

Pesan pappaseng tentang menjaga hati, tutur kata, kebersihan diri, perilaku, serta membangun hubungan sosial yang baik menjadi bagian dari warisan budaya yang tetap relevan bagi dunia kesehatan, pendidikan, dan kehidupan bermasyarakat.

Melalui kolaborasi akademisi dan media penyiaran, program ini diharapkan terus menjadi sarana pelestarian sastra Bugis-Makassar sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *