Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pendidikan

Prof Dr Andis Paparkan Pappaseng Bugis dan La Galigo di Konferensi Internasional Kesusasteraan ke-35 di UNY

×

Prof Dr Andis Paparkan Pappaseng Bugis dan La Galigo di Konferensi Internasional Kesusasteraan ke-35 di UNY

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Prof Dr H Andi Sukri Syamsuri, M.Hum, bersama dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unismuh, Dr Muhammad Akhir, SPd, MPd, mengangkat kekayaan sastra Bugis dalam Konferensi Internasional Kesusastraan (KIK) ke-35 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 26–27 Oktober 2026.

Keduanya membawakan makalah berjudul “Pappaseng Bugis dan Sastra Indonesia dalam Perspektif Komparatif: Menegosiasikan Lokalitas dalam Ruang Sastra Transnasional”.

Example 300x600

Makalah tersebut mengkaji hubungan antara warisan sastra Bugis, nilai-nilai budaya lokal, dan peluang sastra Indonesia untuk berkembang dalam percaturan kesusastraan dunia.

Konferensi yang diselenggarakan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bersama UNY itu mengusung tema “Dinamika Sastra Bandingan: Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia”.

Kegiatan berlangsung di Gedung Ki Ageng Suryamentaram, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) UNY, dengan menghadirkan akademisi, peneliti, dan sastrawan dari Indonesia serta sejumlah negara.

Sebanyak 112 makalah penelitian dijadwalkan dipresentasikan melalui enam ruang sidang paralel selama dua hari.

Prof Andi Sukri Syamsuri, yang akrab disapa Prof Andis, juga merupakan Ketua HISKI Komisariat Sulawesi Selatan yang dilantik pada Senin (26/10/2026) di kampus UNY.

Pappaseng dan La Galigo Jadi Fokus Kajian

Pada pemaparan ilmiahnya, Prof Andis bersama Muhammad Akhir membandingkan dua kekayaan kesusastraan Bugis, yakni Pappaseng dan La Galigo.

Keduanya dipandang sebagai warisan sastra yang memiliki karakter berbeda, tetapi sama-sama menyimpan nilai budaya, identitas, dan pandangan hidup masyarakat Bugis.

Pappaseng merupakan tradisi petuah atau nasihat yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini memuat prinsip etika, pedoman hubungan sosial, serta pandangan mengenai perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada kajian tersebut, Pappaseng To Matoa dan Pappaseng To Riolo ditempatkan sebagai bagian dari tradisi yang mengekspresikan nilai budaya melalui nasihat dan refleksi etis.

Sementara itu, La Galigo merupakan karya sastra epik Bugis yang merepresentasikan kehidupan masyarakat melalui tokoh, peristiwa, hubungan sosial, ritual, serta gambaran kosmologi.

Perbedaan utama kedua karya tersebut terletak pada cara menyampaikan nilai budaya.

Pappaseng menyampaikan pesan moral secara langsung melalui petuah dan prinsip etis. Sebaliknya, La Galigo menghadirkan nilai budaya secara tidak langsung melalui alur cerita, interaksi tokoh, konflik, dan gambaran kehidupan masyarakat.

Meskipun memiliki bentuk penyampaian berbeda, keduanya memperlihatkan kekayaan tradisi sastra Bugis dalam merekam nilai-nilai kehidupan sosial.

Nilai Siri’ dan Solidaritas dalam Sastra Bugis

Salah satu aspek penting yang dibahas dalam makalah tersebut adalah hubungan antara kesusastraan dan pembentukan identitas budaya masyarakat Bugis.

Dalam Pappaseng, identitas budaya dibangun melalui prinsip dan nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Nasihat yang terkandung di dalamnya menjadi pedoman mengenai perilaku yang dianggap baik, tanggung jawab terhadap sesama, serta pentingnya menjaga martabat.

Nilai siri’ atau kehormatan menjadi salah satu unsur yang mendapat perhatian dalam pembahasan tersebut.

Pappaseng menegaskan pentingnya tanggung jawab interpersonal, martabat, dan solidaritas sebagai dasar hubungan sosial dalam masyarakat.

Sementara dalam La Galigo, identitas budaya dikonstruksi melalui silsilah tokoh, praktik ritual, hubungan antarkelompok, dan representasi kehidupan sosial masyarakat Bugis.

Hubungan antartokoh dalam cerita epik tersebut memperlihatkan bagaimana nilai budaya hadir dalam berbagai peristiwa dan interaksi sosial.

Kajian ini menunjukkan bahwa sastra tidak hanya berfungsi sebagai karya seni bahasa, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai dan identitas budaya.

Melalui sastra, masyarakat dapat mengenali pandangan hidup, sistem nilai, dan hubungan sosial yang berkembang dalam perjalanan sejarah kebudayaannya.

Gunakan Pendekatan Sastra Bandingan

Penelitian Prof Andis dan Muhammad Akhir menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis sastra bandingan.

Korpus penelitian bersumber dari teks Pappaseng dan epik La Galigo.

Analisis dilakukan melalui pembacaan cermat atau close reading secara komparatif dengan memperhatikan empat dimensi utama, yakni nilai budaya, identitas budaya, relasi sosial, dan lokalitas.

Dari hasil perbandingan tersebut, ditemukan bahwa Pappaseng dan La Galigo memiliki perbedaan bentuk sastra, tetapi sama-sama berfungsi dalam mempertahankan dan mentransmisikan nilai budaya masyarakat Bugis.

Pappaseng menggunakan ungkapan nasihat yang relatif singkat dan terstruktur, sedangkan La Galigo menghadirkan narasi epik mitologis dan historis yang lebih luas.

Kedua bentuk kesusastraan itu memperlihatkan keragaman cara masyarakat Bugis mengekspresikan pengalaman, pengetahuan, dan nilai budayanya.

Perbandingan tersebut juga memperluas pemahaman terhadap sastra daerah, bukan semata-mata sebagai sumber kajian antropologi atau pendidikan, melainkan sebagai karya yang dapat dianalisis secara kritis melalui pendekatan kesusastraan.

Sastra Bugis Berpeluang Masuk Percaturan Dunia

Aspek lain yang menjadi perhatian dalam makalah tersebut adalah posisi sastra lokal di tengah perkembangan kesusastraan nasional dan transnasional.

Prof Andis dan Muhammad Akhir menempatkan lokalitas bukan hanya sebagai persoalan wilayah geografis.

Lokalitas juga mencakup nilai budaya, memori kolektif, identitas, serta pandangan hidup yang melekat pada suatu komunitas.

Dengan pemahaman tersebut, karya sastra Bugis memiliki peluang untuk dikaji dan diperkenalkan dalam ruang kesusastraan yang lebih luas.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pappaseng dan La Galigo dapat menjadi bagian dari keberagaman sastra Indonesia sekaligus berinteraksi dengan tradisi sastra dunia.

Dalam kajian itu, pertemuan sastra lokal dengan sastra global tidak harus menghilangkan identitas budaya asalnya.

Sebaliknya, karya sastra lokal dapat memperoleh pembacaan dan pemaknaan baru ketika diperkenalkan kepada masyarakat dari latar belakang bahasa dan kebudayaan yang berbeda.

Perspektif tersebut sejalan dengan tema konferensi yang menempatkan sastra Indonesia sebagai bagian dari warga sastra dunia.

Melalui kajian sastra bandingan, warisan kesusastraan Bugis dapat dibaca dalam hubungan yang lebih luas dengan tradisi kesusastraan Indonesia dan internasional.

Perkuat Kajian Sastra Daerah di Perguruan Tinggi

Pada bagian kesimpulan, makalah Prof Andis dan Muhammad Akhir menegaskan bahwa perbedaan antara wacana etis Pappaseng dan representasi naratif La Galigo memperlihatkan kekayaan serta keberagaman internal tradisi kesusastraan Bugis.

Pendekatan sastra bandingan dinilai mampu memperluas pemahaman mengenai kearifan lokal melalui analisis sastra yang kritis.

Penempatan karya sastra Bugis dalam ruang kesusastraan Indonesia dan transnasional juga membuka kesempatan bagi nilai-nilai lokal untuk terus dimaknai dan dikembangkan tanpa kehilangan kekhasan budayanya.

Kajian tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya peran perguruan tinggi dalam meneliti, mendokumentasikan, dan memperkenalkan kekayaan kesusastraan daerah.

Partisipasi Prof Andis dan Muhammad Akhir dalam KIK ke-35 menjadi bagian dari kontribusi akademisi Unismuh Makassar dalam pengembangan penelitian sastra dan kebudayaan Nusantara.

Melalui forum internasional tersebut, Pappaseng dan La Galigo diperkenalkan sebagai dua warisan kesusastraan Bugis yang memiliki relevansi dalam pembahasan identitas budaya, hubungan sosial, serta posisi sastra lokal dalam perkembangan kesusastraan dunia.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *