BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Rektor Universitas Cahaya Prima (UNCAPI) Bone, Sulawesi Selatan, Prof Dr Andi Cahaya, MSi, menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai kekuatan moral dalam menjaga martabat demokrasi Indonesia di tengah tantangan politik, perubahan sosial, dan perkembangan teknologi digital.
Hal tersebut menjadi penekanan utama dalam makalah yang dibawakannya sebagai pembicara utama (keynote speaker) pada Seminar Nasional ke-27 Forum Komunikasi Dekan FISIP dan Ketua STISIP Perguruan Tinggi Swasta (FK-DKISIP PTS) se-Indonesia, Rabu (28/10/2026).
Seminar yang digelar secara daring dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 tersebut mengangkat tema “Spirit Sumpah Pemuda dalam Peran Mahasiswa sebagai Kekuatan Moral untuk Memelihara Marwah Negara Demokrasi”.
Dalam pemaparannya, Prof Andi Cahaya mengajak mahasiswa merefleksikan kembali semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 28 Oktober 1928.
Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini tidak lagi sebatas memperjuangkan persatuan bangsa, tetapi juga menjaga agar demokrasi berjalan berdasarkan nilai keadilan, kebebasan, integritas, dan kepentingan rakyat.
Ia mengingatkan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk menghargai perbedaan pandangan politik, menjaga persatuan, serta membangun komunikasi publik yang santun dan bertanggung jawab.
Prof Andi Cahaya Soroti Lima Tantangan Demokrasi Indonesia
Dalam materi yang disampaikan, Prof Andi Cahaya mengidentifikasi sejumlah tantangan yang dihadapi demokrasi Indonesia.
Tantangan tersebut meliputi korupsi dan penyalahgunaan kewenangan, polarisasi politik, melemahnya etika dialog, penyebaran disinformasi, ketimpangan akses terhadap keadilan, serta persoalan kepercayaan publik terhadap institusi.
Menurutnya, demokrasi tidak cukup hanya dinilai dari penyelenggaraan pemilihan umum.
Kualitas demokrasi juga harus dilihat dari bagaimana kekuasaan dijalankan, kebebasan masyarakat dijamin, hukum ditegakkan, serta kebijakan pemerintah memberikan manfaat bagi rakyat.
Dalam makalahnya, Prof Andi Cahaya menempatkan kedaulatan rakyat, supremasi hukum, kebebasan berpendapat, dan akuntabilitas sebagai unsur penting dalam menjaga martabat negara demokrasi.
Ia merujuk prinsip kedaulatan rakyat dalam Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945 sebagai salah satu landasan kehidupan demokrasi Indonesia.
Karena itu, mahasiswa diharapkan memiliki kesadaran kritis terhadap berbagai persoalan kebangsaan tanpa kehilangan optimisme dalam membangun masa depan Indonesia.
Mahasiswa Harus Jadi Kekuatan Moral dan Pengawas Kebijakan
Prof Andi Cahaya menjelaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis dalam kehidupan demokrasi karena berada dalam lingkungan pendidikan yang mengembangkan pengetahuan, pemikiran kritis, dan nilai-nilai etika.
Dalam paparannya, ia menguraikan empat peran penting mahasiswa, yakni sebagai moral force, agent of change, social control, dan guardian of values.
Sebagai kekuatan moral, mahasiswa diharapkan menyuarakan kejujuran, keadilan, dan nilai kemanusiaan.
Sebagai agen perubahan, mahasiswa perlu menghadirkan solusi terhadap persoalan masyarakat melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan inovasi.
Sementara sebagai kekuatan kontrol sosial, mahasiswa memiliki tanggung jawab mengawasi kebijakan publik melalui kritik yang didukung data dan argumentasi ilmiah.
Adapun sebagai penjaga nilai, mahasiswa diharapkan tetap menjunjung Pancasila, konstitusi, dan persatuan bangsa.
Prof Andi Cahaya juga mengingatkan bahwa kritik mahasiswa tidak seharusnya berhenti pada penolakan terhadap suatu kebijakan.
Kritik perlu disertai kemampuan membaca persoalan secara objektif, menyampaikan aspirasi secara damai dan konstitusional, serta menawarkan alternatif solusi yang dapat dilaksanakan.
Mahasiswa juga diharapkan ikut mengawal tindak lanjut kebijakan agar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ingatkan Bahaya Hoaks dan Polarisasi Politik di Media Sosial
Perkembangan teknologi digital turut menjadi perhatian Prof Andi Cahaya dalam seminar tersebut.
Menurut materi yang dipaparkannya, kemajuan teknologi informasi memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh dan menyebarkan informasi.
Namun, perkembangan itu juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran hoaks, ujaran kebencian, manipulasi opini, dan polarisasi di ruang digital.
Karena itu, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan literasi digital yang baik.
Mereka perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, memahami konteks suatu peristiwa, dan memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.
Prof Andi Cahaya juga menekankan pentingnya etika komunikasi di media sosial.
Perbedaan pendapat tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan martabat orang lain.
Mahasiswa diharapkan menjadi teladan dalam membangun dialog yang sehat, mengedepankan argumentasi, serta menolak penyebaran informasi yang dapat memecah belah masyarakat.
Kampus Harus Jadi Laboratorium Demokrasi
Selain menyoroti tanggung jawab mahasiswa, Rektor Universitas Cahaya Prima Bone itu juga menekankan peran perguruan tinggi dalam membangun budaya demokrasi.
Menurutnya, kampus harus menjadi tempat mahasiswa mempelajari sekaligus mempraktikkan nilai-nilai demokrasi.
Hal tersebut dapat diwujudkan melalui kebebasan akademik, keterbukaan ruang dialog, kepemimpinan organisasi kemahasiswaan yang akuntabel, serta pendidikan karakter dan kewarganegaraan.
Perguruan tinggi juga diharapkan mengembangkan penelitian mengenai persoalan publik dan menghubungkan kegiatan pengabdian masyarakat dengan kebutuhan warga.
Dalam paparannya, Prof Andi Cahaya menawarkan lima strategi penguatan demokrasi yang dapat dilaksanakan oleh mahasiswa dan perguruan tinggi.
Strategi tersebut mencakup peningkatan literasi demokrasi dan konstitusi, pengembangan budaya kritik ilmiah, penguatan integritas organisasi kemahasiswaan, dialog lintas identitas dan pilihan politik, serta kolaborasi penelitian dan pengabdian masyarakat.
Ia juga mengusulkan pengembangan Gerakan Mahasiswa Berintegritas melalui jejaring FK-DKISIP.
Gerakan tersebut diarahkan pada tiga agenda, yakni kampus demokratis, peningkatan kecerdasan digital, dan aksi sosial yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Ajak Mahasiswa Melanjutkan Semangat Pemuda 1928 dan Reformasi 1998
Prof Andi Cahaya juga mengajak peserta seminar melihat perjalanan sejarah gerakan pemuda Indonesia.
Ia menghubungkan semangat persatuan tahun 1928, perjuangan kemerdekaan 1945, perubahan politik 1966, hingga Reformasi 1998 sebagai bagian dari perjalanan tanggung jawab generasi muda terhadap bangsa.
Menurutnya, setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda, tetapi memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kepentingan bangsa.
Pada 2026, mahasiswa dihadapkan pada tantangan menjaga substansi demokrasi, bukan sekadar prosedur politik.
Dalam bagian penutup makalahnya, Prof Andi Cahaya menyampaikan pesan reflektif kepada mahasiswa Indonesia.
“Pemuda 1928 mewariskan persatuan. Generasi 1945 memperjuangkan kemerdekaan. Generasi Reformasi membuka ruang demokrasi. Kini mahasiswa menjaga agar demokrasi tetap berintegritas dan bermartabat,” demikian pesan penutup Prof Andi Cahaya.
Ia juga mengajak mahasiswa membangun lima komitmen kebangsaan, yakni berpihak pada kebenaran dan kepentingan rakyat, menjunjung konstitusi dan supremasi hukum, menghormati perbedaan, mengembangkan kritik ilmiah yang santun, serta mengubah gagasan menjadi aksi sosial yang berdampak.
Seminar Nasional FK-DKISIP Hadirkan Akademisi dari Berbagai Kampus
Seminar Nasional ke-27 FK-DKISIP PTS se-Indonesia dilaksanakan secara daring pada Rabu (28/10/2026), pukul 08.30–12.00 WIB.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Umum Pengurus Pusat FK-DKISIP, Prof Dr Samugyo Ibnu Redjo, MA.
Selain Rektor Universitas Cahaya Prima Bone sebagai pembicara utama, seminar menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai perguruan tinggi.
Mereka adalah Drs Junus Kwelju, MSi, Dekan FISIP Universitas Kristen Indonesia Maluku, Ambon; Dr Nani Harlinda Nurdin, MSi, Dekan FISIP Universitas Indonesia Timur Makassar periode 2021–2025; serta Dr Tatang Sudrajat, Drs, SIP, MSi, Sekretaris Jenderal FK-DKISIP sekaligus dosen Universitas Sangga Buana Bandung.
Narasumber lainnya yakni Dr Heri Herdiawanto, SPd, MSi, Dekan FISIP Universitas Al Azhar Indonesia periode 2021–2025, dan Dr (C) Askarmi Harun, SSos, MSi, Dekan FISIPOL Universitas Riau Kepulauan Batam.
Seminar dipandu moderator Dr Rita Rahmawati, MSi, Dekan FISIP Universitas Djuanda Bogor, dengan pembawa acara Diwan Setiawan, SDs, MSn, Dekan FKD Unibi Bandung.
Melalui seminar tersebut, FK-DKISIP mengajak kalangan akademisi dan mahasiswa menjadikan peringatan Sumpah Pemuda sebagai momentum memperkuat tanggung jawab moral dalam menjaga persatuan dan kualitas demokrasi Indonesia.***


















