Oleh:
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin
KH. Zainut Tauhid Sa’adi, Wakil Ketua Baznas RI saat ini, dan Wakil Menteri Agama pada masanya, suka merespon catatan subuh saya dengan candaan yang mengena. Saat beliau menjadi Wakil Menteri Agama, saya sudah sangat akrab dengan candaan-candaan beliau.
Pak Kyai Zainut pernah mengatakan bahwa saya adalah orang paling terkenal di dunia Islam. Saya juga bingung karena jangkauan saya adalah kelas lokal. Ternyata beliau mengatakan bahwa setiap orang yang memulai ceramah atau khutbah pasti menyebut nama saya, “hamdan katsiran”.
Di waktu yang lain, beliau memperkenalkan saya kepada audiens di sebuah pertemuan bahwa kami empat bersaudara. Saya terkaget-kaget. Kenapa beliau bisa tahu kalau betul kami empat bersaudara. Padahal saya tidak pernah cerita sedikitpun tentang saudara-saudara saya.
Saya juga hidup berjarak secara posisi, geografi, dan etnis dengan beliau. Rupanya beliau melanjutkan, adapun nama-nama saudara saya: 1. Hamdan Syakirin 2. Hamdan Naimin 3. Hamdan Yuwafi dan 4. Hamdan Juhannis. Semua peserta pertemuan pada tertawa terpingkal dengan candaan beliau.
Saat saya mengirimkan tulisan tentang “Selesai dengan Dirinya”, Kyai Zainut membalas saya dengan mengirimkan tiga ciri orang yang sudah selesai dengan dirinya dengan jargon “3 S”. 1. Sudah kapok melawan takdir. 2. Sudah berdamai dengan takdir, dan 3. Sudah menyandang gelar terpuji (Hamdan).
Rupanya Pak Kyai Zainut “menembak” otobiografi yang pernah saya tulis yang berjudul, “Melawan Takdir.” Tapi buku itu sempat menemani Pak Kyai waktu dikarantina karena terkena covid. Mengaku saja yah Pak Kyai! Maaf, balik menyerang ini.
Baru saja kemarin beliau menyentil lagi saya dengan sebuah cerita lucu berikut ini: Ada seorang Rektor meninggal dan saat sampai di depan pintu surga, Malaikat penjaga mengecek buku catatan amal. Malaikat: “Wah, di sini tercatat Saudara sering memotong anggaran organisasi mahasiswa. Ini poin kejahatan.”
Rektor: “Tunggu dulu! Itu bukan kejahatan, itu ‘Pendidikan Karakter’ agar mereka belajar mandiri mencari sponsor.” Malaikat: “Lalu ini, Bapak sering bikin aturan yang mempersulit penyelesaian skripsi?” Rektor: “Itu bukan kejahatan! Itu ‘Kebaikan Terselubung’ supaya mereka tidak cepat-cepat lulus dan menambah angka pengangguran nasional!” Malaikat itu bingung, lalu berbisik, “Bapak ini benar-benar Rektor hebat ya, bahkan dosa saja bisa direbranding menjadi prestasi.”
Saya selalu “ngakak” dengan kejelian Pak Kyai Zainut meluncurkan humor yang fresh, cerdas, nendang, dan lucu. Kata orang, kelucuan adalah cara orang yang memandang dunia dengan ringan. Kelucuan adalah kecerdasan yang memakai senyum, bukan kerutan muka.
Pantasan, meskipun Pak Kyai lebih senior dari saya, tapi saya lebih kaya kerutan muka dibanding beliau.***
















