Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Ragam

Adil Akbar: Sejarah sebagai Sumber Inspirasi dalam Penulisan Cerpen

×

Adil Akbar: Sejarah sebagai Sumber Inspirasi dalam Penulisan Cerpen

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Sejarah tidak hanya berfungsi sebagai ilmu dan informasi yang diajarkan di sekolah atau kuliah, tetapi juga sebagai sumber inspirasi yang dapat dikembangkan menjadi karya fiksi, khususnya cerpen.

Hal ini disampaikan oleh Adil Akbar, penulis buku Secangkir Kopi yang Berkisah, dalam Talkshow & Bedah Buku bertajuk “Menghidupkan Sejarah dan Memikat Penerbit”, yang digelar di Alliance Française Makassar, Jalan Maipa Nomor 2, Pantai Losari, pada Minggu, 19 April 2026.

Example 300x600

Dalam acara tersebut, Adil Akbar, yang juga seorang guru di SMKN 10 Makassar, menyatakan bahwa ia menulis cerpen berlatar sejarah sebagai cara untuk menarik minat siswa-siswanya dalam mempelajari sejarah. “Saya menulis cerpen berlatar sejarah sebagai cara saya memikat siswa-siswa saya untuk mendalami sejarah,” ujarnya.

Adil Akbar, yang merupakan alumni Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Makassar (UNM) pada tahun 2016 dan Magister Pendidikan IPS dengan Konsentrasi Pendidikan Sejarah dari PPs UNM (2019), mengungkapkan bahwa ia banyak terinspirasi oleh para dosennya, termasuk Suryadi Mappangara dan Alwy Rachman.

Lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa, pada 6 April 1993, Adil Akbar menjelaskan bahwa judul bukunya, Secangkir Kopi yang Berkisah, diambil karena banyak cerpen yang ditulisnya di warung kopi, di tengah keramaian pengunjung.

“Cerpen-cerpen berlatar sejarah ini saya hasilkan setelah membaca buku dan melakukan riset,” kata penulis yang menggunakan nama pena Adil Akbar Ilyas Ibrahim Husain tersebut, sambil menunjukkan sejumlah buku yang menjadi referensinya.

Antologi cerpen Secangkir Kopi yang Berkisah adalah buku ketiga Adil Akbar. Sebelumnya, ia telah menerbitkan dua buku kumpulan cerpen, yaitu Seorang Lelaki yang Berkisah (2021) dan Hikayat dalam Secangkir Kopi (2025).

Acara Talkshow & Bedah Buku ini dipandu oleh Oskar dari Tim Diskusi Buku Bareng. Selain itu, turut hadir pula beberapa tokoh literasi dan akademisi, di antaranya Randy Prayuda dari Médiathéque Alliance Française, Yudhistira Sukatanya (sutradara teater, sastrawan, dan budayawan), Dr. Fadli Andi Natsif (akademisi UIN Alauddin, Makassar, dan penulis), Arif Sikki (guru dan penulis), serta sejumlah peserta dari komunitas literasi dan mahasiswa.

Setelah pemaparan mengenai proses kreatif Adil Akbar dalam menulis buku, acara dilanjutkan dengan bedah buku. Rusdin Tompo, penulis dan pegiat literasi yang juga Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan, memberikan apresiasi terhadap idealisme Adil Akbar dalam menulis cerpen. “Latar belakang penulis akan mempengaruhi motivasi dan sudut pandang karyanya,” ujar Rusdin.

Menurutnya, cerpen-cerpen Adil Akbar memiliki dua kategori, yaitu cerpen berlatar sejarah dan cerpen sejarah. “Dalam cerpen-cerpen ini, penulis menyisipkan pesan multikulturalisme, yang menunjukkan bahwa dia menghargai perbedaan dan keragaman budaya,” tambahnya.

Muhajir MA, pegiat literasi dan jurnalis, juga memberikan penilaian positif terhadap unsur sejarah dalam cerpen-cerpen Adil Akbar. “Cerpen yang dihasilkan oleh Adil Akbar memiliki kekuatan tersendiri, karena berhasil menghidupkan elemen sejarah yang diintegrasikan dengan karakter-karakter yang kuat,” ujarnya. Muhajir juga mengingatkan bahwa dalam menulis cerpen, penulis perlu sabar dan tidak terburu-buru, meskipun sering kali batasan jumlah kata yang ditentukan redaksi bisa menjadi kendala.

Sementara itu, Ferdhiyadi, pegiat literasi dan dosen Fakultas Ilmu Sosial-Hukum UNM, mengungkapkan pendapatnya terkait tokoh-tokoh besar yang sering muncul dalam cerpen-cerpen Adil Akbar.

“Sebenarnya menarik bila penulis lebih menonjolkan sudut pandang orang biasa dalam cerpennya, karena selama ini, suasana dan gejolak batin orang biasa jarang diungkap dalam cerpen berlatar sejarah,” jelas Ferdhiyadi.

Setelah sesi bedah buku, acara dilanjutkan dengan talkshow mengenai penerbitan buku dan penulisan naskah yang siap diterbitkan. A. Nursayyidatul Lutfiah dari Forum Lingkar Pena (FLP) turut membuka kelas menulis bagi peserta yang hadir. (*)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *