Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini Buku

Tuhan Tidak Lagi di Langit

×

Tuhan Tidak Lagi di Langit

Share this article
Example 468x60

Oleh:

Najamuddin, Sosiolog UNM

Example 300x600

Jam 04.30 WITA. Adzan Subuh belum selesai, tapi HP sudah bunyi: grup WA keluarga forward ceramah 1 menit, “Ustadz, benarkah kiamat 2027?” Belum sempat jawab, buka TikTok, FYP langsung menyodorkan ustadz berpeci bilang, “Shalat Subuh itu wajib, tapi lebih wajib lagi follow dan share video ini biar dapat pahala jariyah.”

Selamat datang di Indonesia 2026: Tuhan tidak lagi di langit. Ia pindah ke grup WA, FYP YouTube, dan brosur umroh cicilan yang bisa dibayar pakai “mahar”. Sebagai sosiolog, saya menyebut ini deterritorialisasi agama: ketika yang sakral lepas dari masjid dan kitab, lalu hidup di layar HP (Roy, 2004).

  1. Tuhan Pindah ke Grup WA dan FYP

Dulu otoritas agama lahir dari Bahtsul Masail berjam-jam. Sekarang lahir dari forward WA. Saya punya tetangga di Gowa. Tiap malam dapat 10 potongan ceramah dari 10 grup: grup RT, grup arisan, grup alumni SD. Isinya bentrok semua. Ustadz A di WA grup RT bilang “musik haram mutlak”. Ustadz B di WA grup alumni bilang “musik halal asal liriknya baik”. Si ibu bingung, akhirnya tanya ke anaknya yang SMP: “Yang benar yang mana?” Anaknya jawab, “Yang FYP-nya 2 juta, Ma.”

Ini yang disebut mediatisasi agama (Hjarvard, 2013): logika media mengalahkan logika kitab. Algoritma YouTube lebih kejam lagi. Ia tidak peduli sanad. Ia peduli watch time. Bulan lalu ada 2 ustadz debat soal “bolehkah istri kerja”. Ustadz pertama pakai kitab 30 menit, view 8 ribu. Ustadz kedua pakai storytelling + nangis 3 menit, view 1.2 juta. Komentar isinya, “Ustadz kedua lebih menyentuh hati”. Di era algoritma, mufti baru kita namanya “Recommended for You”.

  1. Tuhan Bisa Dicicil, Bahkan Jadi Mahar

Pergeseran kedua: surga masuk marketplace. Ini komodifikasi spiritualitas (Carrette & King, 2005). Di Sulsel, saya temui 3 kasus dalam setahun terakhir.

Kasus 1: Mahar Umroh. Calon pengantin di Pinrang sepakat, maharnya bukan emas 10 gram, tapi “paket umroh plus Turki” Rp85 juta. Akad nikah selesai, 2 minggu kemudian upload foto di depan Ka’bah dengan caption, “Maharku membawaku ke Baitullah”. Ibadah dan validasi sosial cair jadi satu.

Kasus 2: Arisan Haji. Ibu-ibu di Pangkep bikin arisan haji. Setoran Rp2 juta/bulan. Yang dapat arisan langsung berangkat tahun itu juga pakai “dana talangan haji”. Brosurnya jujur: “Haji Dulu, Bayar Belakangan. Bunga 0%”. Surga bisa dicicil seperti motor.

Kasus 3: Umroh Berhadiah Tanah Kavling. Sebuah travel di Gowa promo: “Daftar umroh 3 orang, gratis 1 kavling tanah di Mawang”. Jemaah tidak hanya beli perjalanan spiritual, tapi juga beli “tanah dekat tanah suci”-nya An-Nadzir. Spiritualitas, properti, dan eskatologi dijual dalam 1 paket.

  1. Tuhan Punya Dua Alamat di Sulsel

Lalu apa jadinya kalau “Tuhan yang turun ke FYP dan brosur” ini sampai di Sulawesi Selatan? Ia melahirkan dua wajah. Ini yang saya sebut glokalisasi (Robertson, 1995): arus global direspon lokal sesuai habitusnya.

Di Gowa, Tuhan memilih alamat di Mawang. Komunitas An-Nadzir percaya tanah itu dijanjikan untuk Imam Mahdi. Mereka sempat menutup diri: kalender sendiri, tolak TV, tolak Pemilu. Warga sempat curiga. Tapi An-Nadzir lalu membuka pintu lain: buka warung, bantu warga miskin, jualan hasil kebun. Hasilnya? Dari dicurigai jadi diterima. Ini “Islam benteng” yang melakukan strategic adaptation: menolak dunia secara teologi, tapi merangkul dunia secara ekonomi agar bisa bertahan.

Pindah ke Selayar. Di sana Tuhan memilih alamat yang beda. Kelompok Muhdi Akbar mengajarkan Appakatide: semua manusia sama derajat, yang penting baik ke sesama dan alam. Syari’at? Tidak wajib. Hasilnya? Pejabat suka, wisatawan senang, karena narasinya “damai”. Ini “Islam jembatan” yang memakai strategic essentialism (Spivak, 1988): menyederhanakan agama jadi “harmoni” agar langsung diterima pasar dan negara.

Penutup: Membaca Langit yang Sudah Runtuh 

Jadi, Tuhan tidak lagi di langit bukan berarti kita jadi ateis. Justru sebaliknya: Tuhan ada di mana-mana. Di grup WA yang isinya ceramah bentrok, di FYP yang memahkotai ustadz 3 menit, di mahar yang wujudnya tiket umroh, di arisan haji yang sistemnya cicilan.

Pertanyaannya bukan lagi “apakah Anda beragama?”, tapi “agama versi algoritma siapa yang Anda forward?” Sebagai sosiolog, saya melihat ini sebagai arena kontestasi (Bourdieu, 1993): kebenaran diperebutkan bukan hanya dengan dalil, tapi dengan follower, like, dan kavling tanah.

Tugas kita bukan menghakimi An-Nadzir, Muhdi Akbar, atau ibu-ibu arisan haji. Tugas kita adalah membaca. Membaca bahwa ketika langit sebagai alamat tunggal Tuhan runtuh, manusia akan menciptakan alamat-alamat baru di bumi. Ada yang berbentuk benteng di Gowa, ada yang berbentuk jembatan di Selayar, ada yang berbentuk link ShopeePayLater untuk umroh.

Dan memahami itu adalah syarat pertama agar kita tidak kaget melihat masa depan Indonesia: tempat kesalehan, algoritma, dan brosur cicilan duduk di meja yang sama. (Bumi Batara Gowa, Awal Mei 2026).***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *