BERITASEMILAN.Com-Gowa. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa, Lisnawaty Djamaluddin, S.KM., M.Kes., menegaskan pentingnya peran kader Posyandu dalam mendukung percepatan penurunan stunting di Kabupaten Gowa.
Hal itu disampaikan Lisnawaty saat tampil sebagai narasumber pada Pelatihan Media Edukasi Digital untuk Kampanye Pencegahan Stunting yang digelar Tim Pengabdi Program Kemitraan Masyarakat (PKM) LP3M Unismuh Makassar di Kantor Desa Timbuseng, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Kamis 18 Juni 2026.
Pada materinya berjudul, Situasi dan Kebijakan Stunting Daerah, Konsep Pencegahan Stunting dan Peran Kader Posyandu, Lisnawaty memaparkan situasi stunting di Kabupaten Gowa, kebijakan pemerintah daerah, konsep pencegahan stunting, serta strategi percepatan penurunan stunting yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Ia menjelaskan, prevalensi stunting di Kabupaten Gowa mengalami penurunan signifikan hingga mencapai 17 persen pada tahun 2024.
Menurutnya, capaian tersebut sudah berada di bawah angka 20 persen. Namun, upaya penanganan stunting masih harus terus diperkuat agar target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 12,15 persen pada tahun 2029 dapat tercapai.
“Angka stunting di Kabupaten Gowa sudah turun hingga 17 persen pada tahun 2024. Tetapi pekerjaan kita belum selesai, karena target nasional pada 2029 adalah 12,15 persen,” kata Ketua PERSAGI Gowa ini.
Dia menjelaskan, stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang.
Kondisi tersebut, kata dia, menyebabkan tinggi badan anak berada di bawah standar yang telah ditetapkan pemerintah. Karena itu, pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini, bahkan sebelum masa kehamilan, tandas Sarjana Kesehatan Masyarakat Unhas 2008 ini.
Ia menegaskan, pencegahan stunting perlu dimulai dari remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, hingga anak usia lima tahun, ungkap Magister Kesehatan Unhas ini.
Menurut Lisnawaty, penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Strategi percepatan penurunan stunting juga harus mencakup peningkatan kualitas kehidupan keluarga, pemenuhan gizi, perbaikan pola asuh, peningkatan akses layanan kesehatan, serta penyediaan air minum dan sanitasi yang layak.
“Stunting bukan hanya persoalan kesehatan. Ada faktor gizi, pola asuh, sanitasi, air bersih, dan kualitas kehidupan keluarga yang harus diperhatikan bersama,” tandas Ketua Bidang Ilmiah Inovasi dan Riset dan Pengembangan Asosiasi Nutrisionis Indonesia Sulsel ini.
Lisnawaty juga menekankan pentingnya keberadaan kader Posyandu sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa.
Menurutnya, kader Posyandu memiliki peran strategis dalam memberikan penyuluhan, melakukan deteksi dini, memantau tumbuh kembang balita, serta mengedukasi remaja putri, ibu hamil, dan keluarga balita.
Ia berharap kader Posyandu tidak hanya aktif dalam kegiatan pelayanan rutin, tetapi juga mampu menjadi penggerak edukasi kesehatan di tengah masyarakat.
Kenyataan saat ini, kata Lisnawaty, edukasi pencegahan stunting perlu memanfaatkan media digital agar pesan kesehatan dapat menjangkau lebih banyak warga. Media sosial seperti TikTok, YouTube, WhatsApp, dan berbagai platform digital lainnya dapat digunakan untuk menyebarkan informasi sederhana tentang gizi, pola asuh, kesehatan ibu dan anak, serta pentingnya pemeriksaan rutin di Posyandu.
Menurutnya, kampanye digital sangat penting karena masyarakat kini banyak memperoleh informasi melalui telepon genggam dan media sosial. Karena itu, kader Posyandu perlu dibekali kemampuan membuat pesan edukatif yang singkat, menarik, benar, dan mudah dipahami.
Pelatihan ini dilaksanakan oleh Tim Pengabdi PKM LP3M Unismuh Makassar dari dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Plt Desa Timbuseng, Arifai, S.Sos membuka secara resmi pelatihan ini dan Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Fisip Unismuh Makassar, Dr Syukri, S.Sos, M.Si juga memerika sambutan.
Tim PKM LP3M Unismuh Makassar, terdiri atas Dr. Muhammad Yahya, M.Si., Dr. Hafiz Elfiansya Parawu, S.T., M.Si., dan Arni, S.Kom., M.I.Kom., serta didampingi sejumlah mahasiswa.
Selain Lisnawaty Djamaluddin, S.KM., M.Kes., pelatihan ini juga menghadirkan Dosen Ilmu Komunikasi Unismuh Makassar, Ahmad Syarif, S.Sos., M.I.Kom., sebagai narasumber dengan membawa materi, Pembuatan KIE Stunting
Kegiatan tersebut diikuti kader Posyandu dari sejumlah dusun di Desa Timbuseng, bidan desa, serta unsur masyarakat setempat.
Turut hadir Ketua Tim Penggerak PKK Desa Timbuseng, Hj. Rahmawati, Bintara Pembina Desa Timbuseng, Serma TNI Abd Salam, Wakil Ketua PCM Pattallassang, Muzakkir Dg Tompo, Kepala Dusun Tamalate, Munawir Muzakkir, S.Pd.I., serta Kepala Dusun Bollangi, Asriadi.
Melalui kegiatan ini, Unismuh Makassar berharap kader Posyandu di Desa Timbuseng semakin mampu memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi pencegahan stunting.
Pelatihan ini juga menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung program pemerintah daerah dan nasional untuk menurunkan angka stunting secara berkelanjutan. (ulla)


















