BERITASEMGILAN.Com-Makassar. Impian yang puluhan tahun lalu hanya hadir dalam angan-angan akhirnya menjadi kenyataan. Saat masih duduk di bangku sekolah, Belanda hanya dikenal melalui pelajaran sejarah sebagai salah satu negara yang pernah menjajah Indonesia.
Nama-nama kota, budaya, serta ikon negeri kincir angin itu dahulu hanya tergambar lewat buku pelajaran dan cerita para guru di kelas.
Namun pada pertengahan Mei 2026, kesempatan untuk mengunjungi langsung Belanda menjadi pengalaman yang penuh kesan, terutama saat menikmati dua destinasi wisata ikonik, yakni Zaanse Schans dan desa nelayan cantik Volendam.
“Dulu ketika belajar sejarah di sekolah, Belanda hanya ada dalam bayangan sebagai negara penjajah Indonesia. Tidak pernah terbayang suatu hari bisa melihat langsung suasana khas negeri ini, menikmati desa-desa tradisionalnya, dan menyaksikan ikon kincir angin yang selama ini hanya terlihat di buku pelajaran,” ungkap Rektor UNIPOL Soppeng, Dr Hj. Andi Adawiah, SE, M.Si.
Di kawasan Zaanse Schans, suasana tradisional langsung terasa sejak memasuki area wisata. Hamparan padang hijau berpadu dengan deretan kincir angin tua yang berdiri megah menjadi daya tarik utama kawasan tersebut. Lokasi ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya paling populer di Belanda karena mempertahankan suasana abad ke-18 dan ke-19.
Selain menikmati panorama alam, pengunjung juga dapat melihat secara langsung proses pembuatan keju khas Belanda, kerajinan sepatu kayu atau clogs, hingga museum kecil yang menyimpan sejarah kehidupan masyarakat Belanda tempo dulu.
“Zaanse Schans menghadirkan pengalaman wisata yang sangat berbeda. Nuansa tradisionalnya begitu kuat, bersih, nyaman, dan tertata. Tempat ini seperti membawa pengunjung kembali ke masa lalu Belanda,” katanya.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Volendam, desa nelayan di tepi laut yang terkenal dengan pelabuhan tradisional dan rumah-rumah warna-warni khas Eropa.
Di sepanjang kawasan pelabuhan Volendam, wisatawan disuguhkan panorama kapal-kapal nelayan yang bersandar rapi dengan latar bangunan klasik khas Belanda. Berbagai restoran seafood dan kafe di tepi laut juga ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Keunikan lain dari Volendam adalah masyarakatnya yang masih mempertahankan budaya dan pakaian tradisional sebagai identitas daerah sekaligus daya tarik wisata.
Menurut Dr. Hj. Andi Adawiah kunjungan tersebut memberikan pengalaman baru tentang bagaimana sebuah negara mampu menjaga sejarah dan budaya menjadi kekuatan wisata dunia.
“Kunjungan ini bukan sekadar perjalanan wisata, tetapi juga perjalanan nostalgia dari masa sekolah. Dulu hanya membaca tentang Belanda dalam buku sejarah, sekarang bisa melihat langsung kehidupan masyarakatnya, budayanya, dan keindahan alamnya,” ujarnya.
Perjalanan wisata itu sekaligus menjadi momentum menikmati musim semi di Belanda pada pertengahan Mei 2026, ketika cuaca cerah dan panorama alam sedang berada dalam kondisi terbaiknya. ***


















