BERITASEMBILAN.Com-Pinrang — Institut Cokroaminoto Pinrang secara resmi mengukuhkan Prof. Dr. Muhammad Masdar, S.Pd., M.Pd. sebagai Guru Besar Sosiologi Politik, Kamis (15/1/2026), dalam sidang senat terbuka yang digelar di Gedung Masjid Agung Al Muna]
Pada pidato pengukuhannya yang berjudul “Dari Konfrontasi ke Koalisi: Analisis Interaksionis-Simbolik atas Negosiasi Kepentingan dalam Politik”, Prof Masdar menawarkan perspektif sosiologis yang menempatkan politik sebagai proses interaksi sosial yang sarat makna, bukan semata pertarungan kekuasaan yang kaku dan rasional.
Dia menjelaskan, politik dalam pandangan awam kerap dipersepsikan sebagai arena dingin yang didominasi kepentingan material. Namun, melalui lensa interaksionisme simbolik—sebuah perspektif yang berakar pada pemikiran George Herbert Mead dan Herbert Blumer—politik justru dipahami sebagai ruang dialog yang dinamis, manusiawi, dan konstruktif.
“Politik bukan hanya soal struktur dan institusi, tetapi tentang bagaimana makna diciptakan, dinegosiasikan, dan dipertahankan melalui simbol-simbol dalam interaksi sosial,” ujar Prof Masdar di hadapan para undangan.
Menurutnya, masyarakat modern menghadapi tantangan serius berupa pluralitas dan fragmentasi sosial. Globalisasi, digitalisasi, serta percepatan arus informasi membuka ruang dialog yang luas, namun sekaligus memunculkan potensi konflik akibat perbedaan identitas, nilai, dan kepentingan.
Dalam konteks tersebut, Prof Masdar menegaskan bahwa sosiologi, sebagai bagian dari ilmu sosial, tidak cukup hanya menjelaskan realitas, tetapi juga harus menawarkan kerangka konseptual untuk membangun pemahaman dialogis dan integrasi sosial. Salah satu pendekatan yang dinilainya relevan dan terus aktual adalah interaksionisme simbolik.
Ia mencontohkan bagaimana kepemimpinan politik dibangun melalui simbol. Gaya berbicara, pilihan busana seperti peci, batik, atau dasi, kendaraan yang digunakan, hingga latar belakang kehidupan pribadi seorang pemimpin merupakan “teks simbolik” yang ditafsirkan publik. Bahkan gestur sederhana seperti jabat tangan, kunjungan kerja, atau sikap diam sekalipun mengandung makna politik.
“Interaksionisme simbolik bukan hanya teori, tetapi juga strategi intelektual dan etis untuk menyatukan berbagai kepentingan. Dengan menempatkan makna, dialog, dan interpretasi sebagai pusat kehidupan sosial, kita membangun jembatan pemahaman di tengah perbedaan,” tegasnya.
Ia menutup pidato dengan menekankan tanggung jawab insan akademik untuk tidak hanya memproduksi pengetahuan, tetapi juga merawat ruang interaksi yang manusiawi, adil, dan inklusif.
Rekam Jejak Akademik dan Kepakaran
Prof. Muhammad Masdar lahir di Salurindu, Polewali Mandar, pada 24 Mei 1971. Ia saat ini merupakan dosen yang diperbantukan pada LLDIKTI Wilayah IX di Institut Cokroaminoto Pinrang.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SPG Negeri Mamuju (1989). Ia meraih gelar D-II PGSD IKIP Ujung Pandang (2000), S1 PPKn Universitas Negeri Makassar (UNM) (2002), S2 Sosiologi UNM (2002), dan S3 Sosiologi UNM (2007). Prof Masdar juga mengikuti Sandwich Program di University of Southern Australia pada 2009.
Kariernya dimulai sebagai guru SD Rappokalling Makassar (1995–2003), sebelum beralih menjadi dosen di lingkungan LLDIKTI Wilayah IX sejak 2003. Ia pernah menjabat Ketua Program Studi PPKn STKIP Cokroaminoto Pinrang (2004–2008), Wakil Pimpinan Bidang Akademik (2008–2014), Ketua LPPM STKIP Cokroaminoto Pinrang (2014–2020), serta pimpinan STKIP DDI Mamuju (2020–2021).
Karya Ilmiah dan Buku
Sebagai akademisi, Prof Masdar aktif menulis di jurnal nasional dan internasional, di antaranya:
- Stereotype, Prejudice and Social Distance in Multiethnic Society (International Journal of Educational Research & Social Sciences, 2023),
- Effect of Tarekat Khalwatiyyah-Samman on Fishermen’s Work on the South Coast of South Sulawesi (El Harakah, 2023),
- Ijon Practice by Landowner of Ricefield: Agency-Structure Perspective (Sodality, 2023),
- Interactionism and Social Harmonization in Wonomulyo as the Multiethnic City (Peuradeun, 2024).
Ia juga telah menerbitkan sejumlah buku, antara lain Integrasi Sosial Masyarakat Multietnik (2011), Pembebasan Tanah dan Ganti Rugi (2017), Dinamika Hubungan Pasangan Suami Isteri dalam Perspektif Sosiologi (2023), Integrasi Perantau dengan Masyarakat Lokal (2024), serta Masyarakat dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (2025).
Pengukuhan ini menegaskan posisi Prof. Muhammad Masdar sebagai salah satu akademisi sosiologi politik yang konsisten mengkaji interaksi sosial, integrasi, dan harmonisasi masyarakat multietnik di Indonesia.***


















