BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX Sultanbatara, Prof dr Budu, PhD, SpM(K), MMedEd, mengapresiasi perkembangan Universitas Patompo Makassar. Ia sekaligus mengingatkan tiga persoalan yang dapat membuat perguruan tinggi swasta (PTS) mengalami kemunduran hingga terancam tutup.
Hal itu disampaikan Prof Budu saat memberikan sambutan pada Wisuda Sarjana dan Pascasarjana XXXI Universitas Patompo di Hotel Claro Makassar, Sabtu (31/10/2026).
Di hadapan 271 wisudawan, pimpinan universitas, dosen, dan undangan, Prof Budu menilai Universitas Patompo telah menunjukkan perkembangan positif dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.
Menurutnya, perjalanan pendidikan tinggi yang menjadi cikal bakal Universitas Patompo selama lebih dari tiga dekade memperlihatkan kontribusi lembaga tersebut dalam memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk meraih pendidikan dan mempersiapkan masa depan.
Ia menilai pelaksanaan wisuda menjadi salah satu bukti bahwa Universitas Patompo telah menjalankan proses akademik dan tata kelola perguruan tinggi.
Namun, Prof Budu meminta Universitas Patompo tidak berhenti melakukan pembenahan.
Perguruan tinggi harus terus bertransformasi, meningkatkan kualitas pendidikan, serta mengembangkan program studi yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia kerja.
Prof Budu Ungkap 3 Penyebab PTS Bisa Meredup
Pada sambutannya, Prof Budu mengungkapkan pengalamannya selama sekitar dua bulan menjalankan tugas sebagai Plt Kepala LLDIKTI Wilayah IX.
Ia mencermati kondisi perguruan tinggi swasta di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
Menurutnya, dari sekitar 216 PTS yang menjadi perhatian LLDIKTI IX, terdapat kampus yang berkembang pesat, masih membutuhkan pembinaan, hingga menghadapi persoalan kelembagaan.
Prof Budu mengidentifikasi tiga persoalan utama yang berpotensi menyebabkan perguruan tinggi mengalami kemunduran.
Persoalan pertama adalah konflik internal, terutama antara badan penyelenggara atau yayasan dengan pimpinan perguruan tinggi.
Menurutnya, konflik antara pemilik yayasan dan pengelola kampus merupakan salah satu masalah yang paling sering menghambat perkembangan PTS.
Ketidakharmonisan tersebut dapat memengaruhi pengambilan keputusan, pengelolaan akademik, hingga keberlanjutan perguruan tinggi.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya membangun hubungan kelembagaan yang sehat antara yayasan dan pimpinan universitas.
Persoalan kedua adalah ketidakpatuhan terhadap standar pendidikan tinggi.
Prof Budu menegaskan bahwa seluruh kegiatan akademik dan pengelolaan perguruan tinggi harus mengikuti ketentuan yang berlaku.
Ia mengingatkan agar kampus menjaga integritas akademik, mencegah plagiarisme, serta memastikan penggunaan bantuan pemerintah dilaksanakan secara transparan dan akuntabel.
Pengelolaan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, hibah penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat juga menjadi perhatian.
Menurutnya, sistem pemantauan kementerian semakin mampu mendeteksi ketidaksesuaian dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.
Karena itu, perguruan tinggi tidak boleh mengabaikan standar dan regulasi yang telah ditetapkan.
Minta Universitas Patompo Kembangkan Prodi Adaptif
Persoalan ketiga yang disoroti Prof Budu adalah kegagalan perguruan tinggi melakukan transformasi.
Ia menilai perguruan tinggi yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman berisiko kehilangan daya tarik di tengah masyarakat.
Prof Budu mencontohkan adanya program studi yang berulang kali menerima mahasiswa baru dalam jumlah sangat sedikit, bahkan kurang dari 10 orang.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi pimpinan perguruan tinggi.
Program studi yang terus mengalami penurunan peminat perlu dikaji kembali dari sisi relevansi, kebutuhan masyarakat, dan keberlanjutannya.
Pengelola perguruan tinggi dapat mempertimbangkan penataan, penggabungan, atau penutupan program studi sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia juga mengingatkan agar pembukaan program studi baru tidak dilakukan secara terburu-buru tanpa mengevaluasi program studi yang sudah ada.
Pesan tersebut secara khusus menjadi perhatian bagi Universitas Patompo yang terus mengembangkan layanan pendidikan tinggi.
Saat ini, Universitas Patompo mengelola 11 program studi, terdiri atas sembilan program sarjana dan dua program magister.
Prof Budu berharap Universitas Patompo terus memperkuat tata kelola akademik sekaligus memilih arah pengembangan program studi yang sesuai dengan kebutuhan masa depan.
Prof Budu Ingatkan Pegawai LLDIKTI IX Jangan Hambat Urusan Dosen
Selain menyoroti perkembangan Universitas Patompo dan tantangan PTS, Prof Budu juga menyampaikan pesan kepada jajaran pegawai LLDIKTI Wilayah IX.
Ia menegaskan bahwa LLDIKTI merupakan perpanjangan tangan kementerian yang membidangi pendidikan tinggi di daerah.
Karena itu, keberadaan lembaga tersebut harus memberikan manfaat nyata melalui pelayanan maksimal kepada perguruan tinggi dan seluruh pemangku kepentingan.
Prof Budu secara khusus menyoroti pelayanan administrasi dosen, termasuk pengurusan jabatan fungsional dan sertifikasi dosen.
Ia meminta seluruh pegawai dan staf memberikan pelayanan yang cepat, profesional, dan tidak menghambat proses administrasi.
“Jangan urusan itu mati di kita, LLDIKTI,” kata Prof Budu.
Menurutnya, LLDIKTI harus menjadi lembaga yang membantu perguruan tinggi menyelesaikan berbagai kebutuhan administrasi dan pengembangan akademik.
Pelayanan yang baik dinilai akan mendukung peningkatan mutu perguruan tinggi swasta di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
Pesan untuk 271 Wisudawan Patompo: Jangan Hanya Cari Kerja
Pada kesempatan yang sama, Prof Budu memberikan pesan khusus kepada 271 lulusan Universitas Patompo yang mengikuti prosesi wisuda.
Ia meminta para wisudawan menjaga nama baik almamater setelah menyelesaikan pendidikan dan memasuki kehidupan masyarakat.
Menurutnya, alumni merupakan bagian penting dalam membangun reputasi perguruan tinggi.
Perilaku, prestasi, integritas, dan kontribusi lulusan akan ikut menentukan bagaimana masyarakat menilai kualitas universitas.
Karena itu, para alumni Universitas Patompo diharapkan mampu menunjukkan kompetensi dan karakter yang baik dalam kehidupan profesional maupun sosial.
Prof Budu juga mendorong lulusan agar tidak hanya berpikir untuk mencari pekerjaan setelah memperoleh gelar akademik.
Ia meminta para sarjana dan magister berani mengembangkan usaha kreatif dan mandiri sehingga mampu membuka lapangan kerja.
Menurutnya, lulusan perguruan tinggi harus memiliki keberanian menciptakan peluang ekonomi, termasuk mempekerjakan orang lain dan teman-temannya.
Pesan tersebut sejalan dengan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang tidak hanya berorientasi pada ijazah, tetapi juga kemampuan menghasilkan karya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Universitas Patompo Wisuda 75 Magister
Wisuda XXXI Universitas Patompo diikuti 271 lulusan dari berbagai fakultas dan program pascasarjana.
Wakil Rektor I Universitas Patompo, Dr H Ahmad Hasyim, MSi, sebelumnya menjelaskan bahwa Fakultas Ekonomi menyumbang lulusan terbanyak, yakni 107 orang.
Selanjutnya, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) sebanyak 76 lulusan, Program Magister Pendidikan Ekonomi 75 lulusan, dan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) sebanyak 13 lulusan.
Universitas Patompo saat ini dipimpin Rektor Dr H Muh Yunus, MPd, dan berada di bawah pengelolaan Yayasan Pembangunan Indonesia Makassar.
Perguruan tinggi tersebut terbentuk melalui penggabungan tiga institusi, yakni Institut Sains dan Teknologi Pembangunan Indonesia, STKIP Pembangunan Indonesia, dan STIE Pembangunan Indonesia.
Penggabungan ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 422/E/O/2022 tertanggal 10 Juni 2022.
Dalam momentum wisuda tersebut, Prof Budu berharap Universitas Patompo terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang mampu menjawab tantangan pendidikan masa depan.
Ia menekankan pentingnya menjaga keharmonisan kelembagaan, mematuhi standar pendidikan tinggi, dan terus berinovasi agar perguruan tinggi swasta tetap dipercaya masyarakat.
Bagi para lulusan, Prof Budu berharap ilmu yang diperoleh selama kuliah dapat menjadi bekal untuk berkarya, menjaga nama baik Universitas Patompo, serta menciptakan peluang kerja yang bermanfaat bagi masyarakat. ***


















