BERITASEMBILAN.Com-Takalar. Perkumpulan Penulis Indonesia (SATUPENA) Sulawesi Selatan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut dan Penerbit CV Subaltern Inti Media untuk mendukung pengembangan Desa Moncongkomba sebagai Desa Wisata Sejarah dan Budaya.
Penandatanganan MoU berlangsung di Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, Sabtu (3/1/2026), dirangkaikan dengan peluncuran program Pannyaleori Institut.
Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan, Rusdin Tompo, mengatakan kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen SATUPENA dalam mendukung gerakan literasi yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal.
“SATUPENA Sulawesi Selatan berkomitmen mendukung penguatan literasi, termasuk mengambil peran dalam mewujudkan Desa Moncongkomba sebagai Desa Wisata Sejarah dan Budaya,” ujar Rusdin.
Ia menjelaskan, gagasan tersebut muncul setelah diskusi dengan Prof Dr Hj Kembong Daeng. Dari aspek sejarah, budaya, sumber daya, serta jejaring yang dimiliki, Moncongkomba dinilai sangat potensial dikembangkan sebagai desa wisata berbasis literasi dan budaya.
Desa Moncongkomba merupakan tanah kelahiran Prof Dr Hj Kembong Daeng, Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM). Pada kesempatan yang sama, Pannyaleori Institut menggelar diskusi buku autobiografi Permata Karya yang ditulis Prof Kembong Daeng.
Sebagai penanda peluncuran program, dilakukan penandatanganan MoU antara SATUPENA Sulsel, Pannyaleori Institut, dan Penerbit Subaltern. Acara diawali dengan pembacaan puisi Panggil Aku Daeng karya Rusdin Tompo oleh Dr Fadli Andi Natsif, SH, MH, yang diiringi pansirilik Haeruddin dengan permainan kesok-kesok.
Ketua Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut, Muhammad Fahmi Yahya, SS, menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut.
“Kami berterima kasih atas kolaborasi ini dalam mendukung Pannyaleori Institut dan gerakan literasi di Desa Moncongkomba,” ujarnya.
Ruang lingkup MoU meliputi penguatan literasi sastra, sejarah, dan budaya melalui pelatihan serta pendampingan menulis kreatif, pewarta warga (citizen journalism), serta pendokumentasian dalam bentuk newsletter dan penerbitan buku.
Program ini juga diarahkan untuk menumbuhkan budaya gemar membaca dan menulis, serta mengoptimalkan Perpustakaan Pannyaleori Institut sebagai ruang literasi inklusif dalam mendukung Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.
Direktur Penerbit CV Subaltern Inti Media, Rasmi Safitri, S.Hum, berharap kerja sama tersebut dapat mendorong Takalar menjadi kabupaten literasi.
“Kami memiliki pengalaman mengembangkan program literasi dan penerbitan di Maros. Semoga kolaborasi ini juga memberi dampak positif bagi Takalar,” kata Rasmi.
Diskusi buku menghadirkan Prof Dr Sukardi Weda, Guru Besar UNM; Rusdin Tompo selaku editor; Abdul Jalil Mattewakkang, S.Pd, MH, MM, tokoh literasi Takalar; serta Rosita Desriani, staf FBS UNM dan pegiat literasi SATUPENA.
Sejumlah pihak turut hadir, di antaranya anggota DPRD Kabupaten Takalar, tokoh masyarakat Moncongkomba, aparat desa, penulis, jurnalis, pegiat literasi, dan budayawan. (*)


















