BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Nama Ali Khamenei tak bisa dilepaskan dari perjalanan Republik Islam Iran modern. Selama lebih dari 30 tahun, ia menjadi figur sentral yang menentukan arah politik, militer, hingga kebijakan luar negeri negara tersebut.
Lahir pada 17 Juli 1939 di kota suci Mashhad, Iran timur laut, Khamenei tumbuh dalam keluarga religius. Ayahnya adalah seorang ulama terpandang, sementara ibunya dikenal sebagai sosok yang menanamkan kecintaan pada Al-Qur’an dan sastra kepada anak-anaknya.
Dididik di Lingkungan Ulama
Sejak kecil, Khamenei mengenyam pendidikan agama. Ia menempuh studi teologi di Mashhad sebelum melanjutkan pendidikan ke Najaf (Irak) dan Qom, dua pusat pendidikan Syiah paling berpengaruh.
Di Qom, ia berguru kepada sejumlah ulama besar, termasuk Ruhollah Khomeini, tokoh yang kelak memimpin Revolusi Islam 1979.
Kedekatan dengan Khomeini membentuk karakter ideologis Khamenei. Ia dikenal sebagai pengkhotbah yang vokal menentang pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Aktivismenya membuatnya beberapa kali ditangkap polisi rahasia SAVAK dan diasingkan.
Dari Presiden ke Pemimpin Tertinggi
Setelah Revolusi Islam 1979 menggulingkan monarki Pahlavi, Khamenei masuk lingkaran elite kekuasaan baru Iran. Ia sempat menjabat Menteri Pertahanan dan kemudian menjadi Presiden Iran pada 1981, di tengah perang Iran-Irak.
Pada 1981 pula, ia selamat dari upaya pembunuhan yang menyebabkan lengan kanannya lumpuh permanen.
Titik balik kariernya terjadi pada 1989, ketika Ayatollah Khomeini wafat. Majelis Ahli kemudian menunjuk Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, posisi tertinggi dalam struktur politik-religius negara tersebut.
Sejak saat itu, ia memegang kendali atas militer, kebijakan luar negeri, peradilan, hingga lembaga penyiaran nasional.
Arsitek “Poros Perlawanan”
Di bawah kepemimpinannya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berkembang menjadi kekuatan dominan, tidak hanya dalam militer, tetapi juga ekonomi dan politik.
Khamenei juga dikenal sebagai penggagas konsep “ekonomi perlawanan”, yakni strategi kemandirian nasional untuk menghadapi sanksi Barat.
Ia memperkuat jaringan sekutu regional Iran yang kerap disebut sebagai “poros perlawanan”, mencakup kelompok dan pemerintahan di Lebanon, Suriah, Irak, Yaman, dan Palestina.
Bagi para pendukungnya, Khamenei adalah simbol keteguhan menghadapi tekanan Barat. Namun bagi para kritikus, kebijakannya dinilai memperdalam isolasi internasional dan memperberat beban ekonomi rakyat Iran.
Diuji Gelombang Protes
Sepanjang masa pemerintahannya, Khamenei menghadapi berbagai gelombang protes besar, termasuk Gerakan Hijau 2009, demonstrasi kenaikan harga bahan bakar 2019, hingga protes 2022 terkait hak perempuan.
Dalam setiap krisis, ia menegaskan bahwa Iran harus tetap kuat dan waspada terhadap campur tangan asing.
Sosok yang Tertutup Namun Berpengaruh
Secara personal, Khamenei dikenal sebagai sosok yang sederhana dalam penampilan, gemar membaca sastra Persia, dan memiliki minat pada puisi.
Namun di balik citra religiusnya, ia dipandang sebagai pemimpin strategis yang membangun sistem keamanan berlapis demi menjaga kelangsungan Republik Islam.
Selama lebih dari tiga dekade, Ali Khamenei bukan sekadar figur simbolis, melainkan pengendali utama arah Iran—baik dalam dinamika domestik maupun geopolitik kawasan Timur Tengah.


















