BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Dosen Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Muhammadiyah Sinjai, Andi Liswahyuni, S.Pi., M.Si., mengapresiasi komitmen Aliansi Dosen Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ADPERTISI) dalam menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Nasional secara berkelanjutan.
Apresiasi tersebut disampaikan setelah Andi Liswahyuni mengikuti PKM Nasional ADPERTISI yang dilaksanakan di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Selasa, 30 Juni 2026.
Kepada media Jumat 17 Juli 2026, Andi Liswahyuni mengatakan, PKM Nasional ADPERTISI merupakan program strategis karena menjadi wadah bagi dosen dari berbagai perguruan tinggi swasta di Indonesia untuk mengimplementasikan salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat.
“Saya mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada ADPERTISI yang secara konsisten menyelenggarakan PKM Nasional. Kegiatan ini memberikan ruang kepada dosen untuk menerapkan ilmu pengetahuan sekaligus memberikan solusi nyata terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat,” kata Andi Liswahyuni.
Ia menilai keberlanjutan kegiatan tersebut menunjukkan besarnya komitmen ADPERTISI dalam mempertemukan perguruan tinggi dengan masyarakat, khususnya dalam mendukung pembangunan desa berbasis potensi dan sumber daya lokal.
PKM Nasional ADPERTISI diketahui telah diselenggarakan secara berkala sejak 2018 hingga 2026 di sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan, antara lain Takalar, Gowa, Maros, dan Pangkep.
Kegiatan tersebut juga melibatkan dosen dari berbagai disiplin ilmu dan perguruan tinggi swasta di sejumlah daerah di Indonesia.
“PKM Nasional tidak hanya mempertemukan dosen untuk berbagi ilmu kepada masyarakat, tetapi juga memperkuat kolaborasi antarperguruan tinggi dalam mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa,” ujarnya.
Pada PKM Nasional di Desa Salenrang, Andi Liswahyuni memberikan pelatihan pengolahan hasil perikanan dan pemanfaatan tanaman nipa kepada masyarakat.
Materi pertama yang disampaikan berjudul “Penguatan Kapasitas Kelompok Tani dan Nelayan melalui Pelatihan Pembuatan Brownies Berbahan Dasar Ikan sebagai Produk Kuliner Berbasis Kearifan Lokal dalam Mendukung Pengembangan Desa Wisata.”
Pelatihan tersebut memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa hasil perikanan tidak hanya dapat dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi juga bisa diolah menjadi produk kuliner yang bergizi, memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, dan berpotensi dijadikan oleh-oleh khas Desa Salenrang.
Andi Liswahyuni juga menyampaikan materi mengenai diversifikasi pangan melalui pemanfaatan tanaman nipa atau Nypa fruticans yang tumbuh subur di sepanjang aliran sungai kawasan Rammang-Rammang.
Masyarakat diperkenalkan pada pengolahan buah nipa muda sebagai bahan minuman, buah nipa tua sebagai bahan baku tepung substitusi, serta pemanfaatan umbut nipa sebagai bahan pangan dan sayuran.
Menurutnya, pengolahan ikan dan tanaman nipa dapat mendukung pengembangan produk kuliner khas yang memperkuat identitas Desa Salenrang sebagai kawasan desa wisata.
“Desa Salenrang memiliki potensi wisata alam yang sangat besar, terutama kawasan karst Rammang-Rammang. Potensi wisata tersebut perlu diperkuat dengan produk kuliner khas yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi antusiasme masyarakat selama pelatihan berlangsung. Peserta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan menunjukkan keinginan untuk mencoba mengembangkan produk olahan berbasis sumber daya pesisir.
Selain memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, Andi Liswahyuni menilai PKM Nasional ADPERTISI memiliki nilai akademik karena hasil kegiatan dapat didokumentasikan menjadi artikel ilmiah dan dipublikasikan melalui jurnal pengabdian yang difasilitasi organisasi tersebut.
Dengan demikian, kegiatan pengabdian tidak berhenti pada pelaksanaan di lapangan, tetapi juga menghasilkan luaran akademik yang dapat menjadi referensi bagi pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat di daerah lain.
“Fasilitasi publikasi artikel ilmiah merupakan nilai lebih dari PKM Nasional ADPERTISI. Dosen dapat mendokumentasikan hasil pengabdian sehingga pengalaman dan inovasi yang diperoleh di lapangan dapat dibagikan secara lebih luas,” tuturnya.
Dia berharap ADPERTISI terus mengembangkan jangkauan PKM Nasional dengan melibatkan lebih banyak perguruan tinggi dan desa yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
“Semoga PKM Nasional ADPERTISI terus berkembang, menjangkau lebih banyak desa, melahirkan inovasi berbasis potensi lokal, serta memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mewujudkan desa yang mandiri, produktif, dan berdaya saing,” harap Andi Liswahyuni. ***


















