BERITASEMBILAN.Com-Takalar. Institut Teknologi Pertanian (ITP) menggelar Yudisium Kedua di Aula Kampus ITP, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu (29/8/2026).
Sebanyak 114 mahasiswa dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar sarjana setelah menyelesaikan proses pendidikan selama kurang lebih delapan semester.
Mereka terdiri atas 69 Sarjana Pertanian (S.P.), 12 Sarjana Perikanan (S.Pi.), 13 Sarjana Peternakan (S.Pt.), dan 20 Sarjana Bisnis Digital (S.Bns.).
Yudisium dihadiri pembina dan Ketua Yayasan Global Panrita sebagai badan penyelenggara ITP, rektor, wakil rektor, dosen, serta mahasiswa.
Rektor ITP Dr Irma Andriani mengatakan, kelulusan mahasiswa tidak semata-mata dilihat dari kemampuan menyelesaikan seluruh mata kuliah.
ITP, kata dia, menekankan kemampuan mahasiswa menghasilkan karya dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Penilaian yang kami berikan sangat menekankan pada dampak yang dihasilkan mahasiswa. Kami bangga karena lulusan ITP tidak hanya belajar, tetapi telah menghasilkan inovasi, menjalankan usaha, menyelesaikan persoalan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Irma.
Menurutnya, masing-masing program studi menggunakan dua instrumen utama dalam mengevaluasi mahasiswa sebelum dinyatakan lulus.
Pertama, standar kompetensi lulusan yang diwujudkan melalui Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) program studi.
Kedua, Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi yang turut melihat dampak yang dihasilkan lulusan.
Terapkan Project Based Learning
Wakil Rektor I ITP Bidang Akademik Dr Abdullah mengatakan, proses pendidikan mahasiswa menggunakan pendekatan pembelajaran yang mendorong keterlibatan langsung dalam penyelesaian persoalan.
Dua pendekatan yang diterapkan yakni Project Based Learning (PjBL) dan Evidence Based Learning (EBL).
“Pembelajaran tidak hanya mengandalkan aktivitas di kelas, tetapi menekankan pada praktik di lapangan, penyelesaian persoalan nyata, serta bukti yang dihasilkan mahasiswa,” kata Abdullah.
Implementasi pendekatan tersebut, lanjutnya, dapat dilihat dari aktivitas sejumlah lulusan sebelum menyelesaikan pendidikan.
Ada mahasiswa yang telah mengembangkan usaha di sektor pertanian, membuka jasa konsultan dan jasa servis peralatan elektronik, serta menghasilkan inovasi dalam profesinya sebagai penyuluh pertanian maupun aparat pemerintahan desa.
Aktivitas mahasiswa selama magang dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) juga disebut telah mendapatkan apresiasi dari masyarakat di lokasi penempatan.
Bagi ITP, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran karena mahasiswa berhadapan langsung dengan persoalan di masyarakat.
Arahkan ITP Jadi School of Entrepreneurship
Irma mengatakan orientasi pembelajaran tersebut sejalan dengan pengembangan ITP sebagai School of Entrepreneurship.
Konsep itu diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki orientasi mencari pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.
Lulusan juga didorong mampu menciptakan peluang, membangun usaha, menghasilkan solusi dan inovasi, serta memberikan manfaat kepada masyarakat.
Menurut Irma, orientasi tersebut juga sejalan dengan semangat perguruan tinggi berdampak yang mendorong hasil pendidikan tinggi dapat dirasakan langsung masyarakat.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada jumlah mahasiswa yang lulus.
Kampus juga melihat apa yang dapat dilakukan lulusan dengan ilmu dan kompetensi yang diperoleh selama menjalani pendidikan.
Mahasiswa ITP Datang dari Berbagai Daerah
Ketua Yayasan Global Panrita Dr Nurdin mengapresiasi kinerja rektor dan seluruh sivitas akademika ITP dalam menjalankan proses pendidikan hingga menghasilkan lulusan.
Menurutnya, sejak berdiri pada 2020, ITP terus mengalami perkembangan.
“ITP telah berdiri sejak 2020, dan sejak itu pula mahasiswa terus bertambah, perkuliahan berjalan dengan baik dan akhirnya menghasilkan lulusan yang membanggakan karena lulusannya memberi dampak nyata di masyarakat,” kata Nurdin.
Ia menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama dalam pengembangan sumber daya manusia.
Meski kampus ITP berada di Kabupaten Takalar, kata Nurdin, jangkauan perguruan tinggi tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Takalar.
“Ini karya kita bersama bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Meskipun ITP berlokasi di Takalar, namun tidak ditujukan hanya untuk warga Takalar, tetapi untuk masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Mahasiswa ITP saat ini berasal dari sejumlah kabupaten dan provinsi.
Selain Takalar, mahasiswa datang dari Jeneponto, Sinjai, Gowa, Makassar hingga Sulawesi Barat.
Bahkan, menurut Nurdin, sudah ada calon mahasiswa yang mendaftar dari Pandeglang, Banten.
Keberagaman daerah asal mahasiswa tersebut diharapkan semakin memperluas kontribusi ITP dalam menghasilkan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan potensi daerah masing-masing.
Yudisium 114 sarjana kali ini sekaligus menjadi momentum bagi ITP untuk memperkuat orientasi pendidikan berbasis proyek, kewirausahaan, dan dampak.
Para lulusan diharapkan tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik, tetapi mampu membawa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di kampus untuk menciptakan solusi serta memberikan manfaat di tengah masyarakat. ***


















