BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Sebanyak 54 guru perwakilan dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan mengikuti Training of Trainer (ToT) calon mentor PGRI Power di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Sulsel, Makassar, Jumat (18/9/2026).
Pelatihan ini menjadi bagian dari program PGRI Power: Gerakan Nasional Satu Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI).
Para peserta tidak hanya dilatih memanfaatkan teknologi AI dalam pembelajaran, tetapi juga diarahkan agar mampu merancang AI sendiri sesuai kebutuhan sekolah, mata pelajaran, dan jenjang pendidikan masing-masing.
Dalam pelatihan, peserta antara lain diperkenalkan dengan pemanfaatan Microsoft Copilot sebagai salah satu perangkat berbasis AI yang dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran.
Mentor Nasional PGRI Power, Mansur, S.Pd., mengatakan selama ini sebagian guru masih sebatas memanfaatkan aplikasi AI yang telah dibuat pihak lain.
Melalui PGRI Power, paradigma tersebut ingin dikembangkan. Guru didorong tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu merancang AI yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran.
“Ke depan, setelah mengikuti ToT ini, guru diharapkan bisa memiliki AI sendiri untuk digunakan di sekolah. Jadi tidak hanya menggunakan AI yang dibuat orang lain,” kata Mansur.
Mansur yang juga guru SMP Negeri 2 Pangsid, Sulawesi Selatan, menjelaskan salah satu kelebihan AI yang dirancang sendiri adalah guru dapat menentukan perintah dan batasan sistem sesuai kebutuhan.
“Kalau kita membuat sendiri, kita yang menentukan perintah dan batasannya. Jadi AI tersebut hanya akan memberikan respons sesuai dengan ruang lingkup yang sudah kita tentukan,” jelasnya.
Mansur Buat Met.Mentor AI untuk Matematika
Sebagai guru matematika, Mansur telah mengembangkan Met.Mentor AI, aplikasi yang dirancang khusus untuk mendukung pembelajaran matematika tingkat SMP.
Menurut Mansur, ruang lingkup aplikasi tersebut dibuat secara spesifik. Sistem diarahkan untuk merespons pertanyaan sesuai batasan materi yang telah ditentukan.
Jika digunakan untuk meminta materi matematika di luar jenjang yang menjadi cakupan aplikasi, sistem dirancang agar tidak memberikan jawaban di luar batas tersebut.
Konsep serupa, kata Mansur, dapat dikembangkan oleh guru mata pelajaran lainnya.
Guru Bahasa Indonesia, misalnya, dapat membuat AI yang difokuskan pada pembelajaran Bahasa Indonesia dengan jenjang dan materi tertentu. Demikian pula guru mata pelajaran lain dapat mengembangkan AI berdasarkan kebutuhan pembelajaran masing-masing.
“Jadi masing-masing guru bisa membuat AI sesuai bidangnya. Guru tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi juga memahami bagaimana merancang AI yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran,” katanya.
Target Latih 10 Ribu Guru
Mansur berharap 54 peserta ToT PGRI Power nantinya menjadi mentor di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
Setelah menyelesaikan pelatihan, para peserta diharapkan kembali ke daerah masing-masing dan melakukan diseminasi kepada guru lainnya.
Dengan pola training of trainer, kemampuan memanfaatkan dan merancang AI diharapkan dapat menjangkau lebih banyak guru secara bertahap.
“Untuk tahun ini kita targetkan 10 ribu guru untuk dilatih membuat AI sendiri,” tegas Mansur.
Target tersebut akan dijalankan melalui para mentor PGRI Power yang telah mengikuti ToT.
Setiap kabupaten/kota ditargetkan dapat melatih sekitar 500 guru sehingga pemanfaatan AI tidak hanya terpusat pada guru tertentu, tetapi semakin meluas di sekolah-sekolah di Sulawesi Selatan.
Program tersebut sekaligus diarahkan untuk mendorong guru bergerak dari sekadar pengguna AI menjadi perancang teknologi AI yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran masing-masing.


















