BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Sulawesi Selatan mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim.
Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sharing Session Hari Aksi Iklim Internasional 2026 yang digelar di Lantai 2 Gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Jumat (23/10/2026).
Kegiatan yang diikuti lebih dari 50 peserta ini mengangkat tema “Menumbuhkan Kesadaran Spiritual dan Kepedulian Ekologis untuk Mendukung Mitigasi Perubahan Iklim”.
Kegiatan tersebut terlaksana melalui kolaborasi Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana PWA Sulsel bersama SWSC Unismuh Makassar, Ecobhinneka Muhammadiyah, dan Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel.
Ketua PWA Sulsel, Dr Mahmudah, MHum, hadir sekaligus membuka kegiatan tersebut.
Sementara itu, Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana PWA Sulsel, Prof Dr Hj Erma Suryani, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang mempertemukan berbagai unsur untuk membahas persoalan perubahan iklim.
Erma berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi dilanjutkan dengan langkah nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Alhamdulillah, kegiatan ini bisa berjalan lancar. Harapannya, kegiatan kita tidak berhenti sampai di sini, tetapi yang paling penting adalah bagaimana aksi kita nantinya,” ujar Erma.
Hening Parlan Ajak Kampus Evaluasi Aktivitas Penyebab Perubahan Iklim
Direktur Program Ecobhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, tampil sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut.
Dalam pemaparannya, Hening mengajak peserta meningkatkan kesadaran terhadap berbagai aktivitas manusia yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Menurutnya, kepedulian lingkungan perlu dimulai dari tempat-tempat yang dekat dengan aktivitas masyarakat, termasuk kampus dan lingkungan kerja.
“Di setiap kampus kita, tempat kerja kita, kita seharusnya mengecek apa penyebab perubahan iklim,” ujar Hening.
Ia menilai lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis sekaligus membiasakan perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Karena itu, kampus tidak hanya menjadi tempat penyampaian pengetahuan mengenai perubahan iklim, tetapi juga dapat menjadi ruang penerapan kebiasaan ramah lingkungan.
Hening mendorong peserta untuk memperhatikan kebiasaan sehari-hari yang berpotensi menambah beban lingkungan.
Perubahan perilaku tersebut, menurutnya, dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Kurangi Plastik Sekali Pakai, Biasakan Membawa Tumbler
Dalam kesempatan itu, Hening mengingatkan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim tidak selalu harus dimulai melalui program berskala besar.
Setiap individu dapat mengambil peran melalui perubahan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan membiasakan membawa botol minum sendiri atau tumbler.
“Usahakan semua langkah kita tidak menjadi penyebab panasnya bumi. Contohnya, biasakan menggunakan tumbler, mengusahakan mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai, dan melakukan kegiatan bermanfaat lainnya,” katanya.
Menurut Hening, kebiasaan sederhana tersebut perlu dikembangkan secara berkelanjutan agar menjadi bagian dari budaya hidup masyarakat.
Kesadaran menjaga lingkungan juga perlu diterapkan di lingkungan keluarga, sekolah, perguruan tinggi, tempat kerja, hingga kehidupan sosial masyarakat.
Dengan demikian, upaya menghadapi perubahan iklim tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau organisasi lingkungan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat secara luas.
Aisyiyah Sulsel Dorong Kesadaran Spiritual dan Ekologis
Melalui kegiatan tersebut, PWA Sulsel berupaya memperkuat hubungan antara kesadaran spiritual dan tanggung jawab manusia dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Kepedulian ekologis dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga keberlangsungan kehidupan dan mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi mendatang.
Tema kegiatan yang menghubungkan spiritualitas dan kepedulian ekologis juga menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan berkaitan erat dengan nilai-nilai kehidupan sehari-hari.
Karena itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu perhatian dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Kolaborasi PWA Sulsel bersama SWSC Unismuh Makassar, Ecobhinneka Muhammadiyah, dan Majelis Lingkungan Hidup PWM Sulsel diharapkan dapat memperluas gerakan kepedulian lingkungan.
Kerja sama tersebut sekaligus memperlihatkan keterlibatan organisasi perempuan, perguruan tinggi, dan unsur Muhammadiyah dalam merespons persoalan perubahan iklim.
Harapkan Gerakan Lingkungan Berkelanjutan
Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana PWA Sulsel, Prof Erma Suryani, kembali menekankan pentingnya tindak lanjut setelah kegiatan diskusi.
Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari terselenggaranya forum dan jumlah peserta yang hadir, tetapi juga dari aksi nyata yang dapat dilakukan setelahnya.
Peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh melalui kebiasaan ramah lingkungan di rumah, kampus, dan tempat kerja.
Melalui Sharing Session Hari Aksi Iklim Internasional 2026, Aisyiyah Sulsel bersama para mitra berharap tumbuh kesadaran kolektif untuk menghadapi perubahan iklim.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan yang mendorong masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan melalui tindakan sederhana, konsisten, dan memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.***


















