Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Ragam

Milad ke-33, Pemuda ICMI Sulsel Bahas Bonus Demografi dan Masa Depan Generasi Muda

×

Milad ke-33, Pemuda ICMI Sulsel Bahas Bonus Demografi dan Masa Depan Generasi Muda

Share this article
Example 468x60

BERITASEMBILAN.Com-Makassar. Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Sulawesi Selatan menggelar diskusi publik dalam rangka memperingati Milad ke-33 Pemuda ICMI.

Diskusi bertajuk “Bonus Demografi atau Problematika? Membaca Masa Depan Generasi Muda Sulawesi Selatan” tersebut berlangsung di Warkop Opini, Jl Jipang Raya, Makassar.

Example 300x600

Kegiatan ini membahas peluang dan tantangan bonus demografi di Sulawesi Selatan.

Sejumlah isu menjadi perhatian, mulai dari kualitas sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, pengangguran terdidik, hingga peran strategis generasi muda dalam pembangunan daerah.

Hadir sebagai narasumber, Dr. Irvan Roberto, M.I.Kom., Ketua Pokja Pengelolaan Penduduk BKKBN Perwakilan Sulawesi Selatan sekaligus Wakil Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Sulsel.

Narasumber lainnya yakni Dr. Busman Dahlan Shirat, M.Hum., Manager External Relations and Social Development Program PT Vale Indonesia sekaligus Ketua IKA Sosiologi Unhas.

Diskusi dipandu oleh Dr. Nur Riswandy Marsuki, M.Si., Sekretaris Pemuda ICMI Sulawesi Selatan.

Ketua Pemuda ICMI Sulsel, Dr. Andi Alfian Zainuddin, M.KM., mengatakan Milad ke-33 menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi Pemuda ICMI dalam menjawab tantangan generasi muda.

Menurutnya, organisasi kepemudaan harus hadir sebagai ruang dialog, kaderisasi intelektual, sekaligus penggerak aksi sosial.

Ia menilai bonus demografi tidak cukup dipahami sebagai peluang angka semata.

Bonus demografi harus diikuti kesiapan sumber daya manusia, kolaborasi lintas sektor, dan langkah nyata agar tidak berubah menjadi persoalan sosial baru.

“Milad ke-33 ini menjadi momentum bagi Pemuda ICMI Sulsel untuk memperkuat kontribusi dalam menjawab tantangan generasi muda,” kata Dr. Andi Alfian Zainuddin, M.KM.

Ia menambahkan, ruang dialog seperti ini penting karena mempertemukan perspektif kependudukan, akademisi, dunia usaha, dan gerakan kepemudaan.

Sementara itu, Dr. Irvan Roberto, M.I.Kom., menjelaskan dinamika kependudukan Sulawesi Selatan dalam momentum bonus demografi.

Menurutnya, besarnya proporsi penduduk usia produktif merupakan potensi besar bagi pembangunan daerah.

Namun, potensi itu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, kapasitas sumber daya manusia, dan kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi.

Dari perspektif kependudukan, kata Irvan, tantangan bonus demografi bukan hanya soal banyaknya jumlah penduduk usia produktif.

Hal yang lebih penting adalah bagaimana penduduk usia produktif itu dikembangkan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, produktif, dan berdaya saing.

“Bonus demografi harus dikelola dengan baik. Jika tidak, potensi besar ini dapat berubah menjadi problematika,” ujarnya.

Perspektif lain disampaikan Dr. Busman Dahlan Shirat, M.Hum.

Ia mengajak peserta melihat bonus demografi tidak semata-mata melalui angka ekonomi, tetapi juga dari kondisi sosial dan struktural yang memengaruhi kehidupan generasi muda.

Busman menyoroti persoalan pengangguran terdidik dan pekerjaan rentan.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan ketersediaan pekerjaan formal yang berkualitas.

Ketidaksesuaian kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja dapat mendorong sebagian lulusan masuk ke sektor pekerjaan dengan perlindungan dan jaminan yang terbatas.

Karena itu, ia menilai generasi muda perlu dibekali keterampilan, daya adaptasi, jejaring sosial, dan kemampuan membaca perubahan.

Busman juga menekankan pentingnya penguatan modal sosial, nilai-nilai keislaman, dan kearifan lokal sebagai sumber daya untuk membangun ketahanan masyarakat.

Menurutnya, pemuda dan kalangan akademisi tidak boleh berhenti pada diskusi intelektual semata.

Mereka perlu hadir mengorganisasi, mendampingi, dan memberdayakan komunitas.

“Membaca masa depan Sulawesi Selatan bukan sekadar meramalkan apa yang akan terjadi, tetapi membangun kapasitas dan menggerakkan pemuda melalui tindakan nyata sejak sekarang,” katanya.

Diskusi ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan komunitas lokal.

Pemuda ICMI Sulsel diharapkan terus menjadi ruang kaderisasi intelektual sekaligus penggerak aksi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Pada 2026, Pemuda ICMI genap berusia 33 tahun sejak didirikan pada 8 Oktober 1993.

Sebagai bagian dari agenda organisasi, Pemuda ICMI juga dijadwalkan melaksanakan National Leadership Camp (NLC) dan Muktamar Pemuda ICMI pada 30 Oktober hingga 1 November 2026.

Agenda tersebut direncanakan berlangsung di DPD RI, Senayan, Jakarta, serta BRIN Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Melalui momentum Milad ke-33, Pemuda ICMI Sulsel menegaskan komitmennya untuk terus mengambil peran dalam penguatan generasi muda, pembangunan daerah, dan pengembangan gagasan kebangsaan berbasis ilmu pengetahuan, nilai keislaman, dan kepedulian sosial.***

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *